
Reno berdiri tegak dengan memakai kaos polos berwarna Hitam, dan celana denim yang melekat indah di tubuh atlentisnya di depan sebuah mansion megah. "Aku harus bisa menyelesaikan masalhku baik baik dengan keluarga tante Novi" gumam Reno sambil berjalan menuju ke pintu megah mansion keluarga Cindy.
Tok...tok...tok.
Tidak lama pintu terbuka, keluarlah ART yang bekerja di sana membukakan pintu.
"Den Reno, silahkan masuk Den." Sapa ART, Sang ART membuka pintu lebar lebar untuk mempersilahkan calon suami sang Nona masuk.
"Reno hanya mengangguk dan berjalan menuju ruang Tamu, Reno menatap tanpa arah di ruangan luas dan megah itu. Dia siap mendapatkan amukan dari kelaurga Cindy. Pernikahan tinggal lusa dan Reno aKan membatalkannya jadi tentu saja Keluarga Cindy akan murka. Tapi Reno tidak bisa mundur lagi, lebih baik malu sekarang dari pada nanti menyesal seumur hidup.
Bukannya apa, kalaupun akan jadi menikah dengan Cindy, pernikahannya sudah di pastikan tidak akan bahagia, karena hatinya sudah dimiliki wanita lain.
Tidak lama kedua orang tua Cindy menuruni tangga. Reno yang melihat itu langaung berdiri
"Om, tante." Reno menyalami kedua orang tua Cindy dengan hormat dan sopan.
__ADS_1
"Reno ada apa, pagi pagi sekali kamu kesini, tante sudah di beri tahu mamahmu kalau kamu akan kesini, ada hal pentingkah?"
"Iya Ren. Apa ada yang ingin kamu rubah dengan dekorasi pernikahanmu dan Cindy?" Sambung tuan mahendra.
"Iya Om, tante, ini ada kaitannya dengan pernikahan kami, apa Cindy juga di rum-"
"Hay Ren, kamu disini, pernikahan kita sebentar lagi lo, apa kamu sudah tidak sabar ingin bertemu denganku" belum Reno slesai bicara, Cindy sudah terlebih dahulu menuruni tangga untuk menemui calon suami, Reno yang melihat tingkah Cindy hanya menggeram kesal. Tapi Reno tidak bisa membentak Cindy karena ada kedua orang tua Cindy.
Orang tua Cindy yang melihat tingkah manja Cindy hanya menggeleng sambil terkekeh. "Ada apa nak Reno" timpal tuan mahendra. "Apa ada yang penting sampai harus kesini langsung, kenapa tidak lewat telfon saja" lanjut tuan mahendra lagi.
"Om, tante dan kamu Cindy. Aku mohon maaf atas apa yang akan aku sampaikan ini terlebih dahulu.
Reno berheti sesaat. Reno menatap bergantian kedua orang tua Cindy. Kedua orang tua Cindy heran melihat raut wajah Reno yang aneh.
"Katakan Ren." Tuan mahendra memulai pembicaraan ketika melihat wajah Reno yang seperti susah untuk menyampaikan.
__ADS_1
"Om, tante, saya memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini." Akhirnya Reno bisa mengatakannya dengan segala pertimbangan dan pemikiran yang benar benar sudah yakin.
Cindy membelalak matanya, dan kedua orang tua Cindy yang mendengar itu langsung lemas seketika memdengar penuturan dari calon menantu yang 2hari lagi akan menjadi menantunya.
"Ren, kamu jangan main main Ren.ini tidak lucu!!" Cindy meradang menahan amarah di hatinya. Mendengar penuturan Reno. Matanya mulai memerah.
"Iya Reno, kalian sudah bertunangan dan 2hari lagi kalian akan menikah, kenapa tiba tiba membatalkan semuanya." Suara bariton dari tuan mahendra menggelegar di seluruh ruangan tamu di sana. Reno tetap berusaha tenang, karena ini memang harus iya lakukan.
"Maafkan saya Om. Saya benar benar tidak bisa meneruskan pernikahan ini, karena saya tidak bisa mencintai Cindy walaupun sudah berkali kali mencobanya."
"Seenteng itu kamu meminta maaf, apa kamu tidak berpikir dampak dari semua ini,!! dua hari Reno dua hari!!!" Tunjuk tuan mahendra di depan Reno dengan 2 jarinya. "Kenapa tidak dari awal Reno kenapa" bentak tuan mahendra lagi. Reno hanya diam saja, karena memang dia yang salah .
"Aku tidak mau Reno, pokoknya aku tidak mau jika kita harus batal menikah." Teriak Cindy dan berlari dari sana menuju kamarnya.
Duarrrr suara pintu Cindy di banting dengan sangat keras hingga tuan mahendra menatap tajam Reno yang sudah membuat putrinya sakit hati.
__ADS_1