
"Fi kapan kita ke rumah kak Romi. Kemaren kak nita melahirkan. Bahkan aku belum membeli apa apa untuk kak nita." Monic coba mengalihkan keadaan yang membuatnya sakit hati. Karena bagaimanapun Monic juga tidak bisa memberhentikan orang untuk tidak bicara.
"Besok ya, soalnya sebentar lagi kamu di pingit."
"Mana ada di pingit," mereka berdua berlalu dari sana sambil terkekeh bersama. Ya itulah mereka berdua, saling memberi semangat dan saling menghibur.
"Fi di panggil pak Jo,"
"Tapi aku mau makan siang, ini kan sudah jam makan siang, nanti habis makan siang aja kali ya."
"Jangan gitu nanti kamu dapat masalah lagi. Sudah kesana sekarang." Monic mendorong Sofia untuk segera bergegas ke ruangan Jonathan.
"Tuju tahun kamu mengabaikanku, tidak cukup 1 kali aku minta maaf tapi sepertinya kamu masa bodoh. Mungkin ketika kamu sama Cindy aku tidak berani. tapi tidak dengan wanita miskin ini." Tere meremas foto Monic yang berada di tangannya. "Kamu harus merasakan hal yang sama."
Reno merogoh ponsel di saku celananya setelah terdengar suara pesan
My Love.
__ADS_1
Baru membaca pengirimnya saja Reno sudah tersenyum bahagia. Apa lagi kalau ketemu orangnya.
"Kak, aku besok mau ke rumah kak Romi bersama Sofia. Boleh ya. Sekalian mau menjenguk kak nita. Kan baru lahiran."
Reno yang awalnya tersenyum bahagia kini langsung lenyap seketika senyum itu berganti dengan aura tidak suka. "Ah mau melarang baru baikan, kalau di biarkan aku tidak suka." Grutu Reno sambil menggenggam Hpnya dengan kuat.
"Aku boleh ikut ya sayang. aku kan juga mau dekat dengan sahabat calon istriku." Balas Reno, Mana mungkin Reno membiarkan Monic yang notabenya calon istri mau ketemu mantan suaminya, yang benar saja, meskipun mengatas namakan kakak. Bahkan Reno akan sangat cemburu dengan Fatih yang jelas adik kandungnya.
My Love.
"Yes." Tanpa membalas pesan Monic Reno bersorak kegirangan. Bahkan Reno tidak sadar sedang di lihat Jonathan dengan alis yang hampir menyatu.
"Kesambat setan mana.?" Jo bertanya sambil masuk menuju sofa Yang berada di ruangan Reno.
Reno yang baru tersadar langsung menghentikan tingkah Konyolnya. "Ada apa kesini, prasaan aku tidak memanggilmu." Reno berjalan menghampiri Jo yang terlihat tidak tenang.
"Aku sedang frustasi." Jo mulai menceritikan masalahnya pada Reno, meski Jo yakin Reno tidak akan dapat membantunya. Jo hanya ingin bercerita.
__ADS_1
"Jangan sampai menyesal. Rasanya tuh di sini kalau sudah menyesal." Reno menujuk hatinya sendiri. Dan Jo yang melihat itu hanya mengibaskan tangannya.
"Mana mungkin, secara dia bukan siapa siapa dan bukan apa apa. Sudah lah ayo kita pergi" Jo langsung menggeret Reno untuk ikut dengannya.
"Tunggu dulu. Kamu mau memgajakku kemana." Reno langsung menepis tangan Jo yang masih kokoh di lengannya.
"Temani aku sebentar."
"Omaaaaaa," Raka berteriak memanggil sang oma yang baru pulang bersama opanya dari Timezone. "Dimana Oma bik?"
"Di taman belakang tuam muda." Raka yang mendengar jawaban sang bibik langsung berlari mencari keberadaan sang oma di taman. Tidak lama pandangannya melihat sang Oma yang sedang bersantai di saung di tengah tengah bungan yang sangat indah itu.
"Oma..." Raka langsung duduk di pangkuan sang Oma. "Ini untuk Oma, tadi Raka membelinya untuk Oma."
"Apa ini cucu oma yang tampan." Oma Lidya bertanya sambil membuka paper bag yang di berika Raka. "Waw cantik sekali. Siapa yang membelinya sayang.?"
"Raka donk Oma, uangnya saja yang punya Opa." ujar Raka dengan polosnya. Sang opa yang menyusul Raka ke belakang tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Raka. "Kenapa Opa tertawa, opa tanang jika Raka besar nanti uangnya akan Raka ganti, kalau Raka sudah bekerja" Opa dan Omanyapun kembali tertawa.
__ADS_1