
Pada sisi lain
Terlihat suatu sinar kecil melesat cepat di antara rimbunan pohon dekat perbatasan benua utara dengan barat. Sinar itu terus melaju seolah mengikuti alur perbatasan.
Raka terus berkelebat dari pagi hingga malam bahkan esoknya lagi seakan tak berhenti. Terkadang sinar matanya yg menyala lebih terang terlihat berkelap kelip disela lebatnya pohon hutan. Hingga disuatu tempat sinar mata Raka itu mulai meredup dan kelebatannya sedikit pelan. Raka berlari kecil melompati gundukan tanah, terkadang bersalto dalam lompatannya, lalu
Tap..
__ADS_1
kakinya hinggap pada tumpukan pasir pantai, dengan terengah ia memandang hamparan laut yg berombak besar dihadapannya. lamat~lamat Raka menggunakan pandangan 3 alamnnya untuk melihat situasi disekitar. Tak seorang pun manusia atau binatang liar dalam radius pandangan itu. Kehidupan dipantai itu seperti mati. Bahkan Raka mencoba menembus penglihatannya pada alam lain, pun ia tak melihat sesuatu, hanya ada sedikit aura hitam memecah di tengah laut.
Raka tak tahu ia telah berada di paling ujung benua barat, Daerah pesisir yg lengang jauh dari pusat perkotaan. tempat yg sulit dijamah manusia terisolir dari negri lain. Raka memang tak ada tujuannya kedaerah itu. Dari kaki gunung Simaya ia berlomba dgn angin mengadu kecepatan, bukan untuk mengalahkan alam tapi untuk menghibur hatinya yg dilanda gundah. Bilur2 rasa direlung hatinya pada seseorang membuat ia berada dlm emosi yg tak stabil, Ia melampiaskan gemuruh hatinya dengan berlari, tapi rasa itu justru mengukungnya lebih kuat.
Raka mencoba melawannya dgn kekuatan tenaga dalam. Semakin kuat debar dijantungnya semakin tinggi energi yg ia gunakan sehingga Ledakan emosi tersebut melewati ambang batas.
Wujud itu hilang seiring Raka memperlambat lesatannya. Tubuhnya kembali spt biasa layaknya pemuda yg malas tanpa gumpalan otot apalagi bidang dada yg bagus dengan perut berkotak. Wajahnya memang tak ada cela karena mukanya utuh tak ada cacat, masing2 menghuni tempat yg telah disediakan Sang Maha Suci.
__ADS_1
Raka berjalan pada tepian pantai, sesekali kakinya menyibakan air laut sambil pandangannya mengedar ke sekeliling. lalu ia melangkah meninggalkan pantai mencoba mencari teduh di semak yg tumbuh.
Raka merebahkan punggungnya pada sebuah pohon kelapa yg tumbang. Sambil memejamkan mata pikirannya menerawang. angannya kembali pada suatu tempat. ia mencoba menghadirkan angannya pada seseorang itu secara utuh tapi pikiran tapi selalu buyar.
Raka tak mampu mengingat tatapan sendu itu, tak mampu melupakan bibir tipis meronanya, dan juga tak mampu melupakan ekpresi lucu itu bila ia sedang terkejut meskipun bayangannya menghantui nyata dalam pikiran Raka. Dalam rebahannya ia gelisah.
Raka kembali menyalurkan energi murni pada kepalanya untuk membuang pikiran tsb tapi tak menghasilkan apapun. bayangan itu semakin berdansa mengejeknya. Ia pun mencoba melihatnya pada potongan kejadian dilembah terkutuk yg telah bersemayam abadi dlm pikirannya, siapa tau ada jurus yang mematikan untuk membunuh yg ada dlm pikirannya namun tak satupun jua Raka menemukan caranya.
__ADS_1
Raka memang tak tahu apa yg terjadi dengannya, sesuatu yg pertama kali ia rasakan. sesuatu yg berasal dari dimensi lain yg hingga era apapun tak seorangpun mengetahui. setiap makhluk hanya sepakat memberinya nama, CINTA.