
"Fi apa kamu sudah lama menunggu.?" Monic segera turun dari mobil setelah sampai di depan kos mereka dulu, dan segera masuk untuk menemui Sofia.
sofia melengos. "ngapain dulu sama si bos, lama bener." Monic yang mendengar itu hanya terkekeh kecil
"Fi kamu kenapa kok mau pindah, jauh bener sampai luar negri. Apa kamu bisa ngimbangi cuaca di sana?"
"tentu. kapan lagi sih aku sampai luar negeri, dan naik pesawat." kelakar Sofia. Tapi sayang Monic bisa melihat kalau ada kesedihan di wajah Sofia.
"kamu tidak bisa bohong sama aku Fi." Monic menggenggam tangan Sofia dengan erat. "Apa kamu tidak berniat menceritakan kepadaku.? Kita bersama 7tahun Fi dan kita sudah sama sama tahu sifat kita masing masing."
Sofia tersenyum dan membalas genggaman tangan Monic. Bukan tidak ingin hanya saja belum bisa cerita sekarang. "tidak sekarang Mon, tapi suatu saat aku akan cerita sama kamu."
Monic langsung berdiri dan memeluk Sofia, Monic tidak akan memaksa, dia akan menunggu sampai Sofia siap cerita.
"sudah, ayo kita berangkat, nanti aku ketinggalan pesawat. Mahal tiketnya." Sofia tidak ingin kepergiannya meninggalkan luka di hati sang sahabat. mereka berdua pun berlalu dari sana..
tidak lama mereka sampai di bandara karena memang jaraknya tidak begitu jauh. "Fi kita akan sering ketemu kan.?"
"tentu. Kalau aku ada uang, aku akan berkunjung ke sini."
__ADS_1
"bilang saja sama aku kalau kamu mau ke sini Fi, nanti aku yang belikan tiketnya."
"ya ya ya yang sudah menjadi bu bos. Dan punya uang yang berjibun."
"hahahah, gak gitu juga. Lagian orang tua Viola orang terkaya di sana. Mana mungkin kamu kekurangan uang."
"heh markonah, yang kaya itu bapaknya Viola, bukan aku, kamu ini ada ada saja." Monic yang medengar itu tertawa terbahak bahak.
"jangan lupa kabari aku selalu ya Fi. Jangan putus komunikasi ya."
"beres..." akhirnya Monic dan Sofia pun berpisah.
Fatih menoleh dan melihat Keyla sudah berada di depan mejanya. "ada apa.? jangan ganggu aku dulu, lagi banyak kerjaan ini. Sana keluar." Keyla tetap tidak bergeming meskipun di usir. Dia justru tersenyum tidak jelas. Fatih yang melihat itu hanya menggeleng dan membiarkan saja.
"kak ayo kita makan siang nanti lagi kerjanya." Keyla menarik tangan Fatih untuk di ajaknya makan siang bersama. Fatih hanya menurut saja dan tidak ada niat untuk menolak. Karena memang Fatih juga sudah sangat lapar.
Kini mereka sudah duduk di Restoran sambil berbincang seperlunya. "kak,"
"hem"
__ADS_1
"kakak itu sudah punya pacar belum.? Kalau belum mau dong jadi pacar kakak." Fatih yang mendengar itu hanya diam saja. "kak."
"apa sih Key, sudah cepat habiskan makananmu." Keyla yang tidak dapat jawaban hanya memberengut.
"tinggal jawab apa susahnya." gumam Keyla yang masih bisa di dengar oleh Fatih. Fatih yang mendengar itu membiarkan saja.
"sayang, ada apa siang siang ke kantor. apa ada yang kau inginkan." Reno beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Sang istri.
"tidak kak, aku hanya ingin mengantar makan siang. Apa kakak sudah makan.? "
"belum sayang, ayo suapi kakak."
"manja, Monic gak mau, kakak makan sendiri saja. Malu kak di lihat orang nanti."
"hey untuk apa malu, Sini." Reno menepuk pahanya agar Monic duduk di pangkuannya. Monic yang merasa malu pura pura tidak dengar.
Reno langsung berdiri dan menuju kursi kebesarannya.
"Kak tunggu, apa kakak marah?"
__ADS_1