Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 39


__ADS_3

Tengah malam setelah pertunjukan kaswari


Dengan beriringan mereka bertiga yaitu Raka, Bowo dan Apin menunggangkan kudanya sambil bercengkrama menuju kampung nelayan. Apin sibuk dengan topik jagung jandanya, sedangkan bowo cuma bisa tertawa mendengar.


Dari semenjak pulang makan jagung, lalu menjemput bowo hingga saat menyusuri jalan yg sepi di perbatasan, Raka hanya terdiam. Insting pendekarnya telah bekerja ketika beberapa orang telah menguntit mereka mulai dari alun~alun.


Tepat di depan jalan yg mereka lalui diantara keremangan malam, beberapa orang sudah berdiri menghalangi langkah mereka bertiga dengan pedang yg sebagian telah terhunus dan sebagian lagi tersemat pada pinggang masing~masing.Kisaran jumlah penghadang itu ada sepuluh orang lalu ditambah empat orang lagi yg menguntit mereka dari tadi.


Bowo terkejut melihat suasana yg ia tak tahu masalahnya, sedangkan Apin mulai menyadari masalah di posko penjagaan belum dianggap selesai oleh keroy. Apin menoleh pada Raka seakan menanyakan apa yg harus diperbuat.


* mungkin mereka sedang menunggu jagung janda yg kau bawa pin.


* hahahaha, bisa saja kau bercanda dalam keadaan begini.


Bowo semakin tak mengerti dengan obrolan Raka sama Apin.


* ada masalah apa? Itu mereka yg di depan sepertinya ada masalah dengan kita atau mereka menunggu siapa?


* nunggu jagung janda, bowooo!!


Raka dan Apin serentak menjawab pertanyaan bowo. Lalu serentak pula tertawa.


* hahahaha


Gerombolan pemuda yg menghadang tersebut langsung menghunuskan pedang dan langsung menyerang. para gerombolan itu terlihat memakai topeng yg hanya memperlihatkan matanya saja.


sedangkan Seseorang dari kejauhan hanya diam diujung sana sambil menonton, tapi mata 3 alam Raka melihat ia adalah keroy.


Apin ternyata pendekar tingkat pederi ia langsung bersalto ke depan diatas kuda untuk Menyambut dua orang yg menyerang.

__ADS_1


Buuughh..


satu orang terjengkang dan satunya luput hingga terhuyung ke depan bowo yang langsung ia kasih sebuah tendangan pada rusuknya.


draaaghh.


Empat orang langsung mengeroyok Apin, dua lagi menghadapi bowo. Sedangkan Raka menunggu orang~orang yg menguntitnya sedang mendekat.


Wuutttss...wassshh..


desau suara pedang yg menyentuh angin memecah kesunyian.


buugh..


satu siku Apin mendarat telak dihulu jantung lawan..


desssgh


sedangkan bowo terjajar masuk parit dengan luka robek dilengannya. Bowo benar~benar belum siap dengan keadaan tersebut, ia tak mengerti masalahnya.


Dua orang yg mengeroyok Bowo kembali menyerangnya dengan babatan pedang dan golok. Mustahil bagi Bowo untuk menghindar.Tapi


buughh...buugghh


keduanya penyerang itu terseret sejauh tiga meter menyapu jalan. sedangkan Empat orang penguntit yg langsung menyerang tak dapat berbuat banyak. Mereka tak tahu apa yg terjaadi. Ke empatnya sudah terkapar disisi jalan dengan tulang tangan dan kaki yg patah. Mereka hanya merasakan angin yg menderu saat menyambut serangannya, tapi sekonyong~konyonh sudah mengerang kesakitan.


Bowo pun terkejut, Raka yg tadi ada dihadapannya tiba~tiba hilang. Ia menoleh ke Apin yg sudah menaklukan penyerangnya, Sisanya pun sudah terkapar di sisi jalan.


disisi lain

__ADS_1


Tap.. kedua kaki Raka berdiri dengan ringan berjarak dua meter dihadapan keroy yg sedang melarikan diri kedalam semak menuju kampung atas.


* maaf, maafkan saya tuan, ini kekhilafan saya. Mohon ampun.


Keroy langsung menggigil ketakutan karena dari kejahuan ia melihat temannya bertumbangan dengan mudahnya, padahal mereka dibayar dari sebuah perguruan silat.


* buka topeng mu dan pulanglah kau ke kampung atas dengan baik~baik. Anggap semua ini tak terjadi. Kalau ternyata kau masih memperpanjangnya, tolong jangan libatkan orang lain. Kau bisa menemui ku langsung, terserah kau mau menggunakan cara apa !


* iya Raka, saya mohon maaf. Saya tak akan melakukannya lagu. Ini sudah selesai.


Saat keroy mengulurkan tangan meminta maaf sambil mengusap wajahnya dengan punggung tangan, Raka sudah tidak ditempatnya lagi. Keroy bergidik dan seperti kencing dicelana, Ia belum pernah setakut itu dalam hidupnya.


Disisi lain


Apin sedang membantu mengikat luka sayatan dilengan bowo diantara gelimpangan penyerang yg cidera parah.


pada Di sudut gelap jalan terlihat Raka menampakan diri dan langsung menghampiri Bowo dan Apin dengan langkah tenang. sedangkan Bowo masih belum mengerti dengan keadaan, sedangkan Apin langsung mengatupkan tangannya ke dada.


* salam hormat pendekar, terima kasih. Saya tak berharap pendekar yg memusnahkan markas kelabang hutan itu adalah kau Raka.


* kamu bicara apa pin?! Keselek biji jagung janda?!


* hahahaha, kau memang tak bisa diduga kawan.


Raka memegang siku Bowo lalu mengusap luka sayatan tersebut dengan ibu jari. Seketika luka sayatan itu bertaut seolah tak pernah robek.


Bowo memang dibantu Raka dihutan perbatasan itu tapi ia dalam keadaan pingsan jadi tidak tahu apa yg terjadi. Selama dirumah, Raka pun tak memperlihat gelagat aneh, yg Bowo tahu Raka itu cuma pendekar. Tapi membuat luka sayatan jadi bertaut dengan seketika, Bowo memang terkejut luar biasa. Mulutnya ternganga memandang Raka yg sedang memperbaiki tali kekang kuda. Apin juga menyadari kalau Raka pendekar hebat tapi kejadian barusan jauh diluar pikirannya.


* ayo kita pulang, jangan sampai ibu tahu masalah ini. aku tak mau ibu jadi risau.

__ADS_1


Raka memberitahu Bowo untuk tutup mulut sembari belalu dengan kudanya yg di ikuti oleh bowo dengan pikiran tidak menentu. Sedangkan Apin hanya tersenyum penuh arti, sesuatu yg ia cari selama ini sekarang terlihat hampir jelas.


__ADS_2