Ksatria Pemilik Takdir

Ksatria Pemilik Takdir
EPISODE 45


__ADS_3

Apin alias Nipara Jasto memperbaiki duduknya menghadap Raka sambil bersila.


* bagi ku sekarang kau bukan orang asing Raka. Senang rasanya kenal dengan mu, baik sebagai saudara bowo atau seorang pendekar yg belum aku kenal julukannya. Setelah aku kembali ke istana nanti dan menutup laporan ku maka aku berharap bila nanti kita bertemu lagi akan jadi saudara, seperti kau menganggap bowo.


Raka menoleh ke Apin dan menatapnya dengan sungguh~sungguh. Ia melihat Apin menjulurkan tangannya ingin bersalaman. Raka pun menyambutnya dgn tersenyum.


* aku pegang ucapan mu.


Apin lalu menepuk~nepuk bahu Raka.


* katakanlah sesuatu untuk saudara baru mu ini kawan.


Raka memejamkan mata, Ia seperti ingin meyakinkan diri untuk bicara.

__ADS_1


* entahlah, aku tidak tahu apapun.


* jangan paksakan diri, aku tak meminta mu begitu. Bagilah apa yg bisa kau katakan, setidaknya itu bisa mengurangi beban yg kau simpan.


Raka menghela napasnya, sambil meninju2 lutut Apin.


* kau orang baik pin.


* hahaha, kau pantas jadi penyelidik yg handal pin. Pancingan kata mu sangat menjebak.


* itu jujur Ra, tak mungkin aku berpancing ria dengan pendekar seperti mu. Pasti kalah satu langkah.


Raka hanya tersenyum sambil mengangguk~angguk.

__ADS_1


* aku tak tahu siapa diri ku pin, semuanya gelap.


Raka menghela napas yg berat disamping Apin yang menupang dagunya dengan tangan.


* ada sesuatu dlm diri ku yg tak aku mengerti. Yg aku ketahuinya hanya saat tiga org kelompok kelabang hutan mencoba untuk menciderai ku. pada saat itu aku tak merasakan apapun, tubuh ku bagai seringan kapas. hingga tanpa sadar aku membunuh ketiganya. dan disaat yg sama setelah kejadian itu Aku melihat seorang gadis yg ada dalam pikiran ku, aku menyukainya. rasa suka itu yg meredam nyali membunuh ku. tapi setelah pikiran itu pergi aku kembali kehilangan diri ku. Sesuatu yg ada dalam diri ku selalu selalu muncul tiba~tiba lalu hilang lagi dengan sekejap. aku merasa letih dengan keadaan itu, aku ingin berteriak, aku ingin menangis tapi tak bisa. Yang bisa ku lakukan hanya berlari. Seperti yg kau bilang tadi, kebetulan. Kebetulan itulah yg membawa ku ke depan pintu markas kelabang hutan saat berlari tersebut. setelah berada dimarkas kelabang hutan itu Aku sudah tidak tahu apapun lagi, Semuanya terjadi begitu serba cepat diluar kendali ku. Aku kembali tersadar ketika berada dikota Maltara dimana aku melijat melihat gadis yg ada dalam pikiran ku itu. saat melihatnua Ada ketenangan yg aku rasakan, gadis itu mampu meredam naluri membunuh ku. Entahlah pin, aku tak dapat menyebutkannya tapi itu yg aku rasakan.


Kembali Apin menepuk bahu Raka, untuk meyakinkannya bahwa ia memahami.


* naluri membunuh itu kembali membuat aku gelisah saat kesatuan mu memburu ku dikota Maltara. Aku bisa menantang kesatuan mu saat itu juga, tapi aku tak ingin gadis itu terlibat masalah. jadi emosi ku tidak menentu kala itu, Aku harus lari lagi dan terus berlari, aku ingin pergi sejauh mungkin. Aku ingin menyendiri. Tapi entahlah ada saja yg menyulutkan naluri membunuh ku. dalam pelarian itu aku sampai disuatu tempat dan Aku hampir mati dibunuh oleh mereka saat sedanh tertidur disebuab pantai ujung benua barat. saat Aku ingin membalas perbuatan mereka, tiba~tiba bayangan gadis itu muncul dalam pikiran ku lalu aku urungkan membunuhnya. lalu aku pergi tak tahu arah. Aku hanya ingin tenang dan tenang, hanya itu keinginan ku. Tapi seseorang datang menghampiri ku sambil memaki, entah dari mana dia berasal, yg jelas Aku tidak tahu siapa dia, mungkin orang gila yg kebetulan punya mustika siluman dan punya keris yg sangat beracun. orang gila itupun mencoba untuk membunuh ku. Lalu semuanya terjadi begitu saja. Aku memotong tubuhnya ditepi laut.


Raka menoleh pada Apin, yg disambut dengan senyuman. Apin tak menduga Raka telah membuka misteri dunia persilatan.


* setelah membunuhnya aku benar2 diujung keputusasaan. Aku sudah tak tahan. Aku biarkan diri ku pada batas yg tidak aku ketahui di tengah laut sana.

__ADS_1


__ADS_2