
"Hunfff... Baik tuan, saya akan menerima syarat dari anda" akhirnya Monic harus menuruti keinginan sang bos.
"Coba ulangi syarat apa yang saya ajukan tadi." dasar Reno masih saja menguji kesabaran Monic.
"saya akan menuruti keinginan anda di jam kerja maupun di luar jam kerja" jawab Monic tanpa keraguan. Monic ingin segera pergi dari ruangan itu.
"kalau begitu saya permisi tuan, karena pekerjaan saya masih banyak." Monic berbalik dan berjalan keluar tapi sebelum sampai pintu suara Reno menghentikannya.
"Berikan No ponsel anda, takutnya anda ingkar janji, segera kemari dan catat no ponsel anda disini." Reno mengulurkan ponselnya.
Monic tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri sampai suara Reno kembali menyadarkannya. "segeralah!!."
Monic bergegas mendekat dan mengambil ponsel yang ada di tangan Reno. Setelah mencatat No ponselnya Monic bergegas keluar dari ruangan itu.
Reno hanya menatap punggung Monic yang berjalan keluar dari ruangannya.
"maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini supaya kamu tetap di sisiku, dengan menggunakan temanmu aku yakin kamu tak bisa membantah" batin Reno.
Sepertinya Reno melupakan perihal Cindy. Seenaknya saja memperdaya Monic.
__ADS_1
"Jo keruanganku sekarang" tut.
Sedangkan Jo yang belum menjawab sepatah katapun mengumpat sang bos yang seenaknya menutup telfon. Tapi mau gimana, namanya juga bos bebas kan ya.
Jo segera menuju ruangan sang Tuan yang berada di sebelahnya. "Ada apa,?" Jo mendudukan badannya di sofa sambil menopang siku di pahanya.
"Monic sudah mau menuruti keinginan ku dikantor maupun luar kantor, segeralah urus masalah temannya itu."
"Jangan lupa masalah Cindy Ren, kamu sendiri yang mau memulainya, sebelum Monic tau segeralah akhiri dengan Cindy, atau lupakan Monic. Kecuali kamu berniat hanya akan mempermainkan Monic terserah dirimu saja."
Sebuah bolpen melayang pas kena kepala Jonathan, siapa lagi pelakunya kalau bukan Reno. "Awww." Jo yang melihat si pelaku langsung mendelik.
"Makanya kalau ngomong hati hati, Mana mungkin Monic mau buat mainan Mencari saja hampir 7tahun yang benar saja."
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Masuk.!"
"Tuan," Sofia masuk dan langsung memberi hormat.
"Ehem." Jo berdehem terlebih dahulu sebelum memulai bicara. Jo mulai memasang tampang garangnya di depan Sofia.
"Anda tidak jadi di pecat, dan besok bisa berangkat kerja seperti biasa. Dan~"
"Terima kasih tuan terima kasih. Tanpa sadar Sofia berlari menghampiri Jo dan memegang tangannya dengan senyum senangnya. Jo yang melihat itu langsung mendelik. Dan Sofia yang menyadari tatapan Jo langsung melepas tangannya dan kembali ketempat semula sambil meminta maaf.
"Saya belum selesai bicara kenapa anda langsung memotongnya,!!!" tatapan tajam Jo mampu mebuat Sofia kembali gemetar.
"Maaf tuan, silahkan di lanjut tuan." Ujar Sofia dengan sangat pelan. Sofia takut Jo akan murka lagi padanya. Bisa fatal ini.
"Ada syaratnya. anda harus membersihkan apertemen saya selama 2 bulan tanpa di gaji, hanya akan dapat makan malam saja. Karena anda harus membersihkan apartemen saya setelah pulang kerja jadi saya beri makan malam, anda yang memasak. Sofia yang mendengar hanya melongo. Tapi dia juga tak mungkin membantah.
"Hey malah ngalamun. Apa anda tuli? " bentak Jo.
"Baik tuan, saya setuju asal jangan di pecat tuan." sabar Sofia cepat.
__ADS_1
Jo mengibaskan tangannya tanda menyuruh Sofia keluar. Sofia yang mengertipun langsung menunduk hormat dan keluar dari ruang Jonathan.
"Enak saja memang Reno saja yang bisa memanfaatkan keadaan, aku juga bisa. Lumayan tidak harus keluar uang untuk membayar tukang bersih bersih. Karna sudah waktunnya pulang Jo pun beranjak dari tempat duduknya samb bersiul dan keluar dengan tangan yang ada di saku celananya.