
Di lobi hotel
Ayandaru meminta izin pada bowo membawa ratih jalan~jalan ke sekitar pendopo, tempat yang akan menggelar pesta pernikahaan. Sekaligus membawa Ratih ke tempat yg semua wanita bahagia, pusat perbelanjaan!
Di tempat lain, Di teluk biru
Di depan gapura pintu masuk teluk biru, Raka dan kawan~kawan mendirikan tenda posko pemeriksaan. Di tempat tersebut akan di lakukan pemeriksaan kepada semua orang yang masuk atau keluar dari kampung nelayan bawah. namun ada terjadi sedikit ketegangan antara pemuda kampung bawah dengan atas.
Sekelompok pemuda kampung atas menyerang ke posko kampung bawah karena tidak terima salah satu pemuda mereka diperlakukan kasar saat pemeriksaan. Pemuda kampung atas tersebut adalah anak orang kaya yang terlihat angkuh saat pemeriksaan, yg kebetulan dilakukan Raka.
Pemuda angkuh yg tidak terima perlakuan Raka kembali ke posko kampung nelayan bawah tersebut dengan membawa beberapa teman. Mereka langsung menyerang lima orang yg menjaga posko. Terutama pada Raka, mereka menghajarnya sampai babak belur.
Dua orang membekap Raka dari belakang dan dari depan dimuntahi pukulan oleh Keroy, nama anak orng kaya tersebut.
__ADS_1
* kau jangan sok jagoan dikampuang ini, belum ada kau disini, leluhur ku sudah menjadi orang terkenal dikampung ini.
Ucap keroy yang tak berhenti memukul perut Raka. Empat orang lagi yg menjaga posko sudah cidera tak berkutik.
Setelah sekelompok pemuda tersebut pergi, para penjaga gapura membersihkan diri masing~masing dari luka. sedangkan Raka hanya bisa terdiam sambil menatap lautan. Ia membiarkan hidung dan bibirnya meneteskan darah. Ada sekelumit perih dihatinya dalam menghadapi proses hidup, ia ingin jadi seperti orang biasa tapi justru ada saja yg ingin menyulut nyali nya. Di antara lamunan Raka nampak Seseorang sedang memberikan ia secarik kain.
* hapus luka mu, jangan sampai pemuda kampung bawah tahu. Persoalan ini jangan di perpanjang nanti kondisi teluk jadi sepi dari pengunjung.
Raka menganggukan kepala sembari menghapus luka di wajahnya. Ia menyalurkan energi murni ke dadanya yg terasa nyeri akibat pukulan bertubi~tubi. tapi saat kain itu menyeka lukanya Seketika memar dan lebam diwajahnya langsung pulih tak berbekas.
* kelihatan luka diwajah mu sudah hilang, Raka. mungkin kain yg saya berikan tadi punya ramuan yg cocok untuk mu.
Raka hanya tersenyum menatap penuh arti pria paruh baya bernama Apin. Raka yg mampu melihat aura Apin yg seorang pesilat tapi ia juga tak membalas pengeroyokan tadi.
__ADS_1
* terkadang kita perlu menghormati bumi yg kita pijak meskipun langit bisa kita genggam, Apin.
* ya ya ya, keluar juga asli mu sekarang ya? Yang selama ini kau bungkus rapi dengan sifat pendiam mu.
* hehehehe
Serentak mereka terkekeh kecil
* bagaimana nanti malam kita ke alun~alun Ra, sepertinya para kaswari bikin pertunjukan.
* dengan wajah mu yg hancur begitu para kaswari masih mau melihatnya, Pin?
* hahahaha, kita lihat saja nanti. kalau mereka tidak tertarik tak masalah, kita makan jagung bakar saja. sttttt....penjualnya janda !
__ADS_1
* hahahaha
kembali mereka serentak tertawa, seiring berpisah ke rumah masing~masing. Apin masuk ke jalan pemukiman dan Raka meneruskan sampai ke jalan yg buntu dimana di sisi kiri terdapat rumah si bowo.