
Ayandaru menyeruput kopi yg ia pesan seakan ingin melepaskan gundah yg telah salah ia tempatkan. sekarang ia hanya memikirkan bagaimana esok pagi karena kerabat kaisar akan pulang membawa mempelai yg telah mereka sunting untuk dibawa ke istana, dan Ia akan ikut rombongan tersebut.
Ayandaru berpikir rencannya setelah tiba, Mungkin untuk beberapa hari di istana lalu pamit menuju kota Maltara. lalu Menyampaikan salam Raka buat Andini. setelah itu ia akan ke rimba terlarang dan selamanya disana mengasingkan diri. Begitulah rencana yg dibuat Ayandaru.
Ayandaru meminta pelayan memanggilkan Bowo, ia tahu sebentar lagi Bowo selesai bekerja dan pulang. Ayandaru ingin menitip sebuah kado buat Ratih.
* kamu berikan kado ini buat Ratih, sampaikan aku tak sempat mampir lagi. Besok kita semua akan berangkat ke istana. Dan ini ada sesuatu buat ibu, bilang saja ini pemberian dari seorang anak.
Ayandaru menyerahkan bingkisan kado pada bowo dan beberapa koin emas.
* aduuhhh nona, kebanyakan. Ini mungkin sangat memberatkan.
* sudaaah, aku tak mau dengar apapun lagi bo. Sampaikan saja menurut apa yg aku titipkan. Kalau ada waktu bila aku ke sini lagi pasti mampir ke teluk. Kamu yg rajin kerja di sini ya?!
Ayandaru melangkahkan kakinya hendak masuk ke hotel.
* tunggu nona.
* Ada apa bo?
* tadi siang Raka bercerita kalau nona pergi begitu saja.
* sudahlah jangan dibahas, tadi pagi itu pikiran ku lagi kusut. Sampaikan saja permohonan maaf ku sudah bersikap seperti itu pada dia.
Ayandaru kembali hendak melangkah.
* nona Ayandaru.
Ayandaru menolehkan lagi wajahnya pada Bowo, nada panggil bowo terasa berbeda.
__ADS_1
* maksud Raka tadi pagi itu bukan untuk menanyakan teman nona, Raka cuma ingin membuka pembicaraan dan cuma itu yg terlintas dipikirannya untuk memulai. Padahal Raka ingin mengenal nona lebih dekat. Sudah pasti Raka ingin mengetahui semua hal tentang nona, saudara kah? Orang tua kah? Teman kah? Apalagi hubungan nona dengan kaisar, semua orang tahu Kaisar anak tunggal.
Ayandaru tertegun mendengar apa yg keluar dari mulut bowo.
* terkadang tidak setiap lelaki mampu berbicara ketika berhadapan dengan orang yg dia sukai. Apalagi Raka yg saya kenal pendiam. Raka tak pernah berbicara tentang apapun pada kami, baik dari mana dia berasal atau siapa orang tuanya. Kami lah yg berhutang budi yg tak terhingga padanya dan menerimanya sebagai keluarga.
Ayandaru mulai terhenyak ditangga teras hotel yg kemudian disusul Bowo beberapa jarak darinya.
* anting kiri yang nona pakai sangat mirip dengan satu anting yg dia simpan.
* hah ?????
Ayandaru terkejut, ia menoleh ke arah bowo.
* saya menyadarinya ketika kita duduk dibelakang rumah setelah orang2 elang bungkuk ditangkap. Saya selalu melihat diam2 kalau Raka sering melamun sambil melihat anting itu ditangannya yg mirip nona pakai.
* astagaa, apa yg telah aku lakukan ! Maafkan aku.
Bibir Ayandaru mulai melirih dengan Mata yg sudah mulai sebak.
* saya percaya Raka orang baik dan periang tapi mungkin cobaan hidup yg berat atau lebih berat dari kita ini membuatnya memilih diam. Janganlah desak dia dengan sesuatu yg sedang dia coba pahami. Raka adalah orang yg mampu menjaga nyawa orang lain mustahil ia tidak mampu menjaga apa yg dia cintai.
Akhirnya butiran bening itu meleleh dipipi ayandaru.
* aku besok mau berangkat, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.
* mohon maaf nona, saya tak bermaksud ikut campur. Saya hanya menyampaikan permohonan maaf Raka dan menjelaskan kesalahpahaman.
* iya bo, tak perlu sungkan. Aku yg salah.
__ADS_1
Ayandaru menghela napas yg panjang.
* mungkinkah menurut mu Raka mau menjumpai ku?
* pasti !
* bisakah aku titip pesan buat Raka?
* bisa !
Ayandaru jadi tersenyum dengan jawaban Bowo.
* kamu ini yaaa, pintar sekali memancingnya.
* hehehehe, demi Raka dan nona.
* rencana ku setelah beberapa hari di istana sampai resepsi selesai, akan pulang ke rimba terlarang. Aku ingin bertemu Raka di sana. aku menunggunya sebulan dari hari ini.
* baiklah, nanti saya sampaikan pada Raka.
Terima kasih nona atas kado dan pemberiannya. Saya tak mampu membalasnya.
* sama~sama bo, sudah ya kamu pulang saja, sudah larut.
Bowo memberi hormat dan berlalu pergi, Meninggalkan Ayandaru termenung seorang diri.
"Raka, maafkan aku". aku men...
Ayandaru tak melanjutkan bisik hatinya, jiwanya sudah seperti melayang ke rimba terlarang, rindu pada tempat itu yg tak pernah bisa dibuang.
__ADS_1