
Pada sisi lain di hari~hari bulan tersebut.
Raka menyambangi rumah berpintu merah di padangari selama tiga hari setelah ia keluar dari istana Atsylandya bertemu eyang Rinjani. Setelah itu Raka menuju ke teluk biru kampung nelayan melepaskan rindu pada Ratih dan bowo. Keluarga ibu masni yg tidak mengetahui anak angkatnya telah menjadi kaisar, menyambutnya dengan bahagia. mereka sekeluarga dalam sepekan Raka di sana membuat pesta ikan bakar. Kabarnya si bowo telah berhenti jadi pengurus kuda di sebuah hotel yg terletak di kota kabupaten Topala. Ia pun telah di tinggal nikah oleh kekasihnya anak pak lurah. Sekarang bowo jadi petugas penjual karcis di pintu masuk teluk biru. Saat Raka akan berpamitan untuk bekerja jadi kuli bangunan di ibukota, dia berjanji akan membawa keluarga ibu masni berlibur ke suatu tempat kalau ia sudah selesai bekerja di kota Shankai.
Selanjutnya langkah kaki Raka dari teluk biru menuju lembah terkutuk. Ia menyambangi para gentayangan di sana dengan maksud tertentu. Setelah bersemedi dua hari pada liangnya, di tengah malam yg tercerabut awan dan kabut yg pekat menyelungkup tengah hutan lembah terkutuk itu, Raka keluar dari liangnya sambil berdiri dengan mata terpejam di kelilingi oleh para hantu yg telah bersiap sedia untuk bertarung.
Cukup lama Raka terdiam tanpa geming dalam posisinya, para hantu gentayangan itupun mungkin gelisah. Tidak biasanya lawan tanding mereka berdiam seperti itu, biasanya tanpa basi basi selalu memulai pertarungan tanpa letih. Mereka yg telah terbiasa mengeroyok pemuda itu dengan ratusan petarungnya malam itu terpaksa di buat juga berdiam diri.
Kabut yg semakin pekat hingga gumpalannya menjadi awan yg berat, ditambah dengan pilinan angin yg mendesau riuh membuat percikan kilat di tempat tersebut. Pemandangan itu terlihat ke pelataran hutan tempat baraknya pasukan Komerad. Beberapa orang pejabat tinggi, Ayandaru dan Rayola menebak ada sesuatu yg terjadi di tengah lembah terkutuk tersebut.
Di tengah lembah itu.
__ADS_1
Terlihat Raka membuka matanya, tapi kali ini mata itu tidak menyala terang seperi biasa. Hanya pada retina matanya yg nampak seolah menyala merah kebiruan tapi justru terlihat tatapannya lebih tajam.
Tiba~tiba
Wuuuttt...
Sebilah pedang Arwah mengawang di depan wajahnya dengan berputar seperti gasing, silauan mata Raka yg menerpa pedang itu memendarkan warna yg indah.
* saya datang tidak untuk bertarung, saya hanya meminta kalian untuk membantu saya. Kalau urusan itu selesai maka saya akan datang ke sini lagi. Kita akan bertarung meski sampai hari kiamat.
wuunngg..
__ADS_1
sebatang tombak berbentuk angin padat telah tergenggam pada tangan Raka. Ia mengacungkan ke para hantu. melihat itu Beberapa dari mereka nampak mundur dan menyibakan kepungannya pada Raka sembari hilang satu persatu.
Lalu, 10 resi gentayangan muncul dengan jubah yg besar sedang menghunus pedang laksana menggenggam sebatang pedang bara padam. Pada saat yg sama 4 ksatria Peri terlihat menampakan sosok mereka secara samar mengawang diatas kepala barisan 10 para resi.
* saya butuh pasukan itu untuk tugas yg kalian serahkan. Kalau kalian tidak nemberikannya maka terpaksa kita bertarung sampai mati.
Beberapa saat, sekumpulan Arwah menggiring sekelompok pasukan komerad ke tengah arena. Pasukan yg hilang itu ternyata di tawan oleh penghuni ghaib lembah terkutuk dengan keadaan menggigil ketakutan.
* kalian adalah pasukan komerad, tegakan nyali kalian dan mari kita berlatih di tempat ini. Kalian di buat bukan untuk hidup tapi akan mati seperti mereka. Kalau kalian takut maka saya akan membunuh kalian tanpa menyesal.
Sekatar 80 personel komerad yg kebanyakan berasal dari pendekar mulai di buat kalang kabut atas serbuan 10 resi gentayangan. Mereka seperti terbawa ke alam ghaib di tengah~tengah pertarungan itu. Para resi tersebut memang tidak untuk membunuh, mereka melatih pasukan yg hilang itu tanpa suara. 4 ksatria Peri yg memandangi mereka seperti nampak tersenyum di tengah angin yg mulai menderu kencang. Lalu angin itu membentuk pusaran yg banyak dan mengumpul di hadapan Raka. Beberapa saat pusaran itu hilang seiring dihadapan Raka menumpuk puluhan senjata dan zirah para kstaria peri pada zaman perang 3 alam.
__ADS_1
Berbilah~bilah besi seukuran satu meter melengkung runcing dengan lekukan tajam seperti keris. Sedangkan zirah berbentuk angin padat itu melesat dari tempatnya hingga terpasang ke tubuh 80 personil komerad yg sedang menandingi para resi bertarung.
Atraksi di di luar nalar itu terjadi hingga semalaman saat kabut makin pudar terpapar bias matahari.