
empat bulan berlalu, Monic kini semakin membaik dan sedang menunggu hari kelahiran sang buah hati.
Semenjak terjadinya kecelakaan itu, kedua orang tua Monic tinggal di kota bersama sang putra Fatih, Fatihpun kini tidak lagi tinggal di apartemen, akan tetapi tinggal di sebuah rumah yang cukup besar.
"bos, besok kita ada perjalanan bisnis ke jepang," Reno hanya mendengar tanpa berniat menjawab perkataan Jonathan. Kini dia sedang fokus melihat lihat nama yang bagus buat kedua buah hatinya.
Jo yang di cuekin pun tidak peduli, toh dia hanya ingin memberi tahu.
"Ren apa kamu tahu di mana sahabat istrimu itu. Si croboh itu." ya Jonathan selalu memikirkan Sofia sahabat Monic. Semenjak kepergiannya semua berubah, dia merasa ada yang hilang dalam hidupnya.
"untuk apa kau menanyakannya, dia pergi ke tempat keponakannya dan menetap di sana."
Yang Reno tahu hanya sebatas itu, karena Reno memang tidak pernah peduli dengan urusan pribadi seseorang.
"hanya bertanya." Jonathan beranjak dari rebahannya dan bergegas keluar dari sana, mana mungkin seorang Jo mau cerita yang sebenarnya pada Reno, bisa habis di ejek dia nanti sama Sahabatnya itu jika tahu dirinya merindukan si mata empatnya.
"mah..." mamah Lidya menoleh kebelakang dan tersenyum pada sang menantu yang berjalan menghampirinya
"sepertinya mamah sangat sibuk." goda Monic.
"tentu sayang, mamah sedang mendekor semua ini untuk cucu cucu Oma." ya kini oma Lidya sedang mendekor kamar cucu kembarnya.
"awwww mah perut Monic sakit mah..." Monic tiba tiba merasakan sakit di perutnya. Monic mencoba menarik nafas dan menghembuskannya untuk mengurangi rasa sakitnya.
"mana yang sakit sayang. Apa jangan jangan kamu mau melahirkan nak." mamah Lidya terlihat panik dan mencoba memegang perut sang menantu, siapa tahu sakitnya berkurang pikirnya.
Kata orang tua jaman dulu, kalau perut ibu hamil sakit, cobalah untuk mengelusnya agar si bayi tenang. Dan sakitnya berkurang.
"HPLnya masih 2minggu lagi mah, masih lama, mumgkin ini hanya mules biasa mah. Ini sudah gak sakit kok mah." Monic mulai merasa nyaman kembali dan tidak merasa mulas.
__ADS_1
"apa kita perlu ke dokter nak, takut kenapa napa sama kandunganmu." mamah Lidya masih merasa ceman, takut terjadi sesuatu sama calon cucu dan menantunya. Setidaknya kalau di bawa ke rumah sakit bisa tahu sakit karena apa. Pikirnya
"nanti kalau sakit lagi Monic akan ke dokter mah. Mamah tenang lah." Monic mulai tersenyum agas sang mamah mertuanya tidak cemas seperti ini.
"baiklah, tapi kalau sakit lagi segera beri tahu mamah ya nak."
"Tentu mah." kini mereka berdua sedang berjalan keluar dari kamar calon cucu Oma Lidya, dengan tangan Monic yang di genggam oleh sang mertua.
"mah Nanti siang Monic akan ke kantor kak Reno ya mah. Sekalian membawa makan siang."
"boleh. Tapi hati hati ya, karena kandungan kamu sudah sangat besar."
"baik mah. Makasih mah." Monic bergegas untuk bersiap. Karena telah di ijinkan untuk peegi, setelah sekian lama di rumah, ini kali pertama dia akan kembali keluar.
Sebuah Mobil mewah keluar dari mansion Darmawan dan menjadi satu dengan mobil lain yang berada di jalan. Monic terus tersenyum sepanjang jalan, karena dia akan memberikan kejutan pada sang suami.
