
"Bagaimana Jo? Apa kamu sudah mendapatkan hasilnya!? Reno segera duduk di kursi kebesarannya, tanpa menjawab Jonathan menaruh berkas di hadapan Reno sang bos.
Reno segera membukanya. Reno membaca dengan teliti, tak lama Reno mengernyit dahi saat melihat data data Monic.
Reno langsung menatap Jonathan untuk meminta penjelasan. Jo yang mengertipun akhirnya menjelaskan.
"Ya seperti yang kau baca, Monic sudah memiliki anak dan sekarang umurnnya 7tahun, dan dia nikah dengan romi rahardian, tapi Monic kini sudah janda dan hidup di perantauan, anaknya bersama sang nenek di desa." Jo menutup penjelasannya, dan tidak berkometar apapun.
"Jo! Bagaimanapun caranya, pindah Monic ke prusahaan pusat," Reno tak ingin kehilangan jejak Monic lagi. Apapun akan Reno lakukan demi dekat lagi dengan Monic.
"Bagaimana dengan sahatanya? Mereka sudah sepertu perangko, mana mau Monic di pindah tanpa sahabatnya yang ceroboh itu." oh Jo ternyata Jo masih kesal dengan Sofia. Bahkan Jo sendiri yang salah. Dasar Jonathan, orang yang tak pernah mau di salahkan.
"kalau begitu pindahkan juga temannya itu ke prusahaan pusat." putus Reno.
"kau ini lucu sekali, sejak kapan OB pindah tugas yang benar saja." Jo terkekeh mendengar permintaan sang bos. Jika sudah menyangkut masalah hati maka sang bos akan menjadi bodoh.!
__ADS_1
"gue tak peduli apapun caranya, lakukan segera. Bukankah kau sangat ahli dalam hal itu."
Jo hanya mendengus. Siapa yang ingin siapa yang susah, ya begitulah nasib menjadi bawahan. Kapan pun dan dimanapun harus siap jika bos bertitah.
Jo segera malakukan tugasnya. Tak lama Jo berdiri dari tempat duduknya setelah berbincang dengan suruhannya itu.
"Mau kemana kau," tegur Reno yang melihat Jo ingin keluar dari ruangan kerjanya.
"kau ini, ya jelas kembali ke ruangan gue lah, pertanyaan yang aneh" ujar Jo sambil berlalu dari ruangan Reno. Reno hanya melongo melihat kelakuan temannya sekaligus asistennya itu. Tak ada sopan sopannya Main nyelonong saja.
"Ayo Mon kesana," Sofia menunjuk nunjuk ke arah baju yang murah meriah. Sofia yang tak pernah punya teman di prantauwan. sekalinya jadi satu sama sahabatnya lagi slalu ingin tau banyak hal.
Mereka berjalan beriringan ke tempat promo, saat Monic sedang menuju kasir. Tiba tiba ada yang menabrak dari belakang. Orang itu buru buru meminta maaf karna tak sengaja.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja" ujar si penabrak sambil membantu Monic mengambil baju baju yang jatuh. Si penabrak merasa tak enak hati, karna ceroboh ibu itu tak sengaja menabrak Monic.
__ADS_1
Monic tersenyum dan mengambil barang barangnya yang jatuh." gakpapa tante. Tante ada yang sakit?" Monic meneliti tante lidya dari bawah sampai atas. "Jika tante kesusahan bawa barang barangnya, mari saya bantu bawakan tante."
"Ah terimaksih nak, dan maaf sekali lagi, tante jadi ngrepotin nak,,,?"
"Monic tante,"
"ah iya nak Monic."
"Mon!" panggil Sofia, Sofia yang melihat Monic sedang berbincang dengan orang segera menghampiri. Dengan isyarat mata Sofia bertanya.
"Saya tante lidya."
"Ah iya tante, saya Sofia temennya Monic" Sofia berjabah tangan dengan tante lidya, setelah tante lidya manaruh barang bawaannya.
"Fi ayo bantu tante dulu bawa barangnya, sepertinya tante lidya sedang ke susahan." ajak Monic. Sofia hanya mengangguk dan mengabil sebagian barsng baragnya. Monic pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan menuju Mobil tante lidya. Setelah sampai di parkiran lebih tepatnya di dekat mobil tante lidya, mereka menyerahkan barang barangnya kepada sang Supir, mereka berdua langsung pamit untuk pergi, awalnya tante lidya menahan mereka untuk pergi. Tante lidya berencana mengajak mereka berdua makan, tapi mereka beralasan ada acara yang lain.