
Ratusan tahun yg lalu.
Kembali pada hari pertarungan dilembah terkutuk. Suasana akhir dari medan laga pada hari berkecamuk itu sangat mencekam. Tumpukan mayat saling tumpang tindih dan bergelimpangan hampir menutupi pelataran kaki gunung tersebut, yang selamat mencoba melarikan diri dari kawasan yang sedang diamuk kematian meski dengan terluka yg cukup parah, itupun harus berjuang sampai titik nadir ketika malam menjelang. hutan laksana pemenggal nyawa yang berwujud binatang buas.
Dua hari mayat~mayat itupun mulai membusuk, aroma menyengat membubung ke sekitar lembah. Ditengah ladang mayat itu terlihat sosok tertelungkup yg terluka parah sedang berupa melawan takdir, sesekali matanya menatap langit dengan nanar dipenuhi luka lebam dan sayatan yg cukup mengerikan namun ia tetap menyeret tubuhnya mencari tempat berlindung.
akhirnya Sang Pencipta Alam memberikannya peluang akhir ketika tangan sosok itu berusaha meraih sebuah batu seukuran lingkar kedua tangan. Ia merapalkan jurus yg dimiliki dengan sisa2 tenaganya agar ia mampu mendirikan punggungnya pada batu tsb.
ihyaattt..
__ADS_1
suara seraknya memecah kesunyian
lalu...
swwwuurtt..
Justru malah batu itu yg bergeser sejauh dua jengkal. sosok itu mencoba untuk meraba karena luka yg membengkak telah menutupi bola matanya. Ia seperti menemukan ada celah di bawah batu itu seperti lobang, Seketika sunggingan senyum menggurat ditepi bibirnya.
Ternyata liang kecil itu melebar kebawah seakan dibawah sana ada bilah2 tanah yg cukup besar saling menyekat membentuk ruangan. Sosok itu mengerang dgn suara perih yg menyayat saat tubuhnya terhempas, dalam kesakitan tak terkira tubuhnya lunglai lalu pingsan.
Sosok itu tak tahu sudah berapa lama ia pingsan dan sudah berapa lama ia dalam gua. Ia hanya melihat kegelapan, terkadang ada sedikit cahaya yg menembusi pori2 kerak tanah yg melapisi bumi hingga keliang itu. tapi kegelapan diliang tsb adalah waktu terlama yg ia jalani.
__ADS_1
Sosok itu ternyata adalah pendekar aliran putih tingkat resi berjuluk **KIJANG MERAH bernama GUNTARA**.
Beberapa waktu yg lalu ketika Diatas sana dlm pertarungan yg melelahkan, ia bak kijang jantan bertanduk tajam seribu. Menyeruak diantara puluhan pendekar golongan hitam sambil menghantamkan jurus2 pamungkasnya tiada henti dan tak mengenal takut apalagi kematian. puluhan sabetan pedang dan hujanan anak panah menyasar tubuhnya namun ia semakin lapar untuk membunuh.
Pendekar kijang merah adalah pendekar resi yg hilang ditelan bumi tersebut. Didalam gua bersama luka yg ia dera mencoba bertahan dlm semedinya. Dgn ilmu pesilat tingkat resi rasa lapar bukan masalah krn pendekar tingkat itu mampu merubah energi tenaga dalamnya menjadi sumbu makanan untuk menghasilkan tenaga.
Puluhan tahun berlalu
ketika ia telah pulih, kijang merah yg bernama GUNTARA sedang keluar dari liang tempat ia menjalani semedinya dan memilihkan diri dari cidera. sesampai diatas ia melihat ternyata lembah terkutuk telah menjadi hutan yg lebat. Ketika ia sedang mencoba beradaptasi dengan suara hutan, samar2 ia mendengar suara tangisan bayi. Tak butuh berpikir panjang karena insting pendekarnya mampu membaca amanat alam meskipun itu hanya berupa isyarat yang tak dikasat mata atau yang tak disurati alam sebelumnya.
Secepat hembusan angin ia mendatangi suara tersebut lalu mendapati seorang bayi laki2 yang kurus kerontang berumur kisaran setahun sedang meringkuk ditengah tumpukan tengkorak. Lalu sang pendekar Resi Guntara membawa bayi itu ke dalam liang tempat dimana ia bersemedi.
__ADS_1