
"Tuan, ada apa ya di sini malam malam begini." Sofia merasa heran pada sang bos, untuk apa di kossan yang seperti ini, pikirnya.
"Saya ada perlu dengan temanmu, jadi sebaiknya kamu masuk dulu." Perintah Reno. Sofia segera masuk setelah mendengar titah sang bos.
"Ada apa dengan Reno dan Monic" Sofia berlalu sambil bergumam.
"Ikut aku." Reno menarik tangan Monic dan membawanya kedalam Mobil, "kenapa kamu masih jalan sama Romi, dia itu mantan suami kamu biarlah cukup menjadi mantan." Sungut Reno.
"Sudah jangan marah marah, kamu itu kayak orang cemburu saja. Lagian tadi kami hanya berkunjung ke mansion kak Romi.
"Iya.! Aku memang cemburu.! aku gak suka kamu dekat dekat dengan Romi atau pria manapun.!" Reno mengatakan dengan nada yang menggebu gebu, dan rahang yang mengeras, karena amarah masih menguasainya.
"Ak--"
"Diam.! masalah di kantor tadi, Keyla itu adik sepupuku yang tinggal di amrik dan dia kesini untuk berlibur, jadi cukup kamu tidak perlu lagi memberi alasan karena aku sudah punya wanita lain." Reno langsung menyela ketika melihat Monic akan bicara, karena Reno sudah yakin apa yang akan Monic bantahkan.
Monic hanya mengangguk tanpa berani menatap Reno, Reno yang melihat itu mengulum senyum dan memperbaiki duduknya, tidak lama Reno menstater mobilnya dan menjalankannya.
"Mau kemana, kalau mau pulang aku turun dulu."
"Jangan membantah, sekarang kamu duduk yang tenang dan harus ikut aku." Reno terus melajukan Mobilnya membelah jalanan yang masih padat.
__ADS_1
Monic tidak membantah, Monic hanya duduk sambil melihat jalanan kota yang sangat ramai. Monic langsung menoleh ke samping ketika sebuah tangan menggenggam tangannya. Monic berusaha melepas tangannya, bukannya tidak mau, hanya saja Monic masih canggung dengan keadaan seperti ini.
"Diamlah." Akhirnya Monic membiarkan saja tangannya di genggam Reno
Setengah jam berlalu, Kini mereka berada di depan apartemen mewah, sebuah apartemen yang hanya di miliki kalangan atas saja.
"Apartemen siapa."
"Kita." Reno masuk kedalam apartemennya setelah memasukkan sandinya."sekarang masakan aku makanan, aku akan kembali kesini setelah mandi." Reno segera berlalu dari sana setelah menyuruh Monic memasak untuk menuju kamarnya
Monic hanya melongo mendengar perintah Reno. "Apa dia sudah miskin sehingga harus memasak, kenapa tidak beli saja di luar tadi." Grutu Monic. Tapi Monic tetap saja menuruti keinginan Reno. "Dimana dapurnya, aku bahkan tidak tau letak letak prabotannya. Sungguh unik bahkan aku tidak melihat dapur di tempat semewah ini."
Monic menaiki tangga untuk bertanya di mana dapurnya. Tok...tok...tok "kemana dia, kenapa belum membuka pintu." Monic kembali mengetuk pintu kamar Reno dan masih saja belum di buka. Akhirnya Monic memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Reno. "Mungkin dia masih mandi." Dan benar saja terdengar suara gemericik air dari balik pintu kamar mandi. Monic berjalan santai ke arah kamar mandi Reno untuk bertanya.
"Auww..."
"Hustt, jangan teriak. untuk apa kekamarku, apa kamu coba menggodaku sayang."
"Tidak tidak," sela Monic cepat "aku hanya ingin bertanya di mana dapurnya." Monic menahan nafasnya karena merasakan sensasi yang berlebih di tubuhnya.
"Yakin sayang."
__ADS_1
"I-iya, yakin, essss" ujar Monic gugup. Monic mendesih ketika merasakan sapuan di bagian leher belakangnya. "Ren lepaskan, aku belum memasak, nanti keburu malam."
"Tidak, sebelum kamu mau menikah denganku, ini untuk trakhir kalinya, jika kamu masih menolak, aku berjanji tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu."
"Jangan.." teriak Monic. "Ah maksudku bukan itu, apa ya" monic malah bingung sendiri.
Reno membalikkan tubuh Monic dan langsung ******* habis bibir Monic. Monic yang merasa terlena akhirnya ikut membalas ciuman panas itu. Reno bersorak yes dalam hati ketika Monic membalas ciumannya, itu tandanya rasa mereka berdua masih sama. Ketika tangan Reno hendak masuk di balik baju, tangannya sudah lebih dulu di pegang Monic "jangan..." monic menggeleng.
"Baiklah kali ini aku membiarkanmu sayang, tapi setelah kita menikah jangan harap" Reno memperbaiki baju Monic yang berantakan.
"Emangnya aku mau menikah denganmu."
"Pasti, karena rasa itu masih sama dengan yang dulu." Monic hanya menggeplak lengan Reno.
"Sudah ayo temani aku makan, karena kamu aku jadi kelaparan."
"Kenapa aku," tunjuk Monic pada wajahnya
"Iya lah, karena kamu aku berjam jam di depan kosmu itu"
"Salah sendiri, siapa yang menyuruhmu kesana" Reno yang mendengar itu langsung mendelik tajam dan itu sukses membuat Monic mengalah.
__ADS_1
"Baik baik, aku yang salah. Sudah sana mandi. Aku akan masak."
"Tidak perlu masak, kita makan di luar, tunggu aku mandi sebentar, dan jangan kemana mana tetap di sini. Di kamar ini." Monic hanya mengangguk sambil mendorong Reno untuk segera bersiap.