Ya ibu hamil itu selalu merasa ragu, cemas, dan kurang percaya diri. Bahasa kerennya insecure.
Dia berjalan masuk dengan tersenyum ramah pada semua orang yang menunduk hormat padanya.
Monic membuka pintu ruangan sang suami dengan sangat pelan. Setelah sekertarisnya bilang bahwa sang suami ada di dalam.
Monic kini sudah berada di dalam ruangan sang suami dan melihat suaminya yang sedang sangat fokus dengan laptop di depannya, tanpa menyadari sang istri yang berada di dalam ruangannya.
"sepertinya aku di duakan nih dengan pekerjaan yang berjibun." kelakar Monic. Reno langsung mengangkat wajahnya mendengar suara sang istri yang berada di sana.
"sayang... Kamu di sini, sama siapa, kenapa tidak mengabariku, aku kan bisa menjemputmu di bawah sayang, kalau kamu kenapa napa bagaimana nanti. Kamu tahu kan aku masih sangat takut dengan kejadian waktu itu."
Ya, Reno terus mengomel dengan berjalan cepat menghampiri sang istri. karena merasa takut dengan kejadian yang menimpa sang istri 8bulan yang lalu, dia bahkan tidak mengijinkan istrinya keluar rumah, wajar saja Reno melakukan itu, karena tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada sang istri.
__ADS_1
"kak, aku baik baik saja, apa kakak tidak mau memelukku, aku sudah sangat merindukan kakak lho, makanya aku kesini." Monic paham betul dengan sifat suaminya, jika sudah mengomel tidak akan berhenti jika tidak di sela dan mengalihkan pembicaraannya.
"kamu selalu seperti ini sayang. Kemarilah." Reno merentangkan tangannya dan Monic langsung menghambur kepelukan sang suami.
"sayang. Yuk kita ke sana." Reno mengerlingkan matanya pada sang istri, istrinya yang sadar kemana arah pandang sang suami pun langsung paham.
"baiklah sayang." Monic langsung merasa malu setelah menyebut sang suami dengan sebutan sayang.
"ulangi sayang. Kakak tidak dengar." Reno langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar sang istri menyebutnya sayang untuk pertama kalinya.
"sudah ah, ayo." Monic langsung berjalan cepat demi bisa menghindar dari sang suami. Dia benar benar malu pada suaminya itu.
"sepertinya kamu sudah tidak sabar sayang..." goda Reno. "Hey! Pelan sayang jalannya." Reno segera menyusul Monic karena melihat sang istri yang setengah berlari menuju kamar pribadi yang ada di ruangan Reno.
"kamu ini, jangan lari begitu lagi, kalau jatuh bagaimana." Reno langsung menggendong sang istri yang sudah hampir sampai, di pintu.
ya Reno merasa jantungnya mau lepas melihat istrinya yang hampir menabrak Sofa.
"iya kak, maafkan Monic ya kak." Monic mengalungkan tangannya di leher Reno dan mencium bibir sang suami dengan penuh cinta. Agar suaminya ini berhenti marah marah.
"kakak akan memaafkan mu setelah kita bermain." Monic yang mendengar itu langsung tersenyum senang. entah kenapa semenjak kehamilan yang ini dia selalu ingin melakukan hubungan intim dengan sang suami. Bahkan terkadang Monic yang memulainya.
"siap pak bos. Aku yang akan memimpin permainan."
Mendengar perkataan Monic Reno langsung sumringah. Mereka kini sedang memulai permainanya dengan Monic yang berada di atas.
"akhirnya kamu kelelahan sayang," Reno mencium bibir sang istri sekilas dan beranjak dari tidurnya untuk membersihkan diri. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak sang istri pulang.
"pak nanti jam 2 ada meeting dengan pak handoko." sekertaris Reno memberi tahu sang bos jika ada Meeting, sedari tadi dia sudah menunggu sang bos untuk menyampaikan hal ini, tapi pintunya tidak kunjung terbuka.
__ADS_1