Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 8


__ADS_3

Hiiyyaaaaattttt..



Suara Resi Guntara menggelegar diiringi dgn kelebatan yg membawa energi besar disertai jurus mematikan. Tujuan serangan itu tepat kearah muridnya. Namun Raka tidak membuat gerakan menghindar tapi ia justru menyambut serangan tsb jgn lesatan tubuhnya dgn kecepatan yg melampau batas.


Lesatan Guntara yg membawa percikan kilat seakan mempertontonkan parade cahaya dilembah terkutuk yg msh berkabut. Sedangkan Raka yg mengusung energi murni yg tak terhingga bagaikan magnit yg ikut menyedotkan sebagian isi lembah kearah Raka bergerak.



Dduuuuuuummmm..



Benturan kecepatan yg luar biasa tsb yg tak mampu diikuti mata biasa menghasilkan dentuman dan suara berdenging tinggi seakan mengiris lobang telinga. Makhluk2 yg berada dilembah tsb terperanjat, sebagian mengerang kesakitan dan sebagian lg kabur dgn terbirit2.



Sedangkan makhluk2 astral dan golongan sejenisnya merasakan aura benturan tsb menembus alam mereka. Dunianya spt dihentak gempa bumi.


Efek dr benturan itupun dirasakan oleh ranting dan kerikil ditengah pertarungan tsb. Seakan ada topan besar membuat mereka berterbangan tanpa arah. Kabut pun seperti gumpalan awan yg diaduk dgn kipas angin raksasa.

__ADS_1


Seketika lembah terkutuk seperti kiamat kecil dikaki sebuah gunung. Bahkan Dijahuan pun byk yg melihat kilatan cahaya serta mendengar dengingan yg panjang tsb. Lalu untuk beberapa saat keheningan seakan menerkam lembah.


Dengan berangsurnya kabut yg menghilang, matahari pun mulai tampak memberikan cahayanya yg ramah dilembah tsb.



Pada sebuah gundukan tanah yg berumput tebal dua orang sedang dlm posisi terpaku. Guntara terkapar dibawah kedua kaki Raka, dimana lutut kiri Raka menekan pergelangan tangan kanan gurunya sedangkan kaki kanannya menyilang diatas tubuh. Dua tangan Raka menggenggam erat sebilah besi yg menghujam pangkal dada Guntara.



\* kau membuktikan ucapan mu, nak. Hanya perlu satu jurus.




\*bangunlah wahai anak ku, aku telah disini ditempat tujuan ku. Sedangkan yg kau tindih itu hanya jasad



ujar guntara dlm bentuk makhluk keabadian, lalu kabut bayangan guntara lalu sirna perlahan2.

__ADS_1


Cahaya mata Raka pun mulai meredup kembali sepertia biasa. Seiring itu pedang yg menancap didada Guntara pun menghilang. Raka terlihat tersimpuh disamping jasad gurunya hingga matahari telah berada ditengah langit. Setelah beberapa saat ketika ia mampu menguasai diri Raka pun membopong jasad gurunya ke liang tempat mereka tinggal.



Tiga hari Raka berdiam diri dalam liang bersama jasad sang guru. Ia meluapkan getir kehidupannya menjadi tangisan yg memilukan. Tersedu sedan menahan gemuruh yg selalu menestapakan takdirnya. hari berkabung yg sepi tanpa siapapun.



Di suatu senja setelah tiga hari masa berkabung terlihat sosok Raka berdiri diatas batu yg menutupi liang ia tinggal. Mata Raka menatap seantero lembah dengan penuh ucapan terima kasih. Ia telah bernit akan keluar dr lembah itu untuk selamanya. Lalu..



\*hghaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!!



teriakan Raka itu seolah ingin melepas kenangan hidupnya pada tempat tersbut, bahkan seperti teriakan tanda pamit untuk semua penghuni lembah. Suara Raka itu disambut dgn lolongan serigala, auman harimau dan geraman macan serta makluk lainnya. Mereka bersahutan seolah menyampaikan ucapan perpisahan. Lalu hening !



Dalam keheningan itulah Raka melesatkan tubuhnya. Ia berkelebat mendahului angin lalu menghilang entah kemana. Tinggal lah lembah terkutuk tsb kembali dgn kesunyiannya. Sebagai saksi untuk kedua kalinya bahwa tempat tsb adalah kuburan massal para pendekar dan juga tempat lahirnya seorang pendekar, Sebuah tempat dibentuknya sebuah takdir.

__ADS_1


__ADS_2