
"Ehemm... kak, aku akan ke kamar mandi terlebih dahulu ya..." Monic bahkan tidak berani menatap Reno yang ada di depannya. Reno yang melihat Monic terus menunduk gemas sendiri. Ingin rasanya melupat habis bibir yang bergerak sedari tadi.
"Apa tidak ingin mandi bersama." Goda Reno.
Blusss. Monic yang mendengar itu langsung merah pipinya seperti habis makan makanan pedas. Tanpa menjawab Monic langsung bergegas untuk membersihkan tubuhnya.sedangkan Reno sendiri sangat bahagia melihat wajah Monic yang slalu merona ketika di goda oleh Dirinya.
Kini Monic sudah berada di dalam kamar mandi. Monic memandang wajahnya di cermin. Dia tidak menyangka akan sampai di titik ini, dimana dirinya bersatu kembali dengan Reno dalam ikatan pernikahan. "Ini seperti mimpi. Orang yang ingin aku hindari kini justru menjadi suamiku." Monic bergumam sambil melepas riasan kepalnya dan juga menghapus makeupnya.
"Auww, iss kenapa sakit sekali." Monic merasa kepalnya agak terkena hiasan yang ada di kepalanya. Setelahnya Monic berusaha membuka resleteng di belakang punggungnya. "Ini juga kenapa susah sekali. Sepertinya aku harus meminta bantuan kak Reno." Baru akan melangkah tiba tiba ada tangan yang melingkar di pertunya.
"Tidak perlu mencariku, aku di sini sayang..." Reno berkata persis di tengkuk Monic yang terlihat jenjang. Karena rambutnya masih posisi di sanggul. Itulah Monic yang ceroboh. Slalu lupa mengunci kamar mandi
"Kak..." lirih Monic. Karena Reno terus menyusuri tengkuknya dengan bulu halus yang sedikit terlihat di dagunya.
__ADS_1
"Iya sayang." Ujar Reno dengan suara yang serak menahan gairah
"Monic mau bersihin badan dulu kak. Lengket ini badan Monic."
"Nanti saja ya sayang. Kita main dulu." Reno terus menciumi leher Monic dengan sangat bersemangat, tanganya pun tidak tinggal diam. Kedua tangannya bermain di kedua gunung kembar yang begitu menantang itu.
"Kak..." desah Monic. Monic sungguh lemah jika Reno sudah bermain di titik titik sensitifnya. Bahkan Reno sangat tahu dimana letak sensitif yang bisa membuat Monic bergairah.
"Nikmatilah sayang." Reno kembali bermain main di leher Monic. Reno segera membuka gaun Monic dan menjatuhkannya begitu saja di lantai yang masih kering itu. Tangan Reno terus turun dan terus. Tiba tiba Monic menghentikannya.
"Baiklah sayang. Ayo kita mandi dan-"
"Sudah kak jangan di teruskan. Kakak keluar dulu Monic mau mandi dulu." Monic sangat malu jika harus mandi bersama. Meskipun dulu mereka sering malakukannya tapi Monic tetap saja malu karena itu sudah lama.
__ADS_1
"Bersama ya sayang."
"Kak."
"Baiklah baiklah, jangan lama." Reno segera bergegas keluar setelah sekilas mencuri cium di bibir Monic.
Tidak lama Monic sudah keluar dari kamar mandi. Setengah jam Monic habiskan untuk mandi, Monic mengernyit alisnya melihat Reno sudah mandi. "Kakak mandi di mana.?" Setaunya hanya ada satu kamar mandi di sini. Lalu dimana Reno mandi.
"Kamu lupa sayang ini hotel milik siapa." Reno menaik turunkan alisnya melihat Monic yang masih merasa bingung.
"Bukan lupa sih kak. Tapi tidak tahu kalau kakak orang kaya. Baru tahu pas aku kerja di prusahaan kakak." Jelas Monic panjang lebar.
Kini Monic sudah duduk di meja rias dan sedang mengeringkan rambutnya. "Sayang ayolah. Mau sampai kapan kamu pura pura sibuk."
__ADS_1
Monic yang melihat Reno dari pantulan kaca merasa tidak enak hati, karena terus menundanya. Akhirnya Monic mengangguk tanda setuju.