KEPEDIHAN

KEPEDIHAN
EPS-72


__ADS_3

"Cari tahu tentang ini. Aku beri kamu waktu sampai nanti siang," Ziko memberikan berkas itu kepada sahabatnya sekaligus tangan kanannya.


"Kenapa tidak tanya langsung sama Tere sih Ko. Susah sekali sampai harus mencari tahu." Jay duduk di sepan Ziko sambil meminum kopi milik sang bos


"Hey itu kopiku,! Kenapa kamu minum, dan ya, kamu tau sendiri Tere seperti apa" Ziko melempar bolpen yang ada di tangannya sampai mengenai kepala Jay.


"Sial kau ini Ko, hanya kopi saja jadi masalah untukmu, belum wanitamu yang aku ambil." Sungut Jay sambil mengusap kepalanya yang terkena bolpen.


"Hahha kau bicara soal wanita. Bahkan aku lebih Rela jika kamu mengambil wanitaku dari pada kopiku. Aku sama sekali tidak percaya wanita ataupun cinta."


"Awas ketulak kau nanti. Pas cinta cintanya di tinggal. Tau rasa kamu." Cemooh Jay dengan bibir terangkat sebelah. "Kau itu sudah tua cobalah mencari pacar. Enak tau punya pacar itu. Ada yang merhatiin" Jay gemas dengan cara berfikir Ziko yang menganggap semua wanita itu gampangan dan tidak punya harga diri. Padahal tidak semua wanita seperti itu.

__ADS_1


"Sudah sana keluar, lakukan tugasmu. Jangan membahas hal yang tidak penting." Ziko mengibaskan tangannya tanda mengusir Jay. Jay yang melihat itu langsung berlari keluar setelah melempar rematan kertas seperti bola dan melepas pas di wajah Ziko. "Sial, awas kau Jay dungu,!!" Teriak Ziko. Sedangkan Jay yang mendengar teriakan Ziko hanya terbahak bahak di luar. Ya Ziko akan selalu berdebat dengan Jay jika sudah duduk bersama. Ziko yang slalu serius dan Jay yang pecicilan.


"Dasar Ziko adik gila saja di urusin. Aku bahkan akan membiarkan kalau dia tenggelam." Umpat Jay setelah sampai di dalam mobilnya untuk menjalani tugas dari sang bos ketua.


Ting


"jangan mengumpatku." Jay langsung mendelik setelah membaca pesan Ziko


"Ren sini sayang." Mamah Lidya melambaikan tangannya setelah melihat Reno melintas di depannya


"Iya mah, pada kemana kok sepi mah."

__ADS_1


"Pada ke salon. Ren mamah pengennya kalau kamu sudah nikah tinggal di sini ya. Mamah sama papah kan kesepian nak." Dari awal mamah Lidya memang inginnya anak semata wayangnya tinggal bersama dia dan sang suami. Karena bagaimanapun Reno anak tunggal dan penerus keluarga besar darmawan.


"Kalau itu terserah Monic mah. Reno tidak ingin memaksa Monic. Tapi nanti Reno coba bicara sama Monic. Kalau begitu Reno keatas dulu ya mah. Biar besok fit." Reno berkelakar sambul menaik turunkan alisnya. Sang mamah hanya tersenyum sambil menepuk punda sang anak.


"Sayang." Mamah Lidya menoleh setelah mendengar suara tuan Darmawan yang memanggilnya.


"Dimana Raka pah."


"Sedang bermain dengan para sepupu Reno di taman belakang." Tuan Darmawan merangkul sang istri yang sedang duduk santai. "Mah kalau Reno sudah menikah, kita berlibur yuk ke italia sekalian mengunjungi rumah nenek di sana."


"Baiklah, mamah ikut kemanapun papah mengajak Mamah." Mamah Lidya pun bersandar di pundak sang suami sambil mengelus tangan yang berada di pundaknya.

__ADS_1


"tolong jangan bersikap seperti ini, aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku tau aku salah. Jadi kumohon maafkan lah aku." Jo merasa terganggu dengan sikap Sofia yang menurutnya sangat acuh. Kemana sikap galaknya dan jailnya. Kenapa lenyap seketika sejak kejadian itu. Pikir Jonathan. Sikapnya dingin tak tersentuh.


__ADS_2