
Suatu malam di kota kabupaten
Raka dan Apin menikmati pertunjukan kaswari dari jauh, mereka tak mampu melihat para kaswari dari dekat karena saking ramainya pengunjung. Dari jauh hanya melihat wanita berlenggok~lenggok diatas panggung yg cukup besar. Meskipun tak puas si Apin tetap gembira sambil curi~curi pandang pada gadis yg lalu lalang.
* sebaiknya kita istirahat dulu Ra, cari tempat yg adem~adem, ke tempat janda.
* di mana?
* itu disana, depan jalan masuk pendopo. Tapi mungkin jalannya di tutup karena prosesi buat besok.
* kita coba lihat dulu, pin.
* ayoo
Mereka berdua menuju tempat yg dimaksud, ternyata tidak ditutup. Hanya saja terlihat tentara berjaga yg cukup banyak. setelah sampai pada tujuan Raka dan Apin menikmati jagung janda tersebut dibangku yg tertutup bayangan pohon dari timpaan cahaya lampu kota. Mereka berencana duduk cukup lama sambil menunggu bowo pulang kerja tengah malam nanti agar bersama~sama pulang ke kampung nelayan.
__ADS_1
Selang beberapa waktu yg lama, Beberapa orang yg duduk makan jagung si janda seperti melihat sesuatu dari kejahuan. Apin berdiri untuk melihatnya.
* ada apa pin? Kenapa orang~orang pada berkerumun tepi jalan?
* ada rombongan kerabat kaisar menuju kesini, sepertinya akan masuk ke jalan pendopo ini.
Seiring rombongan mendekat, Raka dan Apin berdiri dari duduknya mengikuti orang~orang yg mulai berlarian kesisi jalan untuk melihat.
Ada dua tentara berpakaian jubah kebesaran memimpin rombongan, sedangkan Dibelakangnya Pada sisi kanan dan kiri berjejer tentara berpakaian lengkap mengapit rombongan yg berada di tengah. Semua orang menjura hormat ketika rombongan berlalu di dekat mereka. Ada yg melambaikan tangan pada rombongan yg sangat panjang tersebut.
Raka terpana memandangi salah satu anggota rombongan kerabat kaisar, ia mencoba melilipkan mata untuk meyakinkan bahwa ia tidak bermimpi tapi sosok itu benar~benar kembali membuat buncah desiran di jantungnya yg akhir ini nyaris tak berbunyi. seolah tak percaya Raka menggunakan mata 3 alamnya melihat sosok gadis yg berada dalam rombongan.
Suara Raka yg terdengar melirih dibalas Apin dengan sikutan kecil.
* jangan coba mimpi lagi berdiri kawan, nanti bangun mu kesiangan. Hahaha. Cantik ya para kaswari dan keluarga kaisar, seandainya salah satu dari mereka lupa cara hidup di istana, saya bersedia membawanya hidup sebagai nelayan. Dan membuatkannya perahu kecil yg indah diatas gelombang.
__ADS_1
Raka tak menghiraukan apa yg diucapkan Apin, pikirannya sudah dipenuhi banyak pertanyaan, rasa penasaran juga rasa rindu yg sulit ia hilangkan.
Pada sisi lain.
Saat memasuki tikungan jalan menuju pendopo, Ayandaru yg berada pada kelompok rombongan ketiga dibuat terpaku diatas kudanya ketika matanya secara samar menangkap wajah seseorang. Dengan mata ghaibnya mencoba melihat wajah yg tertutup bayangan pohon itu.
* astagaaaaaa, apakah dia?!
Goncangan di sanubarinya bergetar hebat, rasanya ia ingin turun dari kuda dan memastikannya tapi tak mungkin mengganggu protokoler kirab, bakalan membuat kehebohan dan merusak acaranya.
Kedua mata dua insan yang sedang dituntun oleh takdir saling menatap, dua hati yg saling tak mengenal sedang dipertemukan, dua jiwa yg masih asing, kembali diberi waktu.
Dan...
Di saat yg tepat keduanya saling memberi senyum penuh makna.
__ADS_1
Meskipun bibir Ayandaru melengkung indah dengan sekilas, walaupun lekukan bibir Raka bergerak samar. Keduanya telah mengunci isyarat itu pada alam. Raka tertunduk senang disamping pohon kayu dekat jagung bakarnya si janda. Sedangkan Ayandaru merasa jiwanya sedang berbunga diatas kudanya yg jantan.
Langit telah mengukuhkan mereka tanpa suara pada satu ikatan yg tak perlu adanya ucapan ikrar. langit tak membutuhkan itu dan tak akan pernah mempertanyakan alasannya, karena merekalah yg menentukan demikian.