
Beberapa saat berlalu, Xu Chen telah menggunakan berbagai Jurus, mulai dari Tebasan Ilusi hinggah Naga Pembasmi Iblis, namun keadaan tak bisa ia kendalikan dan Qi Pemuda itu semakin menipis, setiap kali Xu Chen menghancurkan para Golem mereka akan bertambah banyak
"Ini gawat! jika seperti ini terus, aku akan kehabisan energi, aku harus memikirkan suatu cara, agar bisa mengalahkan para Golem jelek ini," ujar Xu Chen
Namun tak ada satu idepun yang terlintas dipikiran Xu Chen, saat ini Pemuda itu hanya bisa menghindari setiap Golem yang menyerangnya, sambil berpikir keras
"Xu Chen, Xu Chen, ayolah berpikir!" ucap Xu Chen pada menyemangati dirinya sendiri
"Oh, Iya! aku menguasai lima elemen dasar, mungkin cara itu bisa!" ujar Xu Chen semangat memikirkan suatu rencana
Setelah itu Xu Chen menyarung kan kembali Pedangnya, dan mulai membuat segel tangan, lalu Pemuda itu menepuk kan tangannya keras ketanah
Seketika terdengar suara retakan hebat, lalu diikuti tanah yang seketika terbelah menelan semua Golem yang ada, menciptakan lobang dengan para Golem didalam, yang meraung raung marah memukuli tanah. Sebenarnya para Golem mencoba naik, tetapi karena curamnya lubang mereka hanya bisa pasrah
Melihat hal itu Xu Chen tertawa lantang "Hahaha! rasakan itu Golem jelek! tenanglah, pertunjukan belum usai" ujar Xu Chen sambil melihat para Golem yang terjauh di lubang yang ia ciptakan
Namun aksi Xu Chen tak berhenti sampai disitu saja, Pemuda itu kembali membuat segel tangan, mengambil nafas dalam, lalu menyemburkan air dari mulutnya dalam jumlah besar, hinggah memenuhi lubang para Golem berada. Kini terlihat pemandangan suatu kolam kecil, dengan para Golem yang meleleh didalamnya
"Hahaha! itulah akhirnya" ujar Xu Chen sambil berdecak pinggang, lalu meninggalkan tempat tersebut dengan senyum puas
***
Kini, Xu Chen telah melihat dengan jelas Kastil Penyihir yang di carinya, Pemuda itu memutuskan beristirahat sejenak dan memulihkan Qinya yang hilang saat bertempur melawan para Golem Tanah
"Hahh! rasanya lega, saat Qi telah pulih. Kini saatnya aku melanjutkan perjalanan!" ujar Xu Chen sambil meregangkan tangannya dan otot-ototnya
Xu Chen kembali berjalan, dan tak butuh waktu lama, Pemuda itu telah sampai di depan gerbang Kastil, jaraknya kini tinggal beberapa meter lagi, dan hanya di pisahkan parit yang mengelilingi Kastil, namun itu bukanlah halangan bagi Xu Chen, Pemuda itu hanya membutuhkan satu lompatan santai untuk melewati parit tersebut
Namun langkah Xu Chen kembali terhenti, saat menemui pintu kastil yang kuat dan kokoh, bahkan saat terkena gempuran Tehnik Pedang Pembantai, bahkan membuat Xu Chen bertanya tanya, jika pintu Kastil saja sangat kuat, bagaimana dengan Penyihir itu sendiri. di saat itulah ada sedikit keraguan di hati Xu Chen
__ADS_1
Namun, tiba tiba pintu berdecih dan terbuka perlahan, mempersilahkan Xu Chen untuk masuk. Dengan kehati-hatian penuh, Xu Chen perlahan memasuki Kastil Penyihir, saat pemuda itu telah berada di dalam Kastil, tiba tiba pintu yang tadi terbuka lebar kini kembali menutup rapat
Gelap, suram, dan menakutkan. Itulah kesan pertama Xu Chen, saat sudah memasuki Kasti tersebut
Dalam keadaan seperti itu, Xu Chen mencoba untuk tetap tenang dan mencoba memasuki Kastil lebih dalam
***
"Ruangan apa ini?" tanya Xu Chen pada dirinya sendiri
Saat ini, Pemuda itu terjebak di suatu ruangan yang sangat besar dan luas, pintu di ruangan itu hanya ada dua. Yakni yang pertama (Pintu masuk), pintu yang Xu Chen lalui saat memasuki ruangan namun telah tertutup rapat
Dan yang kedua (Pintu keluar), ada di bagian lain ruangan itu yang masih tertutup rapat. Jika di tarik garis lurus, maka kedua pintu itu sejajar
Dalam kebingungannya itu, tiba tiba suara wanita terdengar, "Mengalahkan Kematian lalu Memperoleh Kehidupan! apa kau siap?"
