
"Aku sudah menemukan cara agar kau bisa masuk ke istana Kekaisaran."
Setelah beberapa hari mencari informasi, Xu Chen mendapatkan bahwa Qin Wei-Quo akan melakukan perjalanan pulang dari Kekaisaran tetangga yaitu kekaisaran Tang, perjalanan itu berkaitan dengan kerjasama dua kekaisaran.
Kekaisaran Qin dan Tang memang bertetangga dan satu lagi Kekaisaran Meng. Tiga kekaisaran ini berdiri di sebuah benua bernama benua Teratai.
Diantara tiga Kekaisaran ini tentu ada yang terkuat dan ada juga yang lemah. Kekaisaran Qin sendiri berada di posisi kedua setelah Kekaisaran Tang dan Kekaisaran Meng diposisi terlemah.
Kekaisaran Qin berada di posisi kedua tidak terlepas dari wilayah yang luas serta sumber daya yang melimpah dan banyak tentara di dalamnya.
Kekasaran Tang yang menduduki posisi pertama sebenarnya tidak memiliki wilayah sebesar Kekaisaran Qin, tetapi mereka memberlakukan sebuah sistem aneh yang menyuruh setiap keluarga menyumbang setidaknya dua pria untuk dijadikan tentara. Terlepas dari wilayah yang kecil Kekaisaran Tang memiliki sumber daya melimpah melebihi Kekaisaran Qin.
Kekaisaran Meng yang terlemah memiliki dataran luas yang sangat luas bahkan melebihi Kekasaran Qin. Masalahnya adalah dataran luas yang Kekaisaran Meng miliki hanyalah padang pasir yang panas, karena itu juga banyak masyarakat Kekaisaran Meng lebih memilih hijrah di Kekaisaran Qin atau Tang.
Hui Yin mengerutkan keningnya mendengar Xu Chen.
"Apa kau akan menjual ku pada Kaisar," Hui Yin tertunduk lesu.
Xu Chen tersenyum canggung sebelum menjelaskan kondisinya. Hui Yin menghentikannya dengan khidmat.
"Lalu apa rencananya?" ucap Huo Yin setelah Xu Chen menyelesaikan penjelasannya.
"Jadi rencananya begini..."
**
"Pangeran Mahkota, apa sebaiknya kita beristirahat dulu? hari mulai gelap, aku khawatir jika melanjutkan perjalanan kita akan mendapatkan masalah!" ucap Nian Zhen.
Nian Zhen adalah salah satu orang kepercayaan Qin Wei-Quo putra Mahkota Kekaisaran Qin. Selain karena kecerdasan dan kesetiannya, Qin Wei-Quo menyukai Nian Zhen karena bakatnya yang cukup langka. Bagaimana tidak, disaat umurnya masih Dua Puluh lima tahunan, tetapi dia telah mencapai ranah Ekspert Bintang Dua.
Qin Wei-Quo mengaggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Nian Zhen. Qin Wei-Quo tahu betul melanjutkan perjalanan saat gelap adalah sesuatu yang berbahaya, selain bandit yang mengincar bayak juga binatang buas atau bahkan siluman.
"Bangun tenda, kita akan beristirahat di sini malam ini," perintah Qin Wei-Quo kepada bawahannya yang kira-kira berjumblah sepuluh orang dan enam orang yang mengakar tandu Qin Wei-Quo serta beberapa wanita yang selalu melayani Qin Wei-Quo.
__ADS_1
Mereka adalah prajurit Kekaisaran yang ditugaskan menjaga Qin Wei-Quo diperjalanan. Dari keenam belas orang itu ada sebelas orang ranah Practitioner dan lima ranah Ekspert termasuk Nian Zhen.
Setelah mendapat perintah dari Qin Wei-Quo mereka semua langsung membangun tenda, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk membangun tenda peristirahatan yang cukup besar.
Setelah tenda jadi tidak menunggu waktu lama Qin Wei-Quo segera masuk kedalamnya.
Didalam tenda sudah ada lima wanita cantik yang menunggu dan siap melayani Qin Wei-Quo.
Qin Wei-Quo tersenyum mesum melihat kelimanya. Mereka adalah hadiah yang diberikan oleh Kaisar Tang.
Qin Wei-Quo memanglah seseorang bejat terhadap wanita otaknya hanya dipenuhi dengan Sex. Disaat saudara-saudarnya yang lain belajar dan berlatih dia malah menghabiskan waktunya di tempat prostitusi. Hal ini jugalah yang menyebabkan Kultivasi Qin Wei-Quo rendah yaitu ranah Practitioner Bintang lima.
"Bagaimana? apa kalian siap bermain malam denganku malam ini?" Qin Wei-Quo tersenyum mesum, tangannya sudah mulai menelusurinya bagian favoritnya.
"Ih, Pangeran Mahkota begitu nakal," ucap seorang wanita manja.
Qin Wei-Quo tidak menjawab dia dengan cepat meraih wajah wanita itu dan ******* bibirnya. Sementara wanita yang lain hanya melihat iri kepada rekannya yang sedang bercinta dengan Qin Wei-Quo.
Tidak mau kalah, keempat wanita mulai mengeluarkan jurus-jