Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 57


__ADS_3

Sehari telah berlalu dalam kabung yang cukup sepi, yang hanya dirasakan oleh lima orang atas wafatnya sang Resi Buyako.


Ayandaru tak beranjak dari pusara gurunya sekaligus orang tua baginya. Ia masih belum mampu menguasai diri kehilangan satu~satunya yg telah merawatnya dari kecil. Raka hanya melihat punggung gadis yg dia sayangi disamping makam eyangnya dengan iba, menemani Ayandaru dengan tidak beranjak dari duduknya yg bersandar disudut dinding ruangan. Raka tak berani mengajak bicara gadis yg ia sukai mungkin juga cintai, ia membiarkan Ayandaru melepaskan gejolak kesedihan.


Pengemis Sutarsa di larang oleh eyang Rinjani jangan meninggalkan rumah tersebut sampai ia bisa mengumpulkan informasi. Terpaksa Sutarsa bermain sama ayam di halaman belakang.


Malam ketiga hari berkabung, eyang Rinjani mengajak Raka, Ayandaru, Sutarsa dan Nipara yg terlambang datang berbicara di ruang bawah tanah disamping makam Buyako. Eyang Rinjani meminta mereka untuk mendengar hasil penyelidikannya.


* saya harap semuanya mendengar dengan baik, setelah itu baru kita pikirkan langkah selanjutnya.


beberapa hal ada yg rahasia, tapi biarkan itu tetap jadi rahasia karena tidak semua orang diberi kemampuan berpikir bijaksana.


Eyang Rinjani menghela napas panjang sembari menatap satu persatu wajah orang yg berada dalam ruangan tersebut.


* saya langsung saja pada hasil penyelidikan. Resi Buyako meninggal akibat luka yg tersemai racun. Racun itu sangat ganas. Kami memastikan racun itu dari persekutuan keramat. Sedangkan luka di perut Resi berasal dari seseorang yg berjuluk Pendekar SABIT KEMBAR.


* hah ????


Ayandaru terkejut mendengar nama tersebut.


* saya sama eyang ki jalu menolongnya waktu ia akan dibunuh Bulaha. Ia terluka parah, eyang jalu mengkwatirkannya dan memaksa pergi mencari lumut putih di pantai dekat sana untuk meracik obat. Saya coba susul eyang Jalu ke pantai itu tapi tak menemukannya. Pendekar sabit kembar itu menghilang setelah saya kembali. Yg punya rumah itupun tidak pulang kerumahnya.


Ayandaru langsung menjelaskan tentang macho pendekar sabit kembar yg ia temui di kota masoa. setelah Ayandaru menjelaskan dengan Rinci, eyang Rinjani meneruskan ucapannya.


* Dulunya pendekar sabit kembar beraliran putih, belakangan ini kami dapat informasi dia telah bergabung ke persekutuan keramat. Belum jelas apa hubungannya sabit kembar dengan dukun peracik racun itu. Tapi dalam penyelidikan awal kami yg tergesa~gesa ini diperoleh informasi kalau pendekar sabit kembar disewa oleh seorang petinggi kerajaan Gatarsyat untuk membunuh anak Sanjaya dari klan Kacio. Petinggi itu merasa dihina oleh anak Sanjaya ditempat umum.


Ayandaru menoleh pada Raka yg duduk di sampingnya seakan mengingat kejadian di kota Maltara pada musim turnamen.


* sepertinya kejadian direstoran itu ya Raka????


Raka menganggukan kepalanya tapi tak menatap wajah Ayandaru.

__ADS_1


* gelagat rencana pembunuhan itu diketahui oleh Resi Buyako setelah pertemuan di menara langit. Resi menegur dan menasehati sabit kembar karena beliau pikir Sabit kembar adalah pesilat beraliran putih. Tapi tak diduga oleh Resi pendekar itu menyerangnya dari belakangnya hingga mengenai perutnya. Efek racun pada senjata itu sangat mematikan, beliau tidak mampu lagi bertarung lebih lama, Resi melarikan diri ke sini.


Eyang Rinjani menghela napas panjang, seperti ada beban.


* melihat luka resi yg parah saya sangat kwatir, tapi yg lebih dikwatirkan Resi itu kamu nduukk.


Eyang Rinjani mengarahkan telunjuknya pada Ayandaru, dan mata Ayandaru kembali sebak.


* saya dan resi tidak tahu obat penangkal racun itu. Resi cuma berkata mungkin dibalut dengan selendang pusaka bisa menutup lukanya yg cukup parah. Tapi Resi tidak mau meminjam pusaka itu pada kaisar. Beliau merasa tidak nyaman nanti kekaisaran kehilangan simbol kebesaran. saya lah yg kemudian mengutus seseorang untuk mengambil selendang pusaka itu karena keadaan luka Resi yg makin hari kian parah. siapa yg saya utus dan bagaimana mengambilnya tak perlu kalian cari tahu. biarlah itu menjadi rahasia demi nyawa orang lain yg ingin membantu Resi Buyako.


Kami berlari dgn waktu antara menyelamatkan Resi, mencari kamu nduk dan merahasiakannya dari kaisar dan menara langit. Saya tahu tindakan saya salah tapi untuk seorang Resi Buyako nyawa saya terlalu murah untuk menukar hutang budi saya pada beliau.


Suasana hening, hanya terdengar suara napas. mereka memahami pencurian pusaka kekaisaran hukumannya mati.


* jadi kesimpulan kami, seseorang petinggi dari kerajaan Gatarsyat menyewa seorang pendekar sabit kembar untuk membunuh anak klan kacio. Wafatnya Resi dengan berita hilangnya pusaka kekaisaran tidak ada hubungannya dengan kesimpulan itu, Meskipun berkaitan.


* lalu racun yg dimiliki bulaha apakah sama dengan sabit kembar, eyang putri?


* Berarti bulaha masih hidup? Karena sampai hari ini gugus darma tidak menemukannya.


Apin mengangkat tangannya seolah ingin berbicara.


* Bulaha sudah tewas di bunuh Raka.


* hah?


Ayandaru menolekan rasa herannya ke wajah Raka. sedangkan yg dipandang cuma tertunduk sambil mengangguk.


* kamu sampai di kota Masoa Ra?


* ya.

__ADS_1


Singkat, padat dan jelas jawaban Raka.


* kamu ke pantai itu?


* ya.


* ya melulu.


Ayandaru sudah mulai mengeluarkan monyong bibirnya karena kesal. Apin dan Sutarsa jadi tersenyum melihatnya. Eyang Rinjani hanya bisa geleng~geleng kepala. Tiba~tiba Ayandaru meraba antingnya dan kembali menatap Raka.


* anting mu jelek.


Raka sedikit tersenyum mengucapkannya.


* huh.


Meskipun kesal Ayandru merasakan sesuatu yg indah dalam hatinya, sebuah anting yg ia inginkan, diberi oleh orang yg disukainya walau melewati kubangan. Ayandaru tersenyum sendiri memikirkannya.


Sedangkan Raka mengulum senyumnya karena telah membaca pikiran Ayandaru.


* jangan B A C A pi..ki..ran ku Ra ?!


Ayandaru mengeja ucapannya sambil melototkan mata dengan manja karena terkesiap sadar Raka pasti membaca pikirannya.


* hehehe


Raka terkekeh kecil yg menjadu tontonan membingungkan antara eyang Rinjani dan pendekar Kaleng tapi tidak dengan Nipara jasto, ia tertawa.


* hahahaha.


* besok pagi kita rencanakan langkah selanjutnya. Sekarang kita istirahat dulu, sudah larut.

__ADS_1


__ADS_2