
Monic mengusap airmatanya yang menetes tanpa di sadari. "Hey kamu kenapa?" Ujar siska teman Monic bekerja. "Aku gak papa kok, duluan ya mau nganter kopi keruangan CEO." Kini Monic berjalan ke arah ruangan sang CEO. Tok...tok...tok...
Seperti biasa tanpa menunggu jawaban dari dalam, Monic langsung masuk. Ketika membuka pintu betapa terkejutnya Monic melihat pemandangan di depannya. Kopi yang di tangannya langsung ter jatuh. Dan suaranya sukses membuat kedua insan yang sedang berciuman langsung melepas tautan bibirnya. "Maaf saya tidak tau, kalau begitu saya permisi." Monic menunduk hormat dan segera berlalu dari sana. Hatinya begitu sakit melihat pemandangan tadi. Tapi Monic juga tidak bisa menyalakan Reno, ini pilihannya sendiri. Tapi tetap saja sakit.
Di lain sisi Reno langsung menghempaskan Cindy yang tiba tiba ******* bibirnya. Sungguh Reno sangat takut Monic kecewa padanya. Padahal sudah sangat jelas dua hari lagi Reno dan Cindy akan menikah. Tapi Reno masih gamang dengan pilihannya sendiri. "Keluar lah Cin, saya sedang sibuk." Pinta Reno baik baik pada Cindy. Karena bagaimana pun mereka akan menikah,Reno harus bisa mengontrol emosinya.
Cindy yang mendengar Reno menyuruhnya keluar hanya mendengus dengan menghentakkan kakinya, "aku tidak mau keluar. Lagian kenapa sih Ren, kita sebentar lagi menikah lho. Aku juga tidak akan mengganggumu." Jawab Cindy sambil berjalan menuju Sofa dan mendudukinya.
"Cin, jangan memancing amarahku,!" Tangan Reno terkepal erat agar tidak sampai kasar Pada Cindy.
Cindy yang di bentakpun akhirnya berjalan keluar sambil menggrutu. "Ini semua gara gara OB sialan itu, andai dia tidak datang maka Reno akan terbuai denganku, awas kalau sampai aku melihatnya lagi." Umpat Cindy.
__ADS_1
Monic kini sedang membuatkan ulang kopi sang CEO, tapi bukan Monic yang mengantar. Melainkan temannya siska, Monic tidak ingin melihat Cindy atau Reno, jantungnya masih belum baik baik saja.
"Sis, tolong dong antarkan kopi ini ke ruangan CEO." Pinta Monic dengan rawut melasnya.
"Kamu aja lah Mon. Biasanya kan setiap hari juga kamu."
"Pleasee. Aku sedang mau ke toilet."
"Permisi pak, saya mau mengantarkan Kopi," siska berjalan mendekat dan menaruh kopi di meja kebesaran sang CEO, setelah menaruh Kopinya siska pun pamit keluar.
"Tunggu!!" Siska pun berhenti ketika mendengar suara sang CEO. "Suruh OB yang tadi membersihkan tumpahan Kopi itu, karena dia yang menumpahkannya." Perintah Reno.
__ADS_1
"Baik pak." Siska segera berlalu dari sana. Dan kembali lagi untuk menemui Monic. "Kamu di suruh membersihkan tumpahan Kopi oleh bos Mon."
"Kamu aja ya sis,"
"Bos menyuruh yang menumpahkan Mon, jadi aku gak bisa bantah" ujar siska sambil berlalu dari sana.
Huff Monic hanya bisa menghela nafas. "Ayo Mon semangat," Monic menyemangati dirinya sendiri. "jantung kumohon baik baik ya." Lanjut Monic lagi.
Kini Monic sedang berjalan menuju ruangan sang CEO. Monic berjalan sangat pelan. Sambil mentralkan suhu tubuhnya.
Tok...tok...tok..."permisi tuan." Monic masih menunggu jawaban dari dalam. Kini dia tidak akan ceroboh lagi. Monic mengulangi mengetuk pintu ruangan Reno, setelah ada jawaban dari dalam Monic segera masuk. Monic tetap menunduk dan tidak berani melihat ke pemilik ruangan besar ini.
__ADS_1