Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 7


__ADS_3

HARI TERAKHIR



Pertarungan antara murid dan guru.


Menjelang pagi buta yg masih diselimuti kabut, bahkan burung liar pun masih segan untuk bersiul membangunkan penghuni hutan. Mereka lbh tenang disarangnya masing2 menikmati semilir gerimis yg mulai tertumpah dari langit.



Dua orang sedang berdiri tegap ditengah sebuah padang yg cukup luas dilembah terkutuk. Mereka tengah bersiap mengahadapi sebuah pertarungan penentu yg terakhir. Bagi keduanya pertarungan itu untuk menciptakan awal dari sekeping takdir yg kelak akan mereka jalani.


Resi Guntara dengan Raka saling berhadapan dgn jarak 50 meter disaksikan oleh makhluk2 hutan yg penasaran disela2 kabut embun yg masih menggantung.


Pada saat yg sama gerimispun semakin mulai lebat beserta angin yg mengikut kencang. Suasana lembah mulai terasa mencekam disaat suara2 hutan mulai hening secara perlahan.



\* aku harap kau bisa mengalahkan ku tak lbh dari 10 jurus, anak ku.

__ADS_1



Suara Guntara yg serau memecah kesunyian, Tanpa memperpanjang bicara lagi Guntara memasang kuda~kuda, ia mulai merendahkan tubuhnya dengan kaki yg sedikit menjongkok. Kedua tangannya saling mengepal dan menyilangkannya didada, lalu tangan yg kiri menjura kedepan membuka telapaknya. Sedangkan kepalan tangan kanan ditarik kearah kanan tubuhnya.



Seketika energi tenaga dalam langsung menyelimuti tubuh pendekar kijang merah. Energi itu semakin lama semakin besar hingga memendar sejauh 3 meter disekeliling Guntara. Keadaan disekitar Guntara berdiri pun mulai terpengaruh dgn efek tenaga dlm tsb, seperti dedauanan yg gugur dan ranting patah yg kering mulai mengambang seperti kapas. Kerikil pun seperti ingin terbang. Jurus mematikan telah dipersiapkan sehingga aura petarung Guntara menimbulkan percikan energi yg memantul ditengah kabut.



Percikan energi ity mirip kilatan petir yg mulai saling bersahutan ditengah kabut yg masih pekat. Sang Resi Guntara mmg telah berada dlm kesiapan penuh untuk bertarung.




suara raka yg tenang menjawab tantangan gurunya.


__ADS_1


Mendengar jawaban muridnya, Guntara tersenyum kecut. Ia tahu dengan pasti itu hanyalah sebuah kemustahilan tapi bulu tengkuk Guntara pun bergidik. Jawaban itu berasal daru pemuda yg diberkahi kekuatan alam yg besar. Jika boleh jujur tingkat tenaga dalam Raka mempunyai energi tak terbatas. Guntara bahkan sering kerepotan mengatur napas ketika dalam melatih muridnya itu. Apalagi jika Guntara mengingat cara Raka bertarung dgn para arwah pesilat lembah terkutuk. Itu bukanlah pertarungan antar manusia tapi pertarungan pada kasta tertinggi antara dua alam.



Raka pun telah dalam posisi siap bertarung, dgn tubuh yg agak merunduk ketanah tumit kanannya dijadikan menopang pinggul. Sedangkan kaki kirinya sedikit memanjang kebelakang sehingga lutut kirinya menyentuh tanah. Tangan kanannya melipat dibelakang punggung sedangkan tangin kirinya terbuka menggantung dipermukaan tanah. Dgn perlahan Raka memajamkan mata. Lalu...



Wuuuttt...



Sebilah besi pipih yg tajam tanpa gagang berwarna perak berdiri dlm posisi mengambang didepan Raka. Panjang besi tsb berkisar 1 meter, bentuknya mirip sebuah pedang pada umumnya tapi lebarnya lebih kecil. Pedang ity langsung berkilau ketika Raka membuka matanya krn mata itu mengeluarkan cahaya putih yg membiru.



Pemandangan yg menakjubkan tsb membuat penghuni lembah terkutuk jadi terkesima. Mereka penasaran untuk mengetahui apa yg akan terjadi.


__ADS_1


Dua kekuatan akan saling bertindak tanpa belas kasih meskipun itu duel antara murid dan guru. pertarungan tsb bukanlah latihan. ia adalah pertarungan hidup mati sebagai sarana pembuktian bahwa setiap takdir memiliki keajaibannya ceritanya masing2. kedua pendekar itu sangat memahami makna dari kata membunuh atau mati. mereka paham apa yg tak dipahami manusia lain.


__ADS_2