KEPEDIHAN

KEPEDIHAN
EPS-50


__ADS_3

Tok...tok...tok..."permisi tuan." Monic masih menunggu jawaban dari dalam. Kini dia tidak akan ceroboh lagi. Monic mengulangi mengetuk pintu ruangan Reno, setelah ada jawaban dari dalam Monic segera masuk. Monic tetap menunduk dan tidak berani melihat ke pemilik ruangan besar ini.


"Apa kamu tidak ingin meminta maaf atas ulahmu ini, yang menumpahkan kopi di ruanganku?"


Monic segera menghampiri sang CEO. Dan dia pun membungkuk sambil meminta maaf


Reno langsung memencet tombol di dekat laci mejanya, tak lama semua ruangan tertutup termasuk tirai yang ada di dalam sana. Monic menoleh ke belakang dan terkejut. Semua tertutup rapat Monic mulai takut. Dia mencari kesana kemari "di mana wanita tadi," batin Monic.


"Emmm maaf tuan saya masih di sini. Saya akan segera keluar jika anda akan segera menutup ruangan ini." Ujar Monic. Monic takut Cindy melihat dirinya di dalam sini. Siapa tau Cindy di kamar mandi pikir Monic 


"Apa kamu cemburu melihatku berciuman tadi.??" Reno tidak menjawab Monic, Reno malah memberi pertanyaan lain terhadap Monic.

__ADS_1


Monic yang di tanya seperti itu glagapan. "Ma-mana mungkin saya cemburu tuan. Itu hak anda,." Ujar monic tanpa memandang Reno.


Reno semakin berjalan mendekat terhadap Monic. Monic pun mundur perlahan. Hingga badannya menempel kepintu ruangan Reno. Reno memegang dagu Monic dan menariknya  untuk menghadapnya.


"Katakan, apa kamu cemburu,?" Ulang Reno masih dengan memegang dagu Monic. Monic berusaha melepas tangan Reno dari wajahnya. Reno tak membiarkan itu. Reno memegang tangan Monic yang satunya dengan tangan kirinya.


"Ti-tidak. Saya tidak cemburu sama sekali kepada anda dengan Nona tadi. Lagian untuk apa saya cemburu, toh saya sudah tidak ada rasa terhadap anda."


"Tuan saya permisi, saya sudah selesai membersihkan tempat anda ini. Dan mohon jaga jarak tuan, saya tidak ingin ada masalah. Nanti tunangan anda salah paham." Reno yang mendengar Monic menyebut kata tunangan langsung berubah masam.


Tapi Reno masih tidak bergeming dari tempatnya. "Mon, ayo menikahlah denganku, aku akan membatalkan pernikahan ini demi kamu, jika kamu mau menikah denganku, dan hidup bersama dengan anak kita."

__ADS_1


"Cukup tuan,!! Raka anakku bukan anak anda, jadi tolong menjauhlah dari hidup kami." Ujar Monic dengan suara tingginya. "Saya mohon biarkan kami tenang dengan hidup kami. Cukup kita punya hubungan di masalalu, sekrang cukup jadi atasan dan bawahan saja." Lanjut Monic dengan lirih.


Monic mendorong tubuh Reno dan bergegas menjauh dari sana. Baru 3langkah Reno sudah memeluknya dari belakang. "Sayang..." suara Reno dengan paraunya, "biarkan aku menebus kesalahanku dimasalalu"


Tes, air mata Monic menetes tanpa di komando, hingga mengenai tangan Reno, Reno yang sadarpun membalikkan badan Monic untuk menghadapnya kembali. Reno mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Monic dan Reno pun segera memeluk Monic dengan erat. Monic menangis dalam pelukan Reno, monic lemah sangat lemah, dia tidak bisa mengendalikan airmatanya. Setelah Monic tenang Reno melepas pelukanya dan menatap intens Monic. Semakin lama wajah Reno semakin mendekat, tidak lama bibir mereka menyatu, desiran panas menjalar di tubuh keduanya, nafas Reno menerpa wajah Monic. getaran dan degupan jantung mereka pun bersautan.  entah siapa yang memulai, yang jelas mereka berdua sama sama terbuai. Tangan Reno mulai menjalar masuk kedalam baju Monic. Ketika tangan Reno mulai naik Monicpun tersadar dan segera melepas tautannya dengan Reno.


"Maaf saya harus segera keluar, tolong bukakan pintunya  tuan" pinta Monic sambil meremat jarinya sendiri untuk menghilangkan kegugupannya.


"Jangan panggil aku tuan. Panggil aku Reno, seperti dulu."


"Maaf saya gak bisa, bagaimanapun kita sudah berlalu, dan itu cukup di masalalu. Tolong mengertilah"

__ADS_1


Tak lama Reno pun memencet tombolnya kembali dan semuanya kembali seperti semula. Monic pun segera berlalu dari sana. Reno yang melihatnya hanya bisa menatap nanar kepergian Monic.


__ADS_2