
Masih di pantai antara Bulaha dan Raka
Trass..
Bulaha tersenyum tipis melihat serangannya membuahkan hasil menyasar perut Raka.
* sebentar lagi kau akan mati, hahaha
Raka merasakan perih pada perutnya, ia menekukan kepala untuk memeriksanya. Ada luka sobek kecil diatas pusarnya. Rasa sakit terasa mulai memedihkan. Raka meraba luka tersebut dan ia terkejut tangannya nya ikut perih dari bekas luka yg menempel. Ia berusaha mencerna apa yg terjadi sambil menegakkan kepalanya menatap Bulaha, lalu
Slluuppp..
keris bulaha menancap tepat di dadanya raka.
Cuiihhh...
sebuah ludah pun mendarat diwajah raka di antara sunggingan Bulaha tersenyum kemenangan. sambil mencabut kerisnya bersamaan dengan sebuah kilatan petir yg terlihat membahana. Bulaha mundur beberapa langkah karena air laut sudah berada sebatas pinggangnya.
Bulaha mendengus ketika melihat mata Raka mulai terpejam.
* rasakan !
Ia bersiap melangkah untuk meninggalkan tempat itu karena berpikir musuhnya sedang menghadapi ajal, tapi kedua kakinya tak dapat di gerakan. Bulaha berusaha mengangkatnya tapi kedua kakinya itu seperti melekat di dasaran laut. Bulaha mulai kalut krn pemuda itu masih berdiri denga mata terpejam.
__ADS_1
"kenapa dia belum roboh"
bulaha kembali membatin
Sekonyong~konyong mata bulaha terbelalak melihat wajah Raka, terlihat ada cahaya dimata Raka yg mulai terbuka. Cahaya itu menyilau putih agak kebiruan seperti menatap tajam padanya. Bulu kuduk Bulaha langsung meremang. Ia terkesiap ingin lari tapi kedua kakinya seakan terpancang erat.
Sebuah kilat petir menyalak lebih besar tak jauh dari mereka. Angin semakin menderu sangat hebat membuat tubuh bulaha oleng terkena sapuannya. Gemuruh angin tersebut pun semakin mendesau mengitari tubuh Raka.
Racun yg mematikan tersebut membuat tubuh Raka meresponnya dengan hebat. Energi besar seolah di sediakan alam untuknya mengatasi luka yg mungkin akan merenggut nyawanya. Nyala di mata Raka yg membiru akibat proses energi besar sedang melawan racun yg sedang menjalar. bias mata yg menyala tajam seakan merobek kulit ari pada muka Raka disela terpaan percikan air hujan. wajah Raka seolah berubah dengan wujud yang lain.
Alam kembali sedang membuat takdir. Deruan angin kencang di sekitar Raka menerobos disela lengan dan rusuknya membuat bilur2 angin yg menggumpal padat. Semilirnya pun menerpa pada kedua sisi telinga sehingga bilur angin yg padat itu membentuk sesuatu sebesar tempayan pada kedua sisi punggung Raka.
bulaha tak berkedip melihat apa yg sedang dibuat alam dgn pemuda itu. Ia terpaku dengan mulut ternganga ketika Raka mendekatinya.
Bulaha hanya mampu melihat saja saat tangan kiri Raka terletak pada bahu kanannya dimana ia menanam mustika siluman kekebalan itu. Satu cengkraman kuat membuatnya menjerit dengan alang kepalang.
Raka menaikan sikunya setinggi bahu sambil menarik siku itu kebelakang dengan kepalan tangannya yg sejajar dekat dagunya.
Wuuutttt...
pedang arwah telah tergenggam di tangan Raka bersamaa. ujungnya yg tajam terhunus tepat pada jakun bulaha.
Blaaaaarrzzzz..
__ADS_1
sebuah kilat petir kembali menyalak hebat ditengah laut, sejurus kemudian di saat bersamaan.
Traasss...traasss...traasss...swuutt..traasss...traaas
Lalu...
Krrrraaaaaakk...daaaarrrr
terdengar Sebuah letusan petir menemani suara tebasan pedang Arwah yg membelasah tubuh Bulaha menjadi beberapa potongan.
Ketika cahaya kilatan petir yg menerangi sekejap itu tidak menampakan siapapun lagi di tempat itu kecuali Raka telah berdiri diatas pasir pantai sekitar 20 meter.
Potongan tubuh Bulaha di bawa hanyut oleh gelombang ke tengah laut, potongan daging itu jadi rebutan ikan pemangsa.
Raka mendongakkan kepalanya kelangit sambil menutup mata, ia begitu menikmati air hujan yg tercurah lebat pada wajahnya. Kemudian ia berpaling kearah kanan, sedikit helaan napas ia melangkah dgn tenang menghampiri sebuah cadas lalu menghadap laut.
Dibawah guyuran hujan dan petir yang menyambar tubuh Raka melesat menderu menuju ketengah samudera. Raka ingin menguji alam pada titik tertingginya Dengan kekuatan penuh melebihi kemampuannya.
Lesatan itu sangat cepat hingga menyibakkan gelombang air laut pada jalur lintasannya. Raka telah beberapa kali mencoba tenaga super tersebut sampai titik didihnya, tapi selalu gagal karena keadaan. Raka berpikir kali ini adalah waktu dan tempat yg paling tepat.
Terlihat di sana, di tengah samudera yg tak berpenghuni sedang menggelorakan gelombangnya, Alam sedang memanjakan makhluk yg mereka pilih dan mereka tempa bertarung bebas menakhlukan kekuatan dahsyat dari ratusan gelegar petir dan kilat di tengah laut.
sekarang kekuatan besar tersebut telah memiliki tuan. Raka telah menakhlukan kekuatan besar yg membuatnya gelisah selama ini. terlihat sosok makhluk bersayap angin yang di kepalanya terikat seuntai petir sedang memegang sebuah pedang malaikat sambil matanya yg memiliki cahaya memandang ke langit di gelapnya suasana Samudera yg sedang di selubungi cuaca yg ganas.
__ADS_1
pada sisi lain
Raja pengemis berada Disebuah lekukan tanah yg dikelilingi semak, Tubuh Ki jalu tertelungkup dengan sebagian tubuhnya tertimbun pasir. sang pendekar berjuluk RAJA PENGEMIS telah wafat tanpa batu nisan diujung Benua Barat. ia tewas oleh luka dari racikan racun yg mematikan.