
(kembali pada sisi Ayandaru Di dusun dekat kota Masoa)
Dalam sepekan yg sama ketika Raka melakukan perjalanannya ke kampung nelayan, di dalam sebuah rumah terlihat Ayandaru sedang mengucek matanya. Ia tertidur pada sebuah kursi di pojok ruangan karena letih yg melandanya setelah menguras tenaga dalam untuk menyalurkan energi murni pada macho. Ayandaru menatap pendekar Sabit kembar yg masih koma. Seketika ia teringat Ki jalu, rasa gelisah mulai menghantui karena ada firasat buruk.
Dari sore kemarin Ki jalu pergi mencari lumut putih tapi hingga pagi belum jaga kembali. Ia ingin menyusul ke pesisir karena takut sesuatu terjadi pada Raja Pengemis, Tapi disisi lain keadaan macho sangat buruk. Setelah menimbang Ayandaru memutuskan untuk mencari Ki jalu. Ia menyelinap lewat pintu belakang dengan waspada karena Anak buah Bulaha mungkin sudah menyebar mencari mereka bertiga.
Cukup lama Ayandaru menuju pesisir hingga ia tiba dan berkelebat rendah diantara semak pantai, kakinya yg terpasang jurus Panah Dewi Menari menyibak permukaan pasir.
Tap..
Kaki moleknya menapak ringan pada sebuah pohon tumbang yg di sisinya terdapat kubangan terisi air. Ayandaru menggunakan mata ghaibnya menyelidiki sekeliling yg ditumbuhi semak yg sangat rimbun dan banyak. Tak ada siapapun dan pergerakan apapun. Ia menghela napas kecewa, namun tetap kembali mencoba mengedarkan pandangan, Nihil !.
Ayandaru berpikir akan kembali ke rumah, lebih baik menunggu Ki jalu saja sambil mengawasi macho. tapi...
__ADS_1
Sudut mata Ayandaru menangkap setitik cahaya silau pada tepi kubangan tersebut, ia mengarahkan pandangannya kesana. Lalu memungut benda yg sebagian terbenam lumpur. Setelah dibasuh sampai bersih, tiba~tiba kening Ayandaru berkerut memandang benda yg ada pada telapak tangannya, Sebuah anting !
Mata Sendu Ayandaru sedikit melotot heran karena merasa mengenali bentuk anting itu, Ia berusaha mengingatnya, justru matanya semakin melotot lebih besar.
* bukankah ini bentuk anting yg ingin aku beli dikota Maltara?
Pikirannya menerawang, sejurus kemudian bulu halus di tangannya meremang, sesuatu berdesir di dadanya, degub jantungnya semakin berdebar.
* Apakah pemuda itu membaca pikiran ku saat dikota Maltara?! apakah ia disini ! ah mustahil.
Ayandaru memutuskan pergi dari pantai itu hingga ia kembali tiba di rumah pada dusun tersebut, tapi pikiran Ayandaru semakin kalut, macho sudah tidak ada lagi. Ia mencari di sekeliling rumah bahkan menyisirnya sampai jauh. Macho tetap tak ditemukan. Ia memutuskan menunggu pemilik rumah pulang dari berjualannya di pasar sekalian menunggu Ki jalu.
Hingga larut dan bahkan pagi lagi yg ditunggu tak menampakan batang hidung mereka. Ayandaru di landa gundah gulana, Ia memutuskan ke kota Masoa meski nanti akan bertemu dengan Bulaha.
__ADS_1
"pikir nanti sajalah kalau sudah dikota"
ujarnya dalam hati
Telah Seharian Ayandaru mencari di pusat kota Masoa tapi tak satupun jejak yg ia temukan, entah Macho maupun Ki Jalu.
Ia patah semangat dan kebingungan di sebuah pos penjaga pintu masuk pemukiman yg kosong sambil terus berpikir dengan langkah selanjutnya. Tiba~tiba ada seorang penjual keliling menghampirinya sambil menyodorkan sekantong kacang rebus.
* kacangnya non, masih baru
Ayandaru merasa butuh makanan ringan untuk menemaninya berpikir, sambil merogoh sakunya mengambil uang untuk membayar.
* Sebaiknya anda pergi secepatnya nona, gugus darma dan prajurit Soloka utsu sedang dlm perjalanan kesini. Mereka dipimpin oleh seorang komandan asal persekutuan keramat. Jangan sampai komandan Soloka utsu mengetahui keberadaan nona yg berasal dari partai suci. Kaisar meminta anda kembali. persoalan bulaha biarlah menjadi tanggung jawab gugus darma. Kuda sudah saya persiapkan di dekat gapura kota.
__ADS_1
ujar pedagang sedikit berbisik
Ayandaru yg cepat tanggap akan situasi tetap bersikap biasa, sembari seolah bertransaksi dengan si penjual kacang yg ternyata tentara penghubungnya yg lain di kota Masoa, Ayandaru ngeluyur pergi tanpa menoleh. tujuannya hanya satu IBUKOTA Atsylandya.