
Sudah 3minggu berlalu, 1 minggu lagi acara perayaan pernikahan Monic dan Reno. Semua orang sibuk dengan acara pernikahan anak konglomerat terkaya di negaranya. Bahkan para kolega bisnisnya sangat bahagia ketika menerima undangan mewah dari keluarga Darmawan, itu tandanya mereka di anggap penting oleh keluarga Darmawan, semua orang tau kalau keluarga Darmawan tidak sembarangan mengundang, Kerajaan bisnis yang sangat sukses ini. Apa lagi yang akan menikah pewaris tunggal Darmawan grup. Tak lupa pula nyonya Lidya yang sedari tadi sibuk dengan telfonnya. Meskipun ada EO tetap saja Nyonya Lidya tidak ingin ketinggalan dengan segala sesuatu yang bersangkutan dengan pernikahan putra tunggalnya.
"Apa mom tidak sakit lutut berdiri terus di situ." Keyla yang melihat Mom Lidya terus berdiri sambil kesana kemari ikut pusing melihatnya, bahkan suara yang cempreng terkenal jelas di gendang telinga Keyla. Dan itu sukses membuat Keyla menggrutu.
Sedangkan di tempat lain.
"Bagaimana?"
Sudah siap semuanya bos, tinggal laksanakan."
"Good. Kamu boleh pergi. Ingat jangan sampai bocor, jika tidak nyawamu jadi taruhannya." Ziko mengibaskan tangannya tanda menyuruh tangan kanannya untuk pergi. "Bagaimana adikku sayang, apa kamu sudah puas?" Kini Ziko menatap pada sang adik.
"Belum, karena nyawanya masih melekat di tubuhnya, dari dulu dia selalu menjadi duri dalam hidupku." Aura permusuhan melekat sempurna di raut wajah seorang Tere anderson.
__ADS_1
"Jangan sampai membunuhnya, cukup memberinya pelajaran saja. setelah ini hentikan semuanya. Hanya kali ini saja aku membantumu dan untuk terakhir kalinya pula. Kau mengerti.! " Tere hanya mengangkat jempolnya tanda setuju.
"Aku bahkan akan membuat hidupnya hancur sampai ke dasar. Mana peduli aku nasehat darimu kak" batin Tere.
"Mah Raka dimana, sedari tadi aku tidak melihatnya. Reno duduk di hadapan sang mamah yang sedang melihat lihat majalan Fashion sambil menyilangkan kakinya.
"Ikut papahmu,"
Reno menarik nafas panjang dan menghembuskan nya, "lihat saja nanti mah, tapi akan Reno usahakan."
"Ya sudah sana segera berangkat ke kantor. Cutinya nanti kalau pernikahan mu kurang dua hari." Reno yang mendengar titah sang mamah hanya melongo.
"Mah walaupun Reno tidak berangkat satu tahun itu tidak akan membuat mamah miskin."
__ADS_1
"Tidak bisa. Kerja ya kerja. Walaupun itu milik sendiri setidaknya kita harus bisa memberi contoh yang baik buat para karyawan."
"Mamah tidak mungkin jadi nyonya Darmawan kalau tidak patuh pada waktu." Grutu Reno sambil beranjak dari duduknya dan berlalu dari sana.
"Hey kemaren seluruh karyawan mendapat undangan pernikahan CEO, nama perempuannya kok kayak OB di sini itu sih" krusak krusuk para karyawan yang sedang membicaran cang bos besar.
"Mana mungkin, kamu ini yang benar saja. Jangan ngomong sembarangan nanti di pecat baru tau rasa kamu. Lagian mana ada OB nikah sama bos. Halu apa gimana, ada ada saja." Mala geleng geleng kepala mendengar penuturan temannya. Gosib kok keterlaluan.
Sedangkan tidak jauh dari sana ada Monic sama Sofia yang mendengar semuanya. Monic yang mendengar itu langsung berkaca kaca. Ini yang tidak di inginkan Monic. Pasti dirinya akan menjadi perbincangan hangat. Meski saling mencintai, buktinya status sosial itu perlu. Karena manusia itu lebih banyak irinya dari pada ikut bahagianya.
"Sudah jangan dengarkan mereka. Toh faktanya memang kamu yang akan menikah dengan tuan Reno bukan." Sofia mencoba membuat Monic untuk tidak terpengaruh dengan omongan orang.
"Mereka ini berpendidikan tapi mulutnya kayak emak emak komplek. Apa mulutnya belum pernah di kasih terasi ya" sungut Sofia dalam hati.
__ADS_1