Mendengar hal itu Xu Chen mengerutkan keningnya tak mengerti "Mengalahkan Kematian lalu Memperoleh Kehidupan? apa maksudnya?" pikir Xu Chen
Setelah Xu Chen menyelesaikan ucapannya, tiba tiba lantai Kastil bergetar hebat, lalu keluar tengkorak dengan jumlah yang sangat banyak, sangking banyaknya sampai memenuhi ruangan tersebut, dengan posisi Xu Chen berada di tengah tengah
Sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya, Xu Chen berkata dengan nada malas, "Ahh, merepotkan!"
Bersamaan dengan itu Xu Chen melompat tinggi keatas dan mengeluarkan Tehnik Pedang Pembantai, Pemuda itu bergumam pelan "Amarah Sang Dewi" pisau-pisau angin dengan jumlah yang sangat banyak menari-nari, menyerang para tengkorak dengan beringas, saat satu pisau angin mengenai satu tengkorak, pisau angin itu tak akan berhenti, melainkan terus melaju mencari target selanjutnya
Saat Xu Chen mendarat di tanah, para tengkorak telah di bereskan, dan hanya menyisakan tualang-belulang yang berserakan ditanah
Namun Xu Chen tak berhenti hanya sampai di situ, tak ingn mengulang kesalahan yang sama saat melawan para Golem. Xu Chen kembali mengeluarkan Api Pembakar Malam dan membakar habis tulang-belulang, hingga menjadi abu
Suara wanita kembali bergema di ruangan tersebut "Kematian telah sirna, namun tak ada yang abadi, Kehidupan hanyalah ilusi!" bersamaan dengan itu ruangan bergetar hebat lalu pintu keluar terbuka
__ADS_1
Xu Chen kembali melangkah, untuk keluar dari ruangan aneh tersebut, dan masuk keruangan selanjutnya
Xu Chen tak bisa menahan keterkejutannya, saat menemukan ruangan yang ia masuki selanjutnya, sangat berbeda dengan ruangan sebelumnya. jika ruangan sebelumnya beraura suram dan menakutkan ruangan tempat Xu Chen berpijak saat ini beraura nyaman dan menenangkan
Namun saat Xu Chen masih sibuk memperhatikan setiap sudut ruangan, suara wanita kembali terdengar "Apa yang kau lihat belum tentu nyata. kadang, semua hanyalah sandiwara dan ilusi, berhati hatilah itu bisa mencelakai"
Mendengar hal itu Xu Chen berkata "Kali ini apa lagi?"
Namun tiba tiba pandangan Xu Chen berubah, Pemuda itu bisa melihat hamparan Bungan yang indah, dengan berbagai macam warna dan bentuk "Dimana ini, apa aku sudah mati? aku tak bisa mengingat apapun, selain hari yang mengerikan itu!" ujar Xu Chen sambil memegangi kepalanya yang pusing
Seperti teringat sesuatu yang begitu penting, Xu Chen berlari tak tentu arah sambil berteriak memanggil Gurunya "Guru, Guru, dimana Guru berada?"
Namun tiba tiba suara yang begitu akrab di telinganya terdengar memanggilnya, "Nak, siapa yang kau cari?"
Mendengar itu, spontan Xu Chen berbalik dan betapa terkejutnya pemuda itu, teryata suara itu adakah suara ibunya, suara yang begitu ia rindukan, seketika lutut pemuda itu bergetar hebat, hinggah memaksanya pada posisi jatuh berlutut dan tangisnya pecah
"Ibu, Ibu, apakah ini ibu?" ujar Xu Chen dengan suara yang bergetar dan air mata berlinang
Dengan senyum hangat, ibu Xu Chen berkata, "Ini ibu nak, kemarilah apa kau tidak merindukan ibu?"
"Ibu aku sangat merindukanmu!" ujar Xu Chen seraya bangkit ingin menghampiri ibunya
Dengan langkah gontai, Xu Chen menghampiri ibunya "Ibu, dimana ayah dan yang lainnya?" tanya Xu Chen
"Meraka menunggumu nak, datanglah pada ibu, ibu akan mengantarkan mu pada mereka," balasnya
Dengan sedikit berlari kecil, Xu Chen berkata "Ya, ibu"
Namun, saat tinggal beberapa langkah lagi dari ibunya, Xu Chen tiba tiba langsung menghentikan langkahnya, dan pikirannya tiba tiba terngiang sesuatu
__ADS_1
***
Like/Komen dan Vote guys. See You