
"Saya mohon tuan, minta tuan Jonathan untuk tidak memecat teman saya. anda kan atasannya pasti tuan Jonathan mengabulkannya" pinta Monic.
"baiklah, tapi ada syaratnya!"
Deg...
Reno beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Monic yang sedang berdiri.
Monic yang sadar Reno berjalan ke arahnya langsung takut, dia hendak berbalik tapi sayang suara Reno langsung menghentikan langkahnya. "geser sedikit saja saya tidak menjamin masa depan temanmu"
Monic mengangkat kepalanya demi bisa melihat sang pemilik suara, dan tak lama pandangan mereka pun bertemu, tapi Monic segera menunduk karena Monic tidak bisa jika harus betemu pandang dengan sang CEO, hatinya tidak baik baik saja.
"kenapa menunduk, bukannya dulu kamu suka sekali memandang wajah ini? Apa sampai sekrang kamu masih sama jika memandangku akan terbuai seperti dulu." bisik Reno tepat di dekat telinga Monic dari belakang.
__ADS_1
Monic yang dapat bisikan seketika berdesir, Monic benci dengan tubuhnya yang selalu berdesir jika sudah berdekatan dengan Reno.
Monic menggeser sedikit tubuhnya dari Reno, tapi Reno pun ikut bergeser sehingga mereka masih sama tanpa jarak, jas Reno dan seragam kerja Monic bersentuhan. "Maaf tuan bisa menjaga jarak sedikit Karena tidak enak jika ada yang melihat, nanti mereka akan mengira yang tidak tidak." ujar Monic sambil bergeser kembali dari dekat Reno.
Reno malah semakin mendekat hingga Monic sampai disofa, akhirnya Monic hanya diam mematung tanpa bisa bergerak, "terserah saya, ini kan kantor saya, tidak akan ada yang masuk jika tanpa ijin saya" Reno kembali bicara formal agar Monic tidak merasa takut.
"Baik tuan terserah tuan saja, saya kemari hanya ingin membahas teman saya yang asisten anda pecat tuan. Mohon untuk tidak memcatnya tuan." ulang Monic lagi kembali ke topik awal.
Monic meras sesak nafas jika harus seperti ini terus dengan Reno. Monic menarik nafas dalam untuk menetralkan jantungnya. "astaga jantung, kumohon ber sahabatlah denganku untuk saat ini."batin Monic.
"baik tuan, apa syaratnya, semoga saya bisa mengabulkannya." Monic harus segera menyelesaikan pembicaraan ini dan keluar dari ruangan sang CEO.
"Mudah saja. anda cukup mematuhi perintah saya kapanpun dan dimanapun, bagaimana?" bagaimanapun caranya Reno akan membuat Monic berada di sampingnya. Dengan cara baik atau licik sekalipun. Maaf sekali Reno bukan orang sabar yang mau dengan manis membujuk Monic. Karena Reno orang tidak sabaran.
__ADS_1
"Maaf tuan saya di sini hanya OB dan tidak ada yang bisa OB lakukan untuk atasan selain membuatkan Kopi dan membeli makan."
"bisa di bilang salah satunya itu Dan di luar kantorpun anda harus mematuhi saya."
Monic mengangkat kepalanya, "mana mungkin tuan, saya juga punya kehidupan di luar jam kantor," enak saja Monic tidak akan mau jika harus menuruti keinginan sang bos yang tidak masuk akal itu.
"terserah, Pilihan di tangan anda, dan pilihan anda menentukan nasib teman anda itu." Reno berbalik dan berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk kembali di sana. Sambil menaikan kakinya di atas meja sambil bersedepan tangan di depan dada.
Lemas sudah kaki kaki Monic. Kini dia tak ada pilihan lain selain menerimanya, jika Monic yang terancam dia tidak akan menuruti keinginan gila sang bos, tapi ini masalah sang sahabat, selama ini Sofia sudah sangat membantunya, mana mungkin Monic membiarkan sang sahabat dalam masalah.
"hunfff... Baik tuan, saya akan menerima syarat dari anda" akhirnya Monic harus menuruti keinginan sang bos.
"Coba ulangi syarat apa yang saya ajukan tadi." dasar Reno masih saja menguji kesabaran Monic.
__ADS_1
"saya akan menuruti keinginan anda di jam kerja maupun di luar jam kerja" jawab Monic tanpa keraguan. Monic ingin segera pergi dari ruangan itu.