Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 89


__ADS_3

Pada sisi dekat perbatasan Mindano, dua pasukan sedang berhadapan dengan jarak 1 kilometer, antara 15.000 prajurit Gatarsyat dengan 20.000 tentara Atsylandya. Sedangkan pada sisi perbatasan Amparama sedang berhadapan 35.000 prajurit Gatarsyat dengan 60.000 tentara Galandara. Kedua angkatan perang sedang menunggu komando masing~masing.


Bagi prajurit Gatarsyat sang jendral yg di tunggu belum juga tiba di tengah pasukan. Di tengah kekacuan koordinasi terlihat dari kejauhan sebuah kembang api melesat ke angkasa. Letusannya yg memendarkan cahaya merah dapat di lihat oleh prajurit Gatarsyat, sebuah tanda bahwa Rajanya telah wafat. Mereka dengan serentak meletakan senjatanya ke tanah pada tiap pasukan di sisi kedua perbatasan.


Lalu satu batalyon pasukan Komerad langsung menggeber kuda mereka melewati puluhan ribu prajurit yg terduduk menyerah. Di ikuti satu resimen gabungan yg menuju Tempat berbeda ke arah barat menuju persekutuan keramat. Lalu satu Divisi lagi di perintah oleh Jendral tempur Hutama Mada untuk ke istana Teratai Awan. Pada hari ke sebelas kerajaan Gatarsyat dapat di lumpuhkan oleh dua kekaisaran tanpa peperangan.


Pada sisi lain

__ADS_1


Saat terjadi sergapan pasukan Letus Pora kepada jendral Rucan, Raka dengan 10 resi gentayangan menyeruak ke tengah ribuan pendekar yg sedang berkerumun saat mendengar ceramah Mpu Sankala. Kedatangan Raka dengan para Resinya seperti lesatan anak panah yg jatuh dari langit. Tanpa basi basi mereka langsung menebarkan maut di tengah pendekar golongan hitam. Suasana di buat kacau balau atas kedatangan Raka bersama komplotannya. Hamburan potongan kepala dan tangan simpang siur melambung di tengah pertarungan.


Mpu Sankala yg terkaget bersama para tetua lainnya cukup lama untuk memahami situasi. Tapi terlambat saat puluhan pendekarnya telah tersungkur mati di tengah tanah lapang yg berada di dalam markas pusat persekutuan tersebut. Mereka baru dapat mengenali pemimpin para penabuh perang terhadap persekutuan tersebut apalagi kepada Rahib agungnya, pemuda itu meracaukan amukan pedangnya yg berada di tengah puluhan pendekar berseragam kuning yg tak lain adalah pengawal Mpu Sankala. Para tetua langsung menghamburkan serangan kepada Raka dengan jurus~jurus yg mematikan. Di keroyok oleh puluhan pendekar yg berilmu tinggi memang di minta Raka untuk terjadi. Nyali membunuhnya nya terlalu muncul kalau menghadapi pendekar kroco~kroco. Hantaman jurus mematikan itu ada yg beberapa mengenai tubuhnya hingga ia beberapa kali juga terbanting ke tanah tapi kembali lagi berdiri dengan cepat menggenggam pedang Arwahnya yg Tiba~tiba hilang lalu muncul lagi terserah kapan ia mengingat untuk menggunakannya.


Kebrutalan sabung nyawa itu di pertontonkan dengan vulgar tanpa aturan dunia persilatan yg berlaku karena memang Raka bersama 10 gentayangnnya tidak pernah diajari aturan tersebut. Mpu Sankala yg sudah tidak mampu menahan emosi melihat amukan Raka langsung terjun ke arena laga. Ratusan tahun menjayakan diri sebagai pendekar pilih tanding bukan berasal dari pencitraan. Itu langsung di buktikan ketika baru terjadi silang dua gerakan pembuka ia mampu menyarangkan tinjunya yg telah tertanam jurus Godam Buminya yg terkenal ke dada Raka. Pemuda itu limbung di tengah serbuan puluhan pedang yg akan membelah Raganya, tapi disaat yg sama di bawah tanah saat para pendekar hitam berlari dalam serbuan itu, para hantu keluar menghadang serbuan senjata mereka. Tidak hanya dua, lima, atau sepuluh tapi ratusan para hantu lembah terkutuk yg telah Menyambut permintaan Raka. Para hantu itu bersama 10 Resi gentayangan berpesta dalam pertarungan. Mereka tidak dapat di bunuh tapi mereka dapat membunuh.


Saat Mpu Sankala telah selesai mempersiapkan jurus mautnya maka detik yg sama tubuh Raka pun telah selesai merespon rasa sakitnya. Mata Raka yg terpejam itu telah menyalakan cahaya retinanya. Pandangan 3 alam nya sedang menilik bagian tubuh Mpu Sankala untuk ia cincang. Dan,

__ADS_1


hiyaaaaatt...


di saat Mpu Sangkala melepaskan jurus pencakar langitnya, saat itu pulalah tubuh Raka melesat bak kecepatan kilat menyambut serangan itu, sebilah besi pipih bernama pedang arwah kembali dalam genggamannya menyibakan aliran jurus pencakar langit itu. Mpu Sankala terkesiap tanpa ia duga ujung pedang arwah mampu membelah aura jurusnya hingga ujung hunusnya telah tiba menyentuh dadanya. Hantaman pedang arwah yg Raka dorong dengan tenaga murni yg penuh membuat tubuh mereka berdua menderu terbang mengempaskan orang~orang sekitar lalu menembus sebuah bangunan dan melewati sebuah air curug yg dibalik terjunan airnya terrdapat gua petilasan tempat Mpu sankala bersemedi.


Tubuh Mpu Sankala terpancang ke dinding ruangan dengan pedang arwah yg memaku dadanya. Rahib Agung itu masih bernapas dan masih mampu melancarkan serangan jurus pencakar langit kepada Raka. Serangan balasan itu membuat tubuh Raka terhempas keluar gua lalu terkapar di dalam genangan air curug. Dengan terhuyung Raka berdiri dan kembali melesat ke dalam gua yg di tabiri air terjun curug tersebut.


Dan lagi..

__ADS_1


tubuh Raka dihantam oleh pukulan godam bumi yg sangat besar kekuatannya muncul di balik tabir air terjun tersebut saat menyambut lesatan Raka menuju ke dalam. Tubuh Raka terdorong ke belakang menghantam batu besar yg terdapat beberapa buah di sana.


__ADS_2