Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 90


__ADS_3

Diatas batu pada sebuah curug petilasan


Raka mendongakkan kepalanya ke langit, lalu di saat bersamaan ia menghela napas yg terasa sedikit berat. Sejurus kemudian bilur~bilur angin mengumpal padat pada punggungnya membentuk sepasang sayap, tak butuh Waktu lama dua sayap peri itu langsung mengepak mengangkat tubuh Raka yg tanpa bobot itu menuju gua petilasan. Kembali deru sebuah jurus mematikan keluar dari gua itu menghadang lesatan terbang tubuh Raka yg telah menggengam sebatang tombak berbentuk angin. Kecepatan kepak sayap Peri mampu menembus jurus mematikan tersebut yg membawa tombak di genggam Raka menghujam pada dada Mpu Sankala, bersebelahan dengan pedang arwah.


Mata Mpu Sankala mendelik besar, bibirnya mendesis seolah akan terjadi reinkarnasi sosok berbentuk kepala ular. Tapi tiba~tiba alam seperti berhenti, tidak ada yg bergerak sejauh dan seluas area markas pusat persekutuan keramat. Mpu Sankala yg masih mampu mengelola alam bawah sadarnya melihat deraian air terjun tak bergerak, Tapi bisa melihat Raka yg melangkah tenang menghampirinya yg sedang terpaku di dinding gua. Mpu Sankala tak dapat menggerakan tangannya untuk mempersiapkan jurus andalannya lagi meski ia telah berusaha keras melakukannya.


Dia terlihat pasrah melawan dan mendelik dendam tatkala Raka meraih seuntai petir yg melilit kepalanya. Dengan tenang Raka membuka untaian itu hingga menjadi seutas petir sebesar tali kerbau. Ia mengalungkan ke leher Mpu sangkala, lalu di saat yg sama itulah seketika alam kembali bergerak, hanya terdengar suara dengungan dan dengingan yg menyertai sebuah suara seperti sayatan daging dan tulang yg terpotong. kejadian yg super cepat dalam sekelip mata.


*Dalam kejadian tersebut.


Lilitan petir itu telah memisahkan leher Mpu Sankala, pada saat kepala itu belum sempat jatuh ke tanah, sabetan pedang arwah berkilau kilat beberapa kali dengan cepat menyasar pada tubuh Mpu Sankala. Di saat yg sama Tombak angin Ksatria Peri seperti menciut dengan cepat, lalu meledak dengan kekuatan besar sehingga proses pembantaian alam yg mereka titipkan pada Raka sangat sempurna melenyapkan tubuh Mpu Sankala berbentuk debu hitam yg terbakar*.

__ADS_1


Daya dentuman tombak Peri meruntuhkan petilasan gua Mpu Sankala. Raka melesatkan tubuhnya ke atas menembus reruntuhan curug hingga ia menangkring Di luar sana, berada di atas atap sebuah bangunan.


Raka tak melihat para resi gentayangannya beserta para hantu lembah terkutuk. Ia hanya melihat pasukan Komerad bersama pasukan perisai Mahkota beserta satu batalyon tentara gabungan sedang mengeksekusi ratusan pendekar~pendekar persekutuan keramat.


Sedangkan satu resimen tentara tempur Galandara membuat barikade ketat di kawasan markas besar persekutuan tersebut. tidak ada yg boleh keluar dan masuk ke kawasan markas pusat persekutuan keramat. Perintah mati untuk semua anggota persekutuan di tempat tersebut telah di sepakati oleh semua Raja yg ada di benua selatan, hasil dari lobi kaisar Kun Bara Seibunto pada lima kerajan yg ada di benua tersebut.


Pada sisi lain


Di saat dela~sela pertolongan pada Ayandaru itu, Aungan suara Sabai sang harimau menggetarkan istana teratai awan, pontang pantingnya para isi istana melarikan diri membuat istana itu terlihat kosong.


Beberapa tentara yg menguasai ilmu juru kesehatan bersigap membantu Ayandaru.

__ADS_1


Cukup lama suasana kritis itu, membuat para perwira seakan bergaduh dalam berdiskusi, bagaimana mencari cara menghubungi Kaisar Mu Raka karena Mereka pun tidak tahu beliau sedang dimana.


Aungan sang harimau menggidikkan bulu roma sepanjang waktu selama Ayandaru ditangani oleh juru rawat di dalam istana tersebut. Tak berapa lama kaisar Mu Raka terlihat masuk di jendela utama istana, Barulah suara aungan sabai itu berhenti.


Raka menghampiri kerumunan pasukan letus Pora yg mengelilingi Ayandaru dimana juru kesehatan sedang mencoba mengobati. melihat kaisar mereka telah datang para juru rawat dan pasukan Letus Pora memberikan jarak.


Dengan cepat Raka mencengkeram paha Ayandaru dengan kedua tangannya yg membuat pekik kesakitan Ayandaru membahana ke sekeliling ruangan aula. Selang beberapa waktu pemandangan yg belum pernah di lihat oleh semua pasukan Tentara Galandara membuat semuanya terkejut dan terpana.


Mata Raka kembali menyilaukan nyala yg terang diiringi telapak tangannya pun membinarkan cahaya yg sedang berada di paha kiri Ayandaru. Para tentara hanya dapat saling berpandangan di antara kedatangan para perwira~perwira komando yg telah membawa pasukan dalam menguasai ibukota dan istana.


Cahaya di mata Raka mulai meredup ketika tubuh Ayandaru sudah tidak terlihat lagi meringis kesakitan.

__ADS_1


Raka memeluk dan membopong Ayandaru menuju sebuah ruangan yg telah di bersikan oleh pasukan tentara, lalu pasukan itu meninggalkan ruangan tersebut saat terlihat Raka sedang membelai kepala Ayandaru yg terbaring pingsan.


__ADS_2