
BENUA TIMUR, di sebuah hutan perbatasan kerajaan BAIDUR BAI dengan NESRIABAR.
Terlihat Seorang wanita berbaju lebar seperti jubah, bagian luarnya yg melipat kecil~kecil membungkus baju dalamnya yg berwarna biru dengan caping kuncup menutupi wajah bagian atas wajahnya, sedangkan bagian bawah tertutup dengan cadar yg selaras dengan baju tersebut menghadang Raka, sebilah pedang terselip di pinggangnya yg ramping terikat oleh sebuah sabuk berwarna yg sama. Wanita itu menghampiri Raka.
* jika berkenan, sebutkan nama tuan dan julukan pesilatnya?
Yang tidak disadari wanita itu adalah orang yg berada di depannya memiliki pandangan 3 alam. meskipun wajahnya nyaris tertutup, Raka mampu melihat paras ayu nya dengan rinci, termasuk sebuah tahi lalat di pipi gadis tersebut.
Raka menghela napas ringan
* untuk apa anda bertanya pada sesuatu yg anda sudah ketahui.
Gadis dibalik cadar itu terkesiap. ia tak menduga perkataan pemuda gundul itu.
* saya hanya ingin memastikan.
* hhmmmm.
* saya di beritahu tentang perjalanan anda dari benua utara, dan ini bukan arah yg anda tuju.
Raka diam dengan tenang seolah tak menanggapi perkataan gadis tersebut. Si gadis berbaju merah sedikit kikuk, ia tahu pemuda gundul itu pendekar tingkat atas tentu pengetahuannya banyak. Apalagi gadis itu sedikit terpesona dengan wajah yg berkepala plontos. Raut muka tenangnya, hidung yg mancung dengan mata yg tersusun datar bersama alis yg memagarinya benar~benar wajah lelaki.
Garis bibir Raka bergerak seperti membuat lengkungan tipis. Senyum selayang itu keluar karena telah membaca pikiran gadis bercadar biru.
Si Gadis itu cepat~cepat menguasai diri, firasatnya memberitahu kalau pemuda itu mungkin bisa membaca pikiran.
__ADS_1
* nama saya Rayola. Saya murid pendekar Kaleng.
Raka mengingat Sutarsa, ia coba menganalisa kehadiran gadis itu di depannya. Rayola menyadari dengan melihat mimik wajah Raka yg seakan belum mengerti.
* saya di minta guru untuk melacak eyang jalu di sini. Dua hari yg lalu penyelidik Atsylandya memberitahu kalau penghubung anda di nesriabar belum mendapat kabar, Kemungkinan anda tersasar ke sini, Ternyata benar. Saya hanya di minta tolong melacak anda. Ini wilayah kerajaan Baidur Bai tuan.
Mohon maaf atas sikap saya yg tak sopan ini.
Raka mulai paham dan mengangguk kecil.
* kenapa paman Sutarsa tak memberitahu beliau punya murid bertahi lalat di pipi?!
Rayola terkesiap, mukanya bersemu merah dibalik cadar birunya.
* nama ku Raka, panggil saja dengan nama yg sudah kamu tahu dari informasi itu. saya bukan pendekar dan tak ingin disangkut pautkan dgn yg kamu sebut tadi.
Rayola sedikit terperangah, nada tegas Raka membuatnya merasa aneh.
* aku hanya ingin jadi diri sendiri dengan semua kekurangannya, apapun yg dilebihkan takdir buat ku bukan untuk mencari nama. Tidak pantas rasanya menyandang nama itu karena pasti ia dibangun diatas puluhan jasad.
Apa yg diucapkan Raka menjawab rasa herannya Rayola sekaligus membuatnya merasa malu diri. Baru kali ini ia mendengar kalimat seperti itu diantara riuhnya para pendekar mempersolek julukannya, bahkan merasa bangga dengan mengalahkan lawan tanding meski harus menyabung nyawa.
* terima kasih tuan, eh Raka. Kamu telah menegur ke sombongan ku. Maafkan atas kurangnya ilmu ku ini.
* aku sudah terlanjur di sini, mungkin kamu tahu dimana aku bisa menemukan penginapan?
__ADS_1
* dekat sini ada kota kabupaten, ada losmen dekat tugu. Tapi sepertinya agak ramai karna ada perlombaan sabung ayam.
* baik lah, terima kasih. aku coba istirahat dulu beberapa hari. lagi pula aku tak tergesa~gesa ke Nesriabar.
Raka tersenyum sembari memberi hormat, yg dibalas juga oleh Rayola. Lalu ia berjalan menuju tepi semak lalu berkelebat pergi. Raka memilih berjalan dengan santai menuju arah yg di tunjuk Rayola.
Kota di kabupaten itu memang terlihat ramai, banyak terlihat sosok para jawara dan pendekar yg duduk atau bersileweran. Di losmen bernama KAYU RAWA, Raka perlu memberi tips lebih untuk memesan sebuah kamar karena pengurus losmen menggunakan pekan perlombaan tersebut untuk mengais laba yg banyak.
Pekan perlombaan telah dua hari berlangsung saat Raka berada di kota tersebut. Siang hari itu Raka sedang menyusuri kepadatan kota untuk mencari tempat makan, keriuhan terasa makin ramai bahkan terlihat ada yg ricuh.
Tensi para jawara dan pendekar yg mengunjungi pekan sabung ayam itu sangat tinggi karena rata~rata dari aliran hitam, apalagi sponsornya persekutuan keramat, tentu kota itu di sulap jadi perdagangan terlarang bermodus sabung ayam. Perdagangan senjata, minuman, dan rancang perampokan di susun dibalik layar. Dimana ada uang menumpuk maka di sana para pengais birahi berkumpul, Pesta poranya lelaki hidung belang dan mucikari. Dan juga menjadi Salah satu area bisnis para pencopet.
Seorang lelaki pendek berbadan ceking mencegat langkah Raka.
* selamat siang tuan, apa yg bisa saya bantu? Apakah anda butuh meja mengasah keahlian jari untuk berjudi? Atau sebuah kamar berwarna jingga dengan lampu kelap kalipnya. Kami akan memberikan pelayana istimewa pada anda.
Raka hanya cengengesan dengan promosi si pendek ceking tersebut.
* saya hanya sedang cari warung makan paman.
Sambil mengelak Raka menolak tawaran orang yg sepertinya germo. tapi tiba~tiba Raka merasakan sesuatu di kedua lengannya. Ternyata Dua wanita sudah mengapitnya dengan erat, mereka menggiring langkah Raka memasuki sebuah gang sambil bertingkah genit. Ia berusaha melepaskan lengannya di kedua dada penghibur birahi tersebut tapi giringan langkah mereka membawa Raka melewati beberapa orang jawara yg berdiri di depan gang. Dua pencopet dengan sigap menggerangi tubuh Raka sambil berlalu tapi mereka tak berhasil. Salah seorang pencopet mengedipkan mata, seketika penghibur birahi itu mendorong Raka hingga terjengkang.
* dasar cabul, sudah miskin minta yg enak~enak pula, jadi sial kami oleh mu !
Seorang penghibur birahi mengumpati Raka dengan cerewetnya, membuat para jawara di mulut gang menghajar Raka bertubi~tubi. Mereka menyeret Raka keluar dari gang dan membanting ke tengah jalan utama.
__ADS_1