
Menjelang sore Raka dan Apin keluar dari penginapan dikota Padangari.
* kita cari makan dulu Ra. ayo ikuti aku ada tempat makan yg enak.
Raka mengikuti Apin yg mengajaknya ke suatu tempat. Mereka melalui tengah kota yg sudah menggeliatkan aktifitas malamnya. Padangari dikenal dengan perjudiannya, kota moderen yg glamaor memikat para penjudi kelas kakap. Apin dan Raka memesan makanan di warung lesehan dipinggir jalan utama, pecel ayam.
Warung yg sederhana tapi bagitu banyak peminat sehingga banyak yg mengantri dengan pesanannya. Beberapa wanita melirik Apin yang susuk topengnya telah dibuka, cukup tampan. Beberapa keluarga duduk disebelah meja mereka dimana anak~anak mereka berlarian mengitari bangku Raka. Cukup menjadi hiburan kecil saat mereka penunggu pesanan datang. Disela selingan itu Raka dan Apin bercengkrama dengan sesekali tertawa lepas.
Setelah mereka menghabiskan makanan dengan lahap.
* kita berpisah di sini Ra.
Raka mengagguk kecil menatap Apin.
* aku putar balik mengambil jalan ke kiri di depan sana. Kau bisa teruskan jalan ini untuk sampai pada tujuan mu.
* terima kasih Pin, kapan kita bertemu lagi?
* setelah dari ibukota hanya ada dua tempat ku, teluk biru dan tempat kelahiran ku.
* dimana itu?
* kota TIBARU tak jauh dari ibukota.
Raka mengangguk sambil menyambut uluran tangan Apin untuk bersalaman.
* hati~hati dalam perjalanan mu kawan, jangan lupa beli jagung.
* jagung? Buat apa?
* untuk guru kekasih mu, biar dia kelamaan mengunyah jagungnya agar tak menggangu kalian pacaran.
* hahahahaha
__ADS_1
Raka dan Apin terpingkal~pingkal
Raka mengangguk kecil menatap Apin saat mereka di atas kuda masing~masing untuk berpisah.
* Raka.
* ada apa kawan?
Apin tersenyum mendengar kata "kawan" yg diucapkan Raka, baru kali ini dia dengar.
* di seberang kita ada jalan kecil, sebelum kau teruskan perjalanan mu cobalah masuk ke jalan itu, mampirlah di rumah yg pintunya berwarna merah. Mudah~mudahan kau mendapat informasi dengan tempat yg kau sebut kemarin.
Apin memutar tali kekang kudanya dan melajunya kearah yg dia tuju. Raka merasa takjub dengan perwira penyidik itu. mahir dengan informasi.
Raka menatap gang jalan tersebut. Perlahan ia menyeberang dan memasukinya. Pintu merah tersebut terpasang pada sebuah rumah tua yg cukup besar. Raka menambatkan kudanya di halaman yg cukup luas. Ia mengetuk pintu beberapa kali sambil mengucap salam.
Pintunya terbuka, keluarnya seorang nenek renta yg mulai bungkuk.
* selamat sore nek.
* saya Raka nek, saya ingin mampir mencari sesuatu.
Raka jadi kelu, ia lupa menanyakan keperluan atau nama orang dalam rumah tersebut yg di sebutkan Apin. Raka tersenyum kecut sambil garuk~garuk kepala.
Si nenek bergerak menutup pintunya lagi tapi dicegat Raka.
* Apin nek, Nipara jasto seorang perwira penyidik.
* masuk lah.
Dengan tertatih si nenek berjalan melewati koridor tengah. Raka menyusulnya sambil menggamit tangan si nenek untuk menuntunnya.
* duduk lah.
__ADS_1
Raka duduk di salah satu bangku yg berada di teras belakang. Terlihat seorang kakek sedang menghalau ayamnnya masuk kandang, Rumah itu dikelilingi pagar tembok yg sangat tinggi. Sedangkan Si nenek menyalakan lampu minyak.
Kedua jompo tersebut bolak balik menyelesaikan pekerjaan masing~masing tanpa bicara. Seolah tak mengacuhkan Raka yg hanya kebingungan. Tapi ia dengan sabar melihat aktifitas mereka dengan tenang. Cukup lama Raka menunggu hingga malam sudah mulai menggelap. Si kakek menghampiri Raka dan duduk di sebelahnya.
* ada keperluan apa anda ke sini?
* saya Raka kek, saya di minta teman untuk ke sini. Mungkin saya bisa dapat informasi mengenai lemmm...bba..aahh...
Raka tergagap ketika ia sedang mengucapkannya si kakek menatapnya dengan tajam. Raka jadi terdiam cukup lama tak berani menantang tatapan si kakek.
si kakek terbatuk~batuk, lalu
* kekuatan besar punya tanggung jawab yg besar juga tak peduli apakah orang tersebut menginginknnya.
Si kakek mulai berbicara yg sedang di cerna Raka tentang arahnya.
* kau dilahirkan bukan untuk mencari tahu apa yg ingin kau ketahui tapi untuk sesuatu di depan sana yg tidak kau ketahui.
Suasana terasa sunyi saat si kakek diam.
* Jalani saja sampai nanti takdir memberitahu mu satu persatu apa yg mereka rencanakan.
Kembali hening.
* kau hanya manusia biasa bukan setan, siluman atau jin. setiap manusia pasti memiliki orang tua.
Paras wajah Raka membiaskan kebahagiaan mendengar si kakek bicara ia cuma manusia biasa.
Raka akan membuka mulutnya untuk bercara tapi si kakek sudah memotong.
* pergilah dari sini secepatnya dengan kemampuan mu. Tinggalkan saja kuda itu.
Tak perlu kau ke rimba terlarang, apa yg kau cari tidak ada disana. Dunia sedang gelap diatas menara langit.
__ADS_1
Si kakek langsung berdiri dan masuk ke dalam rumah. Raka mendengar suara pintu yg dikunci dari dalam.
Raka berkelebat keluar dari rumah tersebut, gerakannya menghilang di sela~sela angin diantara atap rumah. Lalu senyap dipermukaan kali hingga menuju hilir yg mulai dikelilingi semak.