Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 15


__ADS_3

Sepekan setelah pembunuhan di markas kelabang hutan


Di kamar sebuah losmen, Raka terbangun kesiangan, ia mengusap kedua matanya sisa kantuk semalam. Dengan rasa malas Raka menyeret langkahnya yg lunglai membuka jendela, Dan...


(Duuaarrr...!!!!)


Seperti petir yg menyambar, Tatapan Raka yang biasa tenang kali ini raut mukanya terkesiap. ada rasa cekat di tenggorakannya. lututnya bak di hantam godam. rasa terkejut itu tak mampu lagi ia simpan.


Ada gemetar di dadanya menahan suatu desiran, tatkala pandangannya membentur dengan tatapan seseorang yg berdiri dibalkon sebuah gedung yg berjarak 10 meter diseberang losmen. Di sana berdiri seorang gadis dengan kunciran kecil pada rambutnya. Dengan cepat Raka menutup jendelanya kembali, Raka mencoba memahami keadaan, keningnya berkerut berpikir. tapi alam sadarnya merayu untuk mengintip. Perlahan ia menyorongkan kepalanya kedepan. Ia berusaha melihat disela celah jendela. Raka hanya ingin memastikan apa yg ia liat bukan ilusi. Di gedung seberang sana Raka melihat Dua punggung melewati pintu balkon lalu lenyap dibalik dinding.


pada sisi Ayandaru.


Hari itu Ayandaru memang ingin berkunjung ke gedung komite, sebuah bangunan yang pernah mengantarnya menjadi TELADAN, sebutan untuk sang juara turnamen pesilat antar benua. Apalagi sekarang Andini menjadi salah satu anggota komite dengan jabatan kepala adminitrasi. Sebuah jabatan mentereng yang banyak diperebutkan.


Andini tidak mendapatkan jabatan itu hasil dari pengaruh ayahnya yang punya banyak koneksi dilingkungan kekaisaran, juga bukan berasal dari penyuapan karena klan keluarganya yg kaya raya. Selain cantik Andini memiliki kecerdasan dan minat yg tinggi terhadap ilmu pemerintahan. Andini seorang gadis terpelajar dgn cita~cita menjadi hakim. Sebuah tujuan yg membuatnya ambisius untuk belajar.

__ADS_1


Ayandaru mendatangi gedung komite ketika matahari mulai diatas kepala, mengingat kesibukan gedung itu di pagi hari sangat ramai. lagi pula Andini mmg memintanya bertemu agak siang karena ingin mentraktinya makan siang.


Sampailah Ayandaru digedung komite yg tak berapa jauh dari hotel. sambil berjalan perlahan melintasi halaman gedung tersebut, Ingatannya kembali beberapa tahun yg lalu, Ia tersenyum bangga mengingat semuanya.


Didepan pintu dua orang menyambutnya dgn ramah


* selamat siang teladan


keduanya serentak menjura hormat yg dibalas Ayandaru dengan sikap yg sama sambil tersenyum, lesung pipit yg bersarang dipipinya menambah pesona kecantikannya. Paras ayandaru memang unik. Wajahnya tak memberi letih untuk dipandang, ekpresi mukanya selalu menggemaskan dengan mata sendu dikelilingi bulu mata yang lentik.


Sstttttss...


sebuah suara kecil memberi tanda, ternyata Andini yg berada dilantai dua. Andini mengubit tangannya dengan gerakan kecil memanggil. Ayandaru pun bergegas naik keatas.


* sebentar ya ay, aku hantar dulu surat ini keruangan kepala komite. Kamu tunggu dulu dibalkon samping ya?

__ADS_1


andini menjelaskan sambil menunjuk sebuah pintu yg menuju balkon.


* buruan, aku sudah lapar


sahut ayandaru sambil mengelus2 perutnya diantara berlalunya Andini menyusuri keridor menuju ruangan paling ujung seiring langkah ayandaru pula menuju pintu balkon.


Dibalkon lantai dua terbut Ayandaru mendapati pemandangan yg cukup asri. Dibawahnya terlihat beberapa org yg sedang duduk dan berlalu lalang. Sedangkan di sekitar gedung komite terdapat bangunan yg cukup rapat.


Tapi ada satu bangunan yg berbentuk unik mengundang perhatian Ayandaru, Gedung itu ada bersebelahan dengan gedung komite. Diatas puncak atap gedung itu terlihat ada mainan berbentuk burung yg berputar kala diterpa angin.


Dengan kepala yg miring ke kiri dan ke kanan ayandaru mengikuti pola ukiran yg menghiasi sudut bangunan itu. namun ada yg gambar yg menarik pada salah satu jendela. Ia mengamati pola gambar tersebut yg seperti mirip segitiga yg agak bulat dengan ujung bawahnya runcing. sedangkan sisi atasnya garis itu melengkung setengah lingkaran dengan bagian tengah garis itu mengerucut kebawah. Pola itu dilapisi warna merah yg tidak terang.


Tiba2 jendela tersebut terbuka di mana di baliknya tersembul wajah seseorang. Ayandaru melongo melihat sosok itu. Ekpresi mukanya tak dapat menyembunyikan keterkejutan.


*bukankah dia pemuda itu

__ADS_1


decah ayandaru membhatin, di saat yg sama Jendela yg terbuka sekejap itu lalu tertutup kembali. meskipun hanya sepintas tapi efeknya membuat ayandaru tertegun cukup lama. Ia mulai merasakan sesuatu dalam hatinya, debaran degub jantung yg tak berpola.


__ADS_2