
Tubuh Ayandaru terduduk nyaman diatas paha kekasinya saat masih diteras rumah tepi sawah. Ia begitu seksama mendengar kisah hidup Raka. Di ujung cerita kisah itu, ke dua telapak tangan Ayandaru menumpu di dada Raka yg tersandar pada kursi. Satu gerakan cinta ia daratkan pada bibir belahan sukmanya. Jiwa Ayandaru berbinar saat menatap wajah Raka setelah ciuman itu mendarat.
* kamu suka Ra?
Raka hanya tersenyum dengan pertanyaan itu, sembari memainkan lipatan kain yg melelet di leher Ayandaru.
* dari mana kamu dapatkan syal ini?
* oh ini, dulunya ini taplak meja di kamar eyang. Karena motifnya bagus aku memintanya. lalu eyang menjahitnya karena byk yg sobek. Ya inilah, aku pakai saja buat syal sampai sekarang. Terasa nyaman saja aku memakainya. Memang kenapa Ra?
* permaisuri iRee ibunda dari kaisar Kun Bara memberikan sehelai kain pada pasukan perisai saat membuang ibu ku di lembah terkutuk. beberapa lama kemudian Kain itu di temukan oleh keluarga pencari senjata sisa pertempuran di lembah itu. Mereka menyerahkannya pada eyang Rinjani. Dari eyang rinjani kain itu di serahkan pada resi Buyako untuk di selidiki. Penyelidikan itu tak menemukan hasil. Di atas kain inilah aku di lahirkan.
* hah ??
Raka mencubit hidung mancung Ayandaru karena gemas melihat paras kekasihnya yg terlihat lucu.
* si peot itu informasinya banyak ya Ra?!
* maksud mu? Eyang Rinjani?
* eh iya, maaf. Aku cuma bercanda menyebutnya.
* eyang Rinjani itu nenek buyut mu!
* haaahhh !!
* hah, heh..hah, heh terus.
* aku bingung lah, maksudnya?
Dahi Ayandaru terlihat mengkerut.
* eyang Rinjani itu berasal dari klan syati, dia itu dari kaum mu.
* aku tak mengerti Raaaaaakaaaaa.
Intonasi ucapan Ayandaru dibuat panjang karena ia makin dibuat bingung.
* klan kamu itu terkenal dengan legendanya yg sangat kesulitan memiliki anak perempuan, juga memiliki khas yg unik dengan kecantikannya. kalau ada dari klan kamu yg melahirkan anak perempuan maka bayi itu akan jadi rebutan, terutama oleh para pejabat untuk di rawat dan di besarkan. ibu mu contoh salah satu perempuan yg di rawat Raja Gatarsyat, termasuk eyang Rinjani yg kecantikan tubuh dalamnya membuat rimba persilatan heboh. bayi itu setelah besar akan mereka nikahkan sendiri atau dengan keluarga mereka untuk memperbaiki keturunan karena anak perempuan klan syati memiliki tubuh yg sempurna luar dalam.
* hah ?
Ayandaru terkesiap, ia melipat kedua tangannya ke dada.
__ADS_1
* aku sudah liat.
* ih !!
Cubitan Ayandaru mendarat di perut Raka.
* kamu jangan gunakan ilmu itu sama aku Ra.
Raka hanya tersenyum simpul menjawab perkataan Ayandaru yg bernada permintaan seperti memelas manja.
* Raja Sailenda terbunuh saat terjadi kudeta yg dilakukan oleh jendralnya yg menjadi Raja Gatarsyat saat ini. Hanya untuk memiliki mu saat bayi yg tak dipenuhi oleh ayah mu. Dalam kudeta itu ibu mu juga terbunuh bersama kakaknya yg seorang pendekar. Saat pemakaman pendekar Rajaelang paman mu, eyang Rinjani kebetulan bertemu dengan Guru ku eyang Guntara, dan memintanya menyelamatkan mu. Sepekan sesudahnya kamu berhasil diculik lalu dibawa ke rumah pintu merah. Karena Rinjani kwatir para prajurit Gatarsyat sampai ke rumah itu, eyang Rinjani menyerahkan mu kepada sebuah keluarga Sada. Beberapa tahun kamu di rawat oleh mereka tapi sayang istrinya meninggal, setelah itu kamu di serahkan ke menara langit oleh keluarga Unar Sada yg menjadi gubernur provinsi Maltara saat ini. Dari menara langit kamu diambil oleh resi Buyako atas bujukan Raja pengemis dengan persyaratan 3 perusahan tambang permata di benua barat di berikan utuk mu Setelah dewasa, Raja pengemis menyanggupinya. perusahan permata dengan kwalitas terbaik itulah yg di ganggu begundal Bulaha yg menyebabkan Raja pengemis harus turun tangan langsung. Perusahan itu asalnya memang dari klan mu. tapi karena bangkrut di ambil alih oleh organisasi pengemis. Organisasi itu menutupi dengan perusahaan bayangan seolah~olah hanya pertambangan biji emas.
Ayandaru tak mampu berbicara lagi, tubuhnya terasa lemas. Ia menyandarkan bobot tubuhnya pada pangkuan Raka. Ia melabuhkan tangisnya dalam dekapan kaisar Mu Raka Seibunto III.
* kembalilah ke Galandara, saat semuanya telah siap aku akan pasangkan kembali mahkota itu di kepala mu.
* aku sudah tenang di sini Ra.
Ayandaru menjawab permintaan Raka dengan sesegukan. Raka meraih muka Ayandaru dan menghilangkannya di balik wajahnya.
Cukup lama Ayandaru menikmati cinta yg Raka berikan sehingga napasnya sedikit tersengal. Tapi kehangatan yg ia rasakan di bawah hidung Raka yg telah menjalari tempat bernapasnya sangat menagihkan hasrat yg telah begitu lama kesepian. Lagi dan lagi.
* eheem
* maaf ma, ayo kesana aku mau kenalkan.
* siapa?
* ke sana saja.
Ayandaru seperti menyeret mala ke teras rumah dimana Raka berdiri dengan tersenyum.
* ini Raka, mala.
* Raka ? Maksud mu Rakaaa..anu..apa..
* bersikaplah biasa saja mala jangan sampai ada yg melihat mu dalam bersikap.
Raka mendahului berkata sebelum mala akan melakukan sembah hormat karena ia telah membaca pikirannya.
* aduuhh, bagaimana ini?
Ayandaru memeluk Mala dan mengajaknya duduk di hadapan Raka.
__ADS_1
* nanti saja bagaimananya setelah di Galandara. Raka mengajak mu ke istana. Tidak ada pembuat tahu yg enak di sana.
* hah ?
* hah heh, hah heh terus. Lusa kita berangkat ke timur.
Ayandaru membawelkan bibirnya untuk menutupi terciduknya aksinya bersama Raka. Sedangkan Raka hanya tersenyum kecut.
* ya sudah, saya mau ke ibukota dulu.
* kemana Ra?
* bertemu Kun Bara
Sambil berlalu Raka memberikan ciuman di atas kepala Ayandaru. Ia melangkah keluar dan berkelebat menghilang di sela keremangan senja. Mala di buat terkejut dengan peristiwa itu. Meskipun ia juga Pendekar tapi kecepatan Raka di luar dugaannya.
* hei, kesambet nanti
* eh, anu. Iya apa tadi. Kun Bara apa?
Mala gelagapan bertanya saat ia belum menguasai diri.
* nama kaisar kita Kun Bara Seibunto.
* oh
* aku mau mengajak mu ke Galandara mala. Ayolah kamu mau ya?
* tapi bagaimana dengan rumah ini?
* kita minta tolong orang lain merawatnya?
* dananya?
* jangan pikirkan, kalau tidak ada yg mau merawat nanti aku suruh tentara perisai saja yg mengawasinya.
* ngawur.
Cubitan mala mendarat di pinggul Ayandaru.
* sudah sana kamu mandi dulu, sudah mulai gelap. Ketek mu pun sudah bau tahu.
* hahahaha
__ADS_1
Kedua gadis berparas menarik itu tertawa bersama.