
"reschedule lagi saja, karena saya tidak ingin meninggalkan istri saya, sekarang kau bisa pergi."
"Baik tuan," sang sekertarispun berlalu dari sana setelah membungkuk hormat. "Beruntung sekali bu Monic, mempunyai suami yang tampan dan begitu mencintainya." Gumam sekertaris Reno.
"auwww, kenapa perutku sakit sekali," Monic terbangun Dari tidurnya ketika merasakan perutnya mulai sakit, ketika terbangun Monic tidak melihat sang suami di dekatnya.
"pasti kak Reno sedang bekerja." Monic mencoba berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tidak lama Monic keluar dari kamar mandi dengan baju yang berbeda. Karena memang Reno sudah menyiapkan baju ganti untuk sang istri.
"ah sepertinya aku memang harus ke rumah sakit. Ini seperti waktu aku mau melahirkan Raka. rasanya hilang timbul."
Monic melihat suaminya yang duduk di kursi kebesarannya dengan memegang berkas di tangannya. Monic mendekat dan langsung bergelayut manja pada sang suami. "apa kakak sangat sibuk.?".
"ada apa sayang. Sebentar lagi selesai."
"Tidak hanya saja aku ingin mengajak kakak ke rumah sakit. Karena perutku mulai sakit kak, seperti kontraksi.
"Apa.!" Reno langsung berdiri dari duduknya, "kenapa kamu tidak bilang dari tadi sayang." Reno bergegas membawa sang istri ke rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang jalan Reno terus mengelus perut sang istri. Dan mencium tangannya. Sedangkan Monic meringis merasakan sakit di perutnya. Dia mencoba tenang agar sang suami tidak panik.
Reno mengotak atik ponselnya. "Tolong siapkan istri saya akan segera menuju kesana."
Ya Reno menelfon pihak rumah sakit kelurganya, agar segera mempersiapkan ruangan untuk sang istri. "Sayang apa masih sakit."
"Sedikit kak," Monic berusaha tersenyum untuk menenangkan sang suami yang terlihat cemas.
"Pah, ayo kita ke rumah sakit, mamah mendapatkan Pesan dari Reno bahwa cucu kita akanĀ seger lahir, mamah sudah tidak sabar pah." Mamah Lidya yang mendengar sang menantu menuju rumah sakit bersama putranya langsung kelimpungan mencari tuan Darmawan.
Nyonya Lidya tidak ingin ketinggalan Moment sang cucu yang akan lahir.
"Hey kesayangan Oma, kemarilah."
Ya Raka baru saja pulang sekolah, dan melihat sang Oma yang hendak pergi dengan opanya.
"Apa Raka tahu, kalau adik Raka akan segera lahir."
"Benarkah Oma, opa.?"
__ADS_1
"Tentu sayang." Tuan Darmawanpun tak kalah antusias dari sang istri.
"Horeeee Raka akan punya adik.bayi, apa Raka boleh ikut oma..?"
"Jangan Sayang, anak kecil tidak boleh masuk RS, nanti kalau adik Raka udah keluar, pasti di bawa pulang kesini, jadi tunggu di rumah saja ya jagoan..?"
"Baik Oma, Opa."
"Ah cucu Oma yang terbaik."
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di rumah Fatih, juga sangat Bahagia mendengsar anaknya akan melahirkan, bukan tidak cemas, hanya saja keluarga Monic yakin kalau dang putri akan baik baik saja.
"Pah, kalau anak kita sudah lahir pasti cucu kita akan tinggal dengan Oma Opanya."
Ya ibu Monic juga ingin menimang cucunya, hanya saja cucunya akan tinggal dengan besannya.
"tidak masalah bu, kan kita masih bisa berkunjung, toh kita sekarang juga tinggal di kota, jadi dekat dengan cucu kita, nanti setelah Fatih menikah dia kan akan membawa istrinya kerumah ini, jadi ibu bisa bermain sepuasnya dengan anak Fatih nanti."
Sedangkan Fatih yang mendengar itu langsung diam membisu. "bahkan aku tidak tahu, dia akan mau denganku seperti dulu atau tidak." batin Fatih.
__ADS_1