Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 16


__ADS_3

Beberapa saat kemudian


Ayandaru sontak terlonjak ketika ada colekan yg singggah pada pinggangnya.


*hahaha


suara tawa yg tertahan itu berasal dari Andini yg merasa girang melihat ekpresi Ayandaru ketika terkejut. Karena kesal Ayandaru menarik lengan Andini dan berusaha menggigitnya dangan manja, tapi cepat di tepisnya dengan gerakan gesit. Bagaimana pun juga Andini masih memiliki naluri pendekar karena ia pernah berada di menara langit meski tingkat pesilatnya hanya penyala.


* ayo turun, ada restoran yg bagus. Makanan di sana sangat enak.


* makanan apa pemudanya?


Keduanya serentak tertawa kecil yg renyah, lalu menghilang di balik daun pintu balkon gedung komite.


Di seberang gedung komite itu Tanpa mereka sadari, tubuh keduanya yg hilang di balik pintu di lepas oleh sepasang mata milik Raka yang mengintip di celah jendela losmen dengan pikiran yg tidak menentu.


Pada sebuah Restoran.

__ADS_1


Ketika Ayandaru dan Andini menyantap makanan di sebuah Restoran yang tak jauh dari gedung utama kantor gubernur yang banyak di kunjungi para pejabat. Seseorang yang berpakaian tentara kekaisaran lengkap mendatangi meja mereka sambil menyerahkan sebuah surat pada Andini. seiring tentara itu pergi Andini membacanya. Ayandaru terdiam melihat mimik muka Andini. terlihat ada sesuatu yg sepertinya sangat serius.


* Ada apa An?


Andini menoleh ringan menatap Ayandaru, ia hanya melemparkan senyuman.


* tak ada apa~apap, ayo teruskan makan. Nanti setelai selesai kamu pulang duluan. Aku mau ke gedung komando.


Andini berujar di sela ia mengunyah makanan yg langsung di pahami Ayandaru sembari mengangguk kecil, meskipun ia tidak tau isi surat itu tapi Ayandaru dapat menduga tatkala ia melihat mimik muka Andini. ada sesuatu yg sedang terjadi.


* kamu tak apa pulang jalan kaki Ay?


* iya, Tak masalah. Sekalian aku ingin menyusuri jalan kota, sudah lama aku tak melakukannya.


* ya sudah, jgn telat pulang!


Ayandaru mengangguk seiring kelompok Andini itu keluar restoran dengan derap kuda yg di pacu sangat kencang. Ayandaru pun melangkah pergi meninggalkan restoran.

__ADS_1


Bagi Ayandaru kota Maltara adalah rumah kedua setelah rimba terlarang. Ia sangat mengenali kota itu dgn lorong pemukimannya. Jarak kantor gubernur ke hotel cukup jauh sehingga Ayandaru memilih melewati jalan pintas. Tubuh gadis yg berbody indah itu hilang terggelam pada setiap mulut gang perumahan. Pinggul montoknya yg padat mengayunkan setiap pandangan lelaki yg berpapasan dengannya. Tapi Ayandaru tak peduli dengan tatapan jahil itu, ia sedang berusaha menipu panas yg terik sembari mencari teduh pada pohon yg berdiri di depan perumahan.


Ayandaru dengan lincah menyelinap di antara bayangan pohon, dan bangunan perumahan meskipun kota Maltara berhawa sejuk karena diapit oleh Rimba terlarang, perbukitan Menara Langit dan gunung SIMAYA di mana lembah terkutuk berada.


Sekonyong~konyong ia keluar disebuah gang yg bagian sisi kirinya terdapat restoran dan sisi kanannya toko kelontong. Ayandaru menyunggingkan senyum melihat restoran tersebut. Ia sangat berselera dengan serutan es kelapa muda dengan madunya.


Ketika ia masih belia bersama Andini sering memesannya di kala sedang berlibur di kota Maltara.


Ayandaru melangkah memasuki restoran yg suasana di dalamnya memang terlihat cukup ramai. Pandangannya mengedar mencari tempat kosong dan Ia menemukannya dekat jendela bagian depan restoran itu, bersebelahan dengan meja lain yg berada dekat pintu masuk terjepit oleh daun pintu.


Dari tempat duduknya Ayandaru bisa melihat Hotel Pelangi Utara yg berada di seberang jalan dan beberapa toko perhiasan. Ayandaru berencana mampir ke toko perhiasan tersebut untuk membeli anting baru. dan juga seuntai kalung untuk Andini setelah menikmati minuman serutan kepala muda dengan madunya yg telah menggugah seleranya.


Tanpa ia sadari tangannya bergerak memegang telinganya. Ada sesuatu yg tak akan pernah ia lupakan dengan telinganya tersebut, kenangan dari seseorang.


Ayandaru ingin mengganti antingnya dengan bentuk yg ia rupakan dalam angan. matanya menerawang melukis bentuk anting itu dalam pikirannya.


Ia terlihat tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2