
Di ruangan bawah tanah
Terlihat Raka berdiri di atas tubuh Resi Buyako dengan kedua lututnya berada di sisi rusuknya sang Resi. Ia sedang menyalurkan energi murni untuk membantu Resi Buyako menghadapi masa kritis karena Racun mematikan telah menggerogoti tubuhnya,
Pertama melihatnya eyang Rinjani nyaris terpekik lonjak saat kedua mata Raka menyala, terang cahayanya di ruangan yg hanya di terangi lampu minyak menyajikan pemandangan yg memukau sekaligus membuatnya bergidik.
Eyang Rinjani sudah kenyang dengan penyelidikan, banyak hal tak terduga yg ia temui tapi melihat Raka yg sedang mengobati Resi Buyako sungguh suatu peristiwa yg sangat ajaib. Mata yg terus menyala dan kedua telapak tangannya yg berada di dada Resi memancar bias~bias cahaya. Hal itu telah berlangsung sehari semalam. Selama itu pulalah eyang Rinjani gusar, ia selalu bolak balik dari ruangan bawah tanah, halaman belakang, sampai ke teras luar rumah. Rinjani sedang menunggu cucu sang Resi.
Para tetangga rumah yg berpintu merah merasakan keanehan dengan beberapa kali orang keluar masuk di rumah tersebut. Tapi kembali mereka menganggap si nenek sedang sakit dan lagi disambangi keluarga. Sedangkan bagi eyang Rinjani perintahnya jelas kepada penyelidik yg datang, BAWA SECEPATNYA AYANDARU KE SINI APAPUN CARANYA ! perintah yg keluar dari pendiri kesatuan Sandika itu membuat para penyelidik kalang kabut.
Di sisi lain
Para penyelidik mencegat Apin dan Ayandaru di tengah perjalanan dan memberitahu pada Ayandaru waktu sudah sempit. Si belang dalam keadaan koma, kalau berkuda untuk mencapai kota padangari tidak memungkinkan lagi. Ayandaru harus menggunakan ilmunya. rute pintasnya sudah disusun, pada setiap titik sudah disiapkan seorang pemandu.
__ADS_1
Di antara gelap gulitanya malam itu Ayandaru menggunakan kekuatan jurus Panah dewi menarinya pada batas tertinggi. Luapan emosi kesedihannya malah membawa lesatan tubuhnya diluar kendali. Di perbatasan kota pada sebuah dusun tubuhnya menghantam pohon manggis. ia terkapar dengan tulang bahu yg lepas. semua kekuatannya sirna bukan karena pohon tapi karena tangisnya yg sunyi membuat jantungnya berhenti, Hanya alam yg tahu apa yg ia rasakan saat itu.
Seorang pengemis membopong tubuh Ayandaru dibahunya memasuki rumah berpintu merah menjelang pagi. Kehadiran Ayandaru dengan kondisi parah mengejutkan eyang Rinjani. Bersama pengemis tersebut eyang Rinjani mencoba mengobati Ayandaru. Di bagian bawah rumah Raka pun masih di tempatnya menyalurkan energi murni pada Resi Buyako.
Setelah cukup lama, siang itu Ayandaru siuman dari mati surinya. Tatapannya nanar melihat sekitar.
* ndduukk, sudah sadarkah?
Eyang Rinjani mengusap dahi Ayandaru, dan meraba tulang nahunya.
Pengemis yg duduk dekat eyang rinjani hanya mengangguk kecil. Beberapa saat kemudian Ayandaru sudah mampu menguasai diri.
* dimana eyang resi?
__ADS_1
* kamu minum dulu, habis ini baru ke tempat resi.
Ayandaru tak mampu lagi menahan tangisnya, kembali isak yg sunyi itu pecah. Si pengemis dengan cepat menotok titik tertentu di tubuh Ayandaru yg mulai oleng hampir jatuh dari dipan. selang beberapa menit kemudian Ayandaru kembali sadar tapi ia sudah tak mampu bergerak karena totokan.
* lepaskan saja totokannya, saya mau bicara.
Ayandaru menghela napas panjang untuk menetralkan pengaruh totokan tersebut.
* eyang Resi mu tidak apa~apa, jangan kwatir. Beliau hanya menginginkan cucunya yg semangat dan sabar agar Resi pun kuat. Beliau sedang menunggu mu. Apa kamu mau bertemu sekarang?
Ayandaru menganggukkan kepala.
* baiklah, yg kuat tenaganya ya nduk jangan lemas begitu nanti eyang mu sedih.
__ADS_1
Si Pengemis memapah tubuh Ayandaru menuruni anak tangga dimana eyang Rinjani menuntun tangannya dari depan. Tapi akhirnya Ayandaru benar~benar lemas saat melihat gurunya terbaring dengan pemandangan yg ia tak mengerti, Si pengemis pun hanya bisa ternganga. Ayandaru terkulai duduk di anak tangga tanpa melepaskan tatapannya dari wajah sang Resi.