Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 41


__ADS_3

Di balai~balai belakang rumah terlihat Ayandaru memeluk ratih yg di apit oleh ibu masni, sedangkan Bowo hanya duduk terdiam mendengar Api yg bercerita. ia yg agak telat datang waktu kejadian itu. Apin menceritakan awal mula terjadinya perselisihan di posko penjagaan. di sisi lain Raka hanya bermain~main dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Raka tak mampu memandang Ayandaru yg acap kali memandangnya.


* saya pun terkejut melihat Raka, malam itu menampakan aslinya keluar, kalau ternyata dia adalah pendekar tingkat atas yg selama ini tertutup dengan sikap diamnya semenjak tinggal disini.


* jangan dibahas pin, Raka tak mau dikenali dengan hal itu.


* tak apa~apa buk masni, cuma kita saja disini, apalagi nona Ayandaru juga seorang pendekar.


Ayandaru tak mendengar lagi obrolan buk masni dengan Apin. Matanya memandang lekat~lekat Raka yg duduk di sebelah Bowo yg berada di atas tumpukan kayu bakar yg tersusun rapi.


sedangkan Raka yg tahu kalau Ayandaru selalu memandangnya hanya tetap terdiam.


* jadi Raka bukan kakak kandung Ratih?


Bowo, buk masni dan Apin saling menatap masing~masing mendengar pertanyaan Ayandaru. Mereka bingung menjawabnya dan juga terkejut sehingga hanya saling pandang.


* kak Raka yg menyelamatkan Ratih waktu di hutan perbatasan.


Ratih datang menyela sekaligus memberitahu serta menceritakan kejadian dihutan perbatasan itu. Saat Ratih bercerita Apin menatap Raka dan Ayandaru bergantian, ia merasa ada sesuatu diantara mereka. Bowo pun menyadarinya melihat tatapan Ayandaru pada Raka yg tak bicara sepatah kata pun. Apalagi buk masni yg sudah kenyang dengan gelagat anak muda.


* bowo, ayo ikut aku. Kita ke rumah kepala desa kampung bawah. Kita cari tahu bagaimana penyelesaian masalah tadi siang.


* sana bo, ikut Apin, ibu sama Ratih mau siapkan makanan. Cepat pulang biar nanti kita makan bersama.


Bowo langsung arif dengan kode Apin dan ibunya. Ia langsung pergi mengambil kuda.


* saya tinggal dulu sebentar nona, saya ke rumah kepala desa dulu sama bowo.


* iya, hati~hati.


Sambil berlalu menyusul bowo, Apin menepuk punggung Raka.


* bicaralah, dia mengharapkan itu.


Raka hanya tersenyum kecut mendengarnya, dan melihat ibuk masni dan Ratih pun telah masuk ke dapur.


Raka menghela napasnya, ia belum mampu menegakkan kepalanya menatap Ayandaru yg masih memandangnya.


* sudah berapa lama kamu disini?


Pertanyaan Ayandaru membuat Raka menolehnya, gantian Ayandaru yg menunduk menghindari tatapan Raka.

__ADS_1


* entahlah, aku tak menghitungnya. Aku betah disini.


Kembali keduanya terdiam


* apakah kehadiran ku disini mengganggu mu? Biar aku kembali ke kabupaten sekarang.


* kenapa kamu bicara seperti itu?


* dari tadi kamu diam saja.


Raka menatap mata Ayandaru yg juga kembali menatapnya. Cukup lama mereka saling pandang namun akhirnya Ayandaru yg mengalah.


* aku tak tahu harus bicara apa.


Ayandaru coba mengerti kalau pemuda di depannya adalah lelaki pendiam, kalau dia lelaki pasaran tentu sejak di kota Maltara dia sudah kegenitan merayu seperti para komandan muda di istana.


* kemana kamu menghilang dari kota Maltara?


Raka hanya mengangkat bahunya sambil menghela napas. Dan kembali hening.


* apa yg kamu pikirkan? Kamu tak mau bicara pada ku?


Tup...


sebuh batu kecil mendarat tepat di hidung Raka yg sengaja tidak ia hindari ketika Ayandaru melemparinya. Raka membiar dia melampiaskan kekesalannya karena Raka juga tak tahu harus bicara apa dan bersikap bagaimana. Berada di dekat gadis yg telah membuat hatinya luluh tak semudah menghadapi ratusan gentayangan di lembah terkutuk, Begitu pikir Raka.


Ayandaru terkesiap yg secara diam~diam mencoba membaca pikiran Raka.


Lembah terkutuk? Apa hubungan Raka dengan lembah itu?


Ayandaru mencoba memikirkannya.


* kau tidak akan menemukan apapun disana, jangan baca pikiran ku.


Ayandaru sedikit mencibirkan bibirnya untuk menutup rasa malu karena ketahuan membaca pikiran Raka.


* huh


Dengan kesal, kembali melempar Raka pakai kerikil kecil yg ia pungut dalam pot dekat ia duduk. Raka tak menghindarinya lagi.


hanya sedikit tersenyum melihat wajah Ayandaru dengan mata 3 alamnya walaupum sedang menunduk.

__ADS_1


* anting mu jelek.


* hah?


Ayandaru terkesiap dengan mata yg sedikit melotot tapi tangannya langsung meraba ke dua kupingnya. Mukanya tersemu merah setelah sadar antingnya memang berbeda antara kiri dan kanan.


* biarkan saja, memang masalah buat mu?


Raka hanya tersenyum melihat ekpresi wajah Ayandaru yg menggemaskan.


* aku tak punya masalah dengan mu tapi aku dulu punya masalah dengan telinga mu.


Ayandaru kembali tersemu, Sambil memegang kuping kirinya, ingatan Ayandaru melayang tentang kejadian di sisi sungai. Ketika pipinya di sentuh seorang lelaki, ketika elusan yg lembut meraba kupingnya. Dari sanalah semua ini dimulai.


* di mana senjata itu kamu simpan, aku tak melihatnya?


Sambil diam Raka merundukan tubuhnya sambil melihat keatas seolah sedang mengintip langit di balik atap belakang rumah, Lalu kembali meluruskan duduknya dengan tersenyum. Ayandaru yg mengikuti gerakan Raka akhirnya menjadi kesal, ia sudah terlanjur mengikuti gerakan Raka.


* katakan saja pakai mulut, bikin orang kesal saja !!


Dengan rasa jengkel dan manjanya Ayandaru melangkah masuk dapur, ia tak menemukan Ratih dan ibu masni. Di ruang tengah pun tak ada, hanya hidangan makanan yg sudah tersaji. Ia coba mengintip lewat jendela kearah halaman dan mendapati apa yg ia cari ada di halaman. Lalu Ayandaru kembali ke pintu dapur sambil menyenderkan bahunya kedinding dengan melipat kedua tangannya ke dada.


* mereka semua sedang merumpi di dekat ayunan, Ratih, ibu, Apin dan bowo.


*aku sudah tahu.


* hah?! Kamu punya mata ghaib kah?!


* lebih dari yg kamu miliki.


Ayandaru terkesiap, ia meluruskan berdirinya sambil menoleh melihat tubuhnya Sendiri, lalu mundur satu langkah ke balik pintu.


* pikiran mu itu terlalu jelek.


* apanya yg jelek, kalau lebih dari mata ghaib apalagi coba yg tak bisa kamu lihat?!


Ayandaru melihat Raka tersenyum mendengar apa yg ia ucapkan, tapi senyum itu justru membuat Ayandaru semakin kelihatan diejek.


* tuh benar kan? Kamu pasti memakai ilmu tersebut.


Raka sudah tak bisa lagi bicara, menghadapi seorang wanita sedang merajuk hanya perlu jurus purbakala, menghindar !

__ADS_1


__ADS_2