Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 42


__ADS_3

Ayandaru pagi itu membawa kudanya dengan cepat menuju gedung komando kabupaten karena Bowo memberitahu bahwa Raka dan Apin dipanggil untuk nenyelesaikan perselisihan antara kampung atas dengan bawah, juga dengan perguruan elang bungkuk.


Ayandaru dicegat tentara penjaga pos karena tidak mempunyai izin masuk, ia memilih mampir ke restoran kopi di seberang gedung.


Cukup lama Ayandaru menunggu diantara kegelisahannya yg selalu di tatap oleh para tentara yg sarapan di restoran tersebut. bagaimana tidak ada seorang gadis cantik tanpa polesan dan bergaya nyentrik apa adanya memang memberi kesan tersendiri bagi yg melihatnya.


Ayandaru memang sering melabrak aturan istana tentang cara berpakaian yg harus formal, tapi ia mengacuhkannya. Ayandaru selalu percaya diri dengan apa yg ia pakai, tapi justru hal tersebut memberi warna di istana, apalagi untuk para kaswari yg saban hari melihat Ayandaru sejak ia di istana. Mereka byk yg mengikuti cara berpakaian Ayandaru.


Pagi itu ayandaru memakai baju lengan panjang seperti daster sedalam betisnya, yg di baluti rompi yg terbuat dari dasar kain yg tebal. Rambut dikepang ekor kuda dengan syal yg melilit leher hampir menutup sebagian wajah bawahnya. Ayandaru dengan santai masuk ke restoran membawa sebatu bot dikakinya. Lenggang tangannya dihiasi beberapa gelang warna warni dan dua buah anting yg berbeda tergantung telinganya.


(Seperti gadis mileneal di negeri era lain yg masuk ke negeri antah berantah)


Setelah beberapa waktu berlalu, serombongan orang berpakain sebuah perguruan keluar dari gedung komando, kemudian di susul dua kelompok pemuda.


Ayandaru bergegas keluar restoran ketika melihat Raka, Apin dan beberapa orang menunggang kudanya dengan pelan. Apin yg melihat Ayandaru langsung memberi kode pada Raka.

__ADS_1


* ada yg menunggu mu kawan, hehehe


Raka menoleh ke arah yg di tunjuk Apin, dan kembali jantungnya berdesir halus. Meskipun ia pernah ada waktu bersama Ayandaru di rumah bowo tapi setiap melihatnya rasa sesuatu itu selalu ikut campur.


Raka menunggu Ayandaru keluar dari restoran yg akan menemuinya.


* bagaimana hasil mediasinya?


* sudah damai. Kamu kenapa bisa ke sini?


Ayandaru cemberut dengan pertanyaan Raka, ia ingin pergi tapi tali kekang kudanya sudah diambil alih oleh Raka. Mereka kembali beiringan dengan hening disamping muka masamnya Ayandaru.


* oh iya, siapa nama teman mu yg anggota komite itu?


Belum hilang rasa kesalnya, Ayandaru di buat terkejut oleh pertanyaan Raka.

__ADS_1


* namanya Andini, kenapa? Kamu suka sama dia? Nanti aku beri tahukan padanya.


Ayandaru menjawabnya dengan nada yg sedikit curiga. Ayandaru yg sudah terjebak dengan api cemburu yg baru saja ia nyalakan. Di saat kepalanya sudah dipenuhi segala macam hal, ia melajukan kudanya dengan cepat dan langsung sekali cekat tali kekang sudah berpindah ketangannya lalu ia pergi dengan kencang.


Raka hanya bisa terdiam tak mengerti.


* salah ku apa ya?


Raka membathin mempertanyakan, ia mencoba berpikir tapi justru semakin membuatnya bingung. Raka mencoba menyusul Ayandaru tapi tak bisa melihatnya lagi karena Kota yg sangat ramai dengan banyaknya persimpangan. Raka memilih pulang ke kampung nelayan.


Ayandaru terbangun tengah malam dengan mata yg sembab, sejak pergi berlalu dari Raka ia langsung menuju hotel dan menangis. Ayandaru menganggap ia telah salah menilai, ternyata Raka menyukai Andini bukan dirinya, Ia sudah pasrah.


* pelayan, tolong buatkan kopi ya, aku tunggu di teras belakang hotel.


* siap nona, nanti kami antar ke sana.

__ADS_1


Ayandaru menunggu pesananya dekat taman kecil belakang hotel. hatinya terasa kecut kalau mengingat Raka. tapi bibirnya kembali berusaha tersenyum saat teringat Ratih.


__ADS_2