Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 29


__ADS_3

Pertarungan Raja pengemis dengan Bulaha


* Hahahahaha, Kali ini kau tidak akan kemana~mana bangs**t !!, akan ku balas sepakan mu kemarin.


suara bulaha menjumawayg membuat Ki jalu bergidik, ia bukan itu yg membuatnya gentar tapi tusukan di bahunya yg ia cemaskan. Ternyata apa yg ki jalu kwatirkan terbukti. Bahunya sudah mulai terasa perih dan terbakar. Pikiran Ki jalu terpecah antara mencari lumut putih, si macho dan cara membunuh Bulaha yg memiliki ilmu kekebalan tubuh.


Satu serangan yg menghambur dari bulaha dia hindari dengan berkelit oleh ki jalu sembari merebahkan badannya ke pasir. Tapi sayang satu sabetan kecil ujung keris melukai lututnya. Bulaha terus memburu ki jalu yg hanya mampu berkelit dan berjumpalitan. Pendekar raja pengemis itu memang sudah tak mampu bertarung lagi. Racun yg mematikan itu sangat cepat bereaksi memakan kulit dan dagingnya yg terkena tikaman. Ki jalu menotok bahu dan pahanya untuk meredam menjalarnya racun tersebut.


Sebagian tubuhnya sudah kebas dan kaku sehingga tak ada jalan lain buat ki jalu kecuali berkelit dari serangan Bulaha. Setelah berapa lama kondisi ki jalu makin parah, otot daging di bahunya seperti di makan okeh sesuatu dengan sangat cepat, membuat ada yg berlubang terlihat seluas telapak tangan di bahunya, lututnya pun telah koyak memperlihatkan tulang tumpurung kakinya. Ki jalu sudah sempoyongan denga. napas yg mulai sesak. Tenaganya sudah berada tak bisa dipaksakan lagi, Tapi Ki jalu adalah salah satu pendekar pilih tanding. Ia punya pengalaman segudang di dunia persilatan. Menyadari kondisinya Ki jalu berusaha menyelamatkan diri, celah itu ia dapat saat bulaha terpelanting terkena tendangannya. Ki jalu berlari ke dalam semak yg tumbuh rimbun di pesisir tersebut. Ia bersembunyi dibawah akar semak yg tanahnya berlekuk agak dalam, seperti kubangan.


melihat musuhnya kabur bulaha mencak~mencak dan mengumpat sambil mengibaskan kerisnya pada setiap semak mencari Ki Jalu.


Pada sisi Raka saat mencari sebuah anting.

__ADS_1


Raka sampai pada pohon tumbang tempat ia merebahkan diri siang kemarin ditengah guyuran hujan. Apa yg ia cemaskan telah terjadi. Kubangan itu telah dipenuhi air dan lumpur.


*huh!


Nada dengusan kesal ia lontarkan karena Sebuah anting yg ia pegang untuk menemani angannya terjatuh seiring kantuknya pada kubangan dekat pohon tumbang itu. Ia tak menyadari dan lupa ketika meninggalkan tempat tersebut ketika dua nelayan datang menyiksanya.


Raka menggunakan mata 3 alamnya untuk memeriksa tempat sekitar karena guyuran hujan dan deru angin yg memecah air telah memercik matanya membuat Pandanganya terhalangi cuaca yg buruk. Tak jauh dari tempat itu, Raka melihat seseorang sedang mengibas tangannya pada semak sambil menggenggam sebilah keris. Raka menatapnya denga. tenang ketika pergerakan bulaha mengarah padanya saat mencari Ki jalu.


* anak sial kau jahan**m, muka mu ku tengok bikin masalah ku makin kacau!


Raka hanya diam dengan tenang, tatapan matanya tak melepaskan dari sorot mata bulaha. Mendapat tatapan yg ia anggap menantang emosi bulaha membuncah.


* apa yg kau lihat eh? Pingin mati kau rupanya.

__ADS_1


Raka hanya tetap tenang tak bergerak. mendapati ketenangan itu justru bulaha terlihat emosi, Karena kekesalan sudah menjalar ke ubunnya bulaha melibaskan kerisnya ke wajah Raka yg hanya berjarak 1 meter. Serangan Bulaha luput karena Raka sudah bergerak menjauh sekitar 20 langkah kearah pantai secepat kilat. Melihat pemuda itu lolos dari babatannya bulaha dibuat terkejut.


"Bagaimana mungkin serangan dengan jarak sedekat itu menemui tempat kosong dan pemuda itu menjauh darinya begitu cepat"


bhatinnya bergumam.


* menantang kau rupanya


Dengan sedikit berlari bulaha menyerang Raka dengan keris yg meluncur datar. Raka menghindarinya dengan enteng. tapi kembali bulaha mengibaskan tangannya menyilang tak tentu arah ke tubuh Raka seperti pendekar mabuk.


Raka memang tak ingin meladeni bulaha karena Baginya gerakan bulaha seperti bukan orang persilatan. Dengan bergerak ringan dan lincah di tengah guyuran hujan yg lebat Raka hanya berkelit disela babatan keris bulaha hingga aksi mereka menyentuh bibir pantai bahkan telah berada di dalam air laut setinggi lutut.


Raka tak habis pikir dengan amarah Bulaha yg terlihat tak tentu alasan, emosi preman kampung itu seperti kerasukan setan.

__ADS_1


__ADS_2