
Si nenek yg melihat pertarungan dihalaman hanya mendesah, Ia melihat gerakan Raka begitu asing. tidak seperti gerakan pesilat dari aliran apapun. lalu si nenek ke luar dari rumah.
* bikin masalah saja, kau pikir saya kuat mengubur mereka?
Suara sedikit pelan yg terdengar itu membuat Raka terkejut, si nenek telah berdiri diteras sambil mempelototinya.
* mohon maaf nek, saya akan bereskan mereka. Nenek duduk saja.
Raka membopong satu diantara mereka lalu berkelebat, tak lama ia tiba kembali ke halaman lalu membawa satu lagi dan hilang dibalik tembok. Dan lagi.
Raka berdiri diam memandang pintu belakang rumah tersebut setelah membuang ketiga mayat penyusup ke kali. Tidak berapa lama, si kakek muncul dengan sedikit terbatuk. Ia duduk di kursi yg kemarin ketika Raka datang bertamu. Si kakek memanggil Raka dengan gerakan ayunan tangan. Setiba ia di depan si kakek, Raka melipat dua tungkai kakinya ke lantai, menumpukan pinggulnya diatas tumit dan meletakan kedua telapak tangannya pada lutut.
Raka melakukannya untuk menghormati si kakek, dengan luka parah di perut dan punggungnya si kakek masih tetap tenang.
Beruntunglah Raka diberkahi kekuatan yg tak bisa di ukur, pertama kali memasuki rumah berpintu merah ia sudah menganalisa semuanya. Ia melihat perut yg berlubang dan punggung yg sama pada si kakek, ia juga melihat sebuah ruangan rahasia di bawah halaman belakang rumah. Dan juga seperangkat senjata di kamar si nenek.
* mohon maafkan saya eyang sepuh, tak ada niat untuk menganggu eyang sepuh berdua. Saya hanya mengikuti pesan teman yg menyuruh ke sini.
Si kakek memandang si nenek sambil terbatuk~batuk.
__ADS_1
* Jasto itu murid saya.
Si nenek menjelaskan tentang Apin, barulah Raka paham ternyata rumah yg ditunjuk Apin alias Nipara Jasto adalah rumah gurunya.
Lalu si kakek menggeser duduknya ke depan hingga menjangkau kepala Raka, si kakek menyibakan rambut yg menutup dahinya. Tangannya yg ringkih berkeriput mengusap kepala Raka penuh asih.
* apa hubungan mu dengan Guntara anak ku?
Ketenangan jiwa Raka saat disentuh oleh tangan si kakek jadi buyar ketika mendengar pertanyaan itu. Raka tahu dua orang uzur ini bukan orang sembarangan tapi saat nama Guntara disebut wajah Raka tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Ia menatap wajah si kakek dalam~dalam.
* yang saya tahu, duduk yg kau lakukan hanya dilakukan oleh Guntara.
Raka masih belum menyudahi keterkejutannya, pun pada si nenek juga menampakan ekpresi yg sama terkejut ketika si kakek memberitahu cara duduk Raka mirip dengan Guntara. Si nenek lalu menghampiri Raka sambil duduk di lantai berdekatan dengannya. Tatapan si nenek yg begitu lekat membuat Raka lupa menjawab pertanyaan.
* beliau guru saya eyang sepuh.
Si kakek menampakan senyumnya mendengar jawaban Raka, sedangkan si nenek walau kembali terkejut meskipun ia sudah menduga mencoba meraih satu tangan Raka dan mengelus~elusnya.
* akhirnya saya bisa merasakan tangan pendekar Kijang Merah itu.
__ADS_1
Ada raut muka yg mendalam pada wajah si nenek ketika mengelus tangan Raka.
* mohon maaf eyang sepuh, kalau boleh saya tahu siapakah eyang berdua? Apalagi dengan menyebut nama guru saya.
* nama saya Buyako dan ini Rinjani.
Si kakek memberi tahu nama si nenek sambil terbatuk~batuk.
* eyang sepuh, apakah eyang berdua kenal dengan guru saya?
Kembali si nenek yg bernama Rinjani mengelus tangan Raka. Ia menanyakan sesuatu.
* apakah guntara tak pernah bercerita pada mu?
Raka hanya menggeleng mendengar pertanyaan nenek Rinjani, ia juga tak paham maksudnya dengan cerita tersebut.
* mohon maafkan saya eyang sepuh, guru saya tak pernah bercerita apapun.
Tiba~tiba Nenek Rinjani memandang cemas melihat Kakek Buyako diujung pertanyaan Raka. Resi Buyako tersandar pada kursi dengan keadaan napas yg terlihat megap~megap.
__ADS_1
* ayoo, bawa masuk.
Rinjani meminta Raka membopong Resi Buyako ke dalam, didekat meja makan Rinjani menghentakan kakinya ke lantai, terlihat lantai itu bergeser membuka satu meter dengan panjang 2 meter. Terlihat sebuah tangga ke dalam tanah, lalu mereka menuruninya menuju sebuah ruangan. Raka membaringkan Resi Buyako di atas dipan yg terletak di ruangan 5x5 meter tersebut. kemudian Raka membuka baju Resi buyako dan melepaskan kain yg mirip sehelai selendang yg membaluti luka berlubang di perut Resi berukuran selebar telapak tangan di perut bagian kanan. Raka seakan pernah mengenali bentuk luka tersebut.