
Siang hari, di teras belakang rumah berpintu merah. Eyang Rinjani, Ayandaru, Raka, Nipara dan Sutarsa sedang menikmati makan siang perpisahan. Mereka telah sepakat dengan rencana selanjutnya. Ayandaru diberi amanat mengembalikan pusaka langsung kepada kaisar untuk membersihkan nama Resi Buyako dan memintanya tidak memberitahu siapa yg mencuri, dan kembali ke rumah tersebut. Eyang Resi Buyako punya titipan untuknya.
Nipara di tugaskan menyelidiki keberadaan pendekar Sabit Kembar agar disusun rencana untuk menuntut balas. sedangkan Sutarsa akan melanjutkan pelacakan kembali ke kota Masoa mencari Raja pengemis. Raka di minta menunggu karena ada sesuatu yg akan di sampaikan oleh Eyang Rinjani.
Malam harinya Nipara dan Sutarsa berpamitan agar tidak ada yg melihat mereka keluar dari rumah tersebut, tempat itu akan selalu di rahasiakan.
Eyang Rinjani pagi esoknya terlihat menuju suatu tempat, penyamarannya sangat sempurna.
Sedangkan ditengah halaman belakang rumah berpintu merah dua orang sedang berpelukan. Lengan Ayandaru melingkar penuh dileher Raka, telapak tangan kanannya menyelusup diantara lebatnya rambut Raka yg tidak beraturan. Ayandaru tak mau menjarakkan tubuhnya yg melekat dalam pelukan Raka. Ia merasakan itu, kehangatan penuh kasih sayang yg selalu di inginkan setiap insan. Dua kening seakan bertaut untuk membicarakan suara pikiran mereka di sela hidung yg saling bersentuhan.
* Raka.
* ya.
* boleh aku bertanya?
* ehhmmm.
* apakah cinta perlu diucapkan?
Raka hanya terdiam mendengar pertanyaan itu, ia hanya memainkan hidungnya di ujung hidung Ayandaru
Lalu Raka menyentuhkan sesaat kedua bibirnya pada ujung bibir bawah Ayandaru.
__ADS_1
* lagi Ra.
Raka mengulangnya kembali sentuhan itu dengan sesaat. Ayandaru yg telah menunggu kehangatan itu hanya bisa mendesah. Ia membuka mata sendunya menatap wajah orang yg ia sayangi. Tak ada kata yg terucap karena ia menikmati rengkuhan Raka yg erat.
* Raka.
* ya.
* katakan sesuatu yg bisa aku dengar, aku membutuhkannya.
Raka tak menjawab, hanya tangannya yg meraba lembut berada di punggung gadis yg telah meluluhkan hatinya. Ayandaru lebih mengeratkan tubuhnya ke dada Raka, mendekatkan pangkal hidungnya untuk menikmati hembusan napas Raka. Ayandaru sedang mencari sesuatu untuk meluapkan apa yg ia Rasakan, Rasa itu seakan tak sabar mendorong untuk mencapainya.
Raka tahu apa yg dirasakan Ayandaru, kemudian ia melepaskan pelukannya sambil menjamah pipi Ayandaru dengan kedua tangannya. Pandangan mata Raka yg tenang telah meredupkan mata sendu Ayandaru hingga terpejam, ia menunggu.
Satu kecupan menyentuh pipi kiri Ayandaru lalu menjalarnya sampai ke telinga. Terdengar samar dan dalam Raka mengucapkannya.
* aku mencinta mu Ayandaru.
Pecahlah tangis Ayandaru, air mata itu menetes melembabkan pipinya, mengalir jatuh pada bahu kiri Raka. Sedu sedan Ayandaru dalam pelukan Raka masih belum dapat melepaskan apa yang ia inginkan.
* Raka
Suara Ayandaru mendesah lirih itu seakan menginginkannya. Tubuh Ayandaru menggeliat, ia memintanya dengan mendekatkan bibirnya pada Raka.
__ADS_1
Lalu...terjadilah.
Bibir gadis yg ranum itu telah diberi stempel cinta, untuk pertama kali dalam hidupnya di halaman belakang rumah berpintu merah.
* Raka.
* ya.
* mahukah kamu mendengar jawabannya?
Raka menggeleng pelan dengan tersenyum.
* tapi aku tetap ingin mengatakannya.
* besok saja kamu beritahu saat pergi ke istana. sekarang aku mau minta tolong kalau boleh.
* boleh. kamu mau apa?
* tolong potong rambut ku sampai gundul.
* hah ???????
Sore itu Eyang Rinjani pulang membawa sesuatu, sampai di teras belakang ia hanya tersenyum heran melihat Ayandaru sedang memangkas Rambut Raka. lalu meninggalkan mereka menuju ruangan bawah tanah.
__ADS_1