
Pagi itu di tengah kota PADANGARI, Raka tengah duduk bersila pada sebuah persimpangan yg sangat padat. Di sampingnya terlihat seorang pengemis sedang memandangnya dengan sinis, tatapan pengemis itu seolah berusaha mengusirnya. Raka tidak mempedulikan tatap sinis gelandangan disebelahnya, ia sedang fokus dengan sesuatu diantara lalu lalang kaki warga kota.
Ada yg melemparkan koin kecil didepan Raka, terkadang mukanya tertimpa kertas2 sampah yg terbang, tapi Raka seakan acuh. Ia sedang memilah~milah pembicaraan orang yg sedang lewat. Ternyata suara2 itu hampir seragam.
Kehilangan benda pusaka yg berasal dari kota padangari di menara langit telah menghebohkan warga.
Raka mulai beranjak pergi ketika kaki pengemis tersebut sudah menjulur2 menendang pahanya. sambil berlalu Ia meletakan dua koin emas pada kaleng pengemis tersebut lalu melangkah pergi dengan tenang. Ia sedang memikirkan rencana apa yang harus dilakukan. sedangkan si Pengemis itu terkejut melihat isi kalengnya yg isi Raka, selama ia hidup dalam mengemis itulah rezeki terbanyaknya.
__ADS_1
Raka mempunyai keinginan kembali ke rumah pintu merah tersebut, ada beberapa hal yg membuatnya ingin bertanya lagi. Untuk apa ia ke Menara langit sedangkan Raka mendengar tempat tersebut telah dibarikade. Gadis yg ia cari pun si kakek itu bilang sudah tidak ada di rimba terlarang dan juga telah mendengar rimba itu telah di tutup kaisar. Kalau ke kota Tibaru ia belum bisa memastikan keberadaan Apin.
Raka hanya bisa mondar mandir di perempatan jalan utama kota Padangari, yg dulunya ibukota kerajaan PAHUYUN. Raka menemukan gelagat asing pada tiga orang penunggang kuda. Dengan penglihatan 3 alamnya Raka melihat orang asing tersebut lagi memandang kiri kanan menatap awas setiap orang sambil memasuki sebuah jalan.
Raka berkelebat di gang sempit yg lengang untuk memintas arah penunggang kuda, karena ia tidak melihat tanda kalau mereka dari gugus darma apalagi tentara. Rasa penasarannya dengan dua orang jompo dipintu berwarna merah, dan gosip pusaka yg hilang membuatnya ingin tahu apa yg terjadi pada kota tersebut.
Raka mengais2 bak sampah yg berada di rumah pintu merah, ia telah sampai sebelum ketiga orang itu tiba. Baju Raka yg lusuh dengan rambut panjang sebahunya yg berantakan membuat penunggang kuda itu tak memperhatikannya ketika berselisih. Mereka terlaku fokus dengan sudut matanya menatap ke arah rumah berpintu merah. Dua penunggang kuda berlalu dan hilang dibelokan gang, sedangkan yg satu lagi berbaur dengan pengendara yg ada di jalan utama. Raka menatap rumah tersebut, mata 3 alamnya melihat aura putih yg menyelubunginya. Ia tak melihat seorang pun di dalamnya.
__ADS_1
Senja telah menyapa kota padangari. Di dalam rumah bertingkat yg sedang di bangun berjarak satu gang dari rumah berpintu merah, Raka sedang duduk bersila memandang rumah dua orang jompo tsb. Raka diam tak bergeming, matanya tetap tenang, suara napasnya diperkecil, detak jantungnya diperhalus. Dalam kamar yg setengah jadi itu Raka telah mengambangkan mindanya menyatu dengan alam sekitar, Ia sedang menunggu.
Tiga bayangan menyelinap melompati tembok belakang rumah berpintu merah, Dua orang langsung berusaha membuka kunci pintu dengan senyap, sedangkan satunya berdiri ditengah halaman belakang rumah. Dua orang itu agak kesulitan dgn kuncinya, mereka menatap temannya yg dihalaman untuk meminta pendapat dengan isyarat, tapi si teman terlihat tak mambalas tanda. Mereka menatap ulang ke halaman, yg mereka lihat seseorang telah berada di belakang temannya nyaris tertutup oleh tubuh temannya tersebut.
Mereka berdua terkesiap, mereka cepat sadar sesuatu telah ikut campur dengan rencana mereka. Sejurus kemudian mereka turun ke halaman tapi terkejut saat melihat sebuah pedang sedang terhunus dekat kepala temannya. Tidak ada rencana A dan B, mereka langsung menyerang Raka. namun ayunan Tebasan pedang Raka di dekat leher temannya mengantar ia ke alam baka.
Kedua penyusup itu memang terlatih dan mahir, mereka menyerang tanpa jeda, tak membiarkan Raka bersiap. Pertarungan di halaman yg tertutup tembok di tengah pemukiman yg padat itu akhirnya berbuah darah. Dua pedang penyusup dibuat patah laksana dua kayu lapuk, sabuah sayatan di dada telah merobohkan satu lagi. Seorang yg tersisa berusaha kabur melompati tembok pagar yg tinggi tapi tubuhnya terbetot ke bawah di mana Raka telah menunggu tubuh tersebut dengan sebilah pedang yg ia ambil di sela~sela atap kandang ayam. Tiga penyusup itu tergelimpang di sekitar halaman.
__ADS_1