Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 51


__ADS_3

Ayandaru dikawal perisai keluar dari komplek istana. Ia hanya berdiri tak tentu arah. Pikirannya kalut dengan semua yang terjadi. Ia tak tahu harus mulai dari mana, rimba terlarang sudah di tutup. Eyang Resi entah dimana. Langkahnya gontai sambil berpikir keras, Ayandaru sangat mengkwatirkan gurunya karena hanya Resi lah yg satu~satunya harta yg ia miliki. Gurunya dalam masalah besar yg mengancam nyawanya. Tapi Ayandaru tak mampu berbakhti. Ia merasa lalai menjaga orang yg dianggap ayah. air mata sudah ia biarkan mengalir setetes demi setetes. dunia seakan berubah jadi gelap seketika, lututnya sudah mulai goyah untuk berjalan. Akhirnya diantara orang yg lalu lalang ia terisak ditepi jalan. Tubuhnya terguncang menahan sedu sedan. Ayandaru tak peduli lagi dengan tatapan orang. Ketegaran nya yg malang malintang di dunia persilatan hanya berbuah kecengengan. Ia benar~benar telah berada pada jalan buntu.


Pergi ke kota Maltara sama saja nembunuh keluarga, pasti keluarga Sanjaya akan dicurigai atas kedatangannya, bisa saja saat ini mereka lagi diperiksa. Pergi ke menara langit untuk mencari tahu sama saja bunuh diri. Gurunya dianggap dalang atas hilangnya sebuah pusaka, sudah tentu ia akan jadi pelaku juga. Sekarang kaisar mengeluarkannya dari istana meski bersiasat memintanya mencari Resi, Para perisai penguntit akan selalu membayangi.


*eyang maafkan saya.


Lirihnya suara Ayandaru bersamaan dengan jatuh kedua lututnya ke jalan. Mereka yg melihat sambil lalu hanya mengejek dan tertawa kecil sambil berbisik~bisik. Ayandaru mencoba untuk bangkit, ia melangkah ke arah pertokoan yg tutup, Mengusap air tangisnya. Matanya nanar memandang hiruk pikuk warga ibukota malam hari.


Di mulut gang sempit yg gelap Ayandaru melihat seseorang berdiri dibawah gelap bayangan gedung pertokoan.

__ADS_1


Ayandaru terkesiap, ia mencoba memfokuskan pikiran, orang disana seolah2 menatapnya. Ayandaru menggunakan jurus mata ghaibnya. Seseorang itu meletakan sesuatu di sudut tiang toko, menimpanya dengan batu lalu menghilang masuk gang. Ayandaru mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk menandai pasukan perisai penguntit. Ia mencari celah untuk mengambil sesuatu yg ditinggalkan disana.


Ayandaru mulai berjalan memutar arah, menyeberang lalu kembali ke tempat tadi dan berjalan lagi. Gerakan langkahnya seperti orang linglung, para penguntit tak menyadari Ayandaru telah mengambil sesuatu ditiang toko tersebut. Mereka hanya diam pada posisi masing~masing melihat Ayandaru masuk ke sebuah restoran besar. Dari kejahuan hanya terlihat Ayandaru sedang menyeruput kopi. Tapi dimejanya Ayandaru sedang membaca sebuah peta yg ditulis diatas kertas. Cukup sulit bagi ayandaru membaca peta buta tersebut.


Peta keluar dari ibukota negara dengan jalan rahasia.


Ayandaru bergumam memandangi lagi peta tersebut. Setelah yakin ia keluar restoran dan berjalan lurus. Ayandaru menepuk dan mengelus perutnya lalu berkelebat melompati pagar musium. Para penguntit hanya pasrah. Ada etika tersendiri dalam pekerjaan mereka, jangan mengintip perempuan yg sedang di kamar kecil. Penguntit menunggu dengan gelisah hingga pagi sudah meremang. Ayandaru tak pernah muncul lagi keluar museum. Mereka menyatroni museum dengan serentak dan memeriksa tapi target yg mereka kuntit hilang tak berbekas.


Ayandaru sampai disebuah pintu, ia membukanya.

__ADS_1


* dapur ????


Pintu itu memang tak bisa dibuka dari ruangan dapur tersebut, kecuali dari sisi dalamnya Beberapa koki yg baru datang mulai bekerja pagi itu hanya memandang heran seseorang keluar pintu tersebut. Ayandaru tak menoleh ia menuju keluar dapur, sampai pada disebuah gang lalu mengitari blok pertokoan dari belakang. Tibalah ia ditepi jalan utama.


Ayandaru memandang tembok tinggi ibukota negara dari tempatnya berdiri. Ia cuma geleng~geleng kepala sambil mengucapkan terima kasih pada perwira jo dalam hati. Ayandaru mencari penjual kuda, lalu membelinya. Ia mampir ke sebuah losmen, lalu mandi.


* tak cukup banyak waktu, aku harus kesana.


Gumam bhatin Ayandaru seolah dikejar waktu, ia akan menuju suatu tempat untuk mencari teman kecilnya sewaktu dimenara langit ketika jadi pelayan. Setelah siap berdandan ia keluar losmen memacu kudanya dengan kencang, tujuannya Kota Tibaru.

__ADS_1


__ADS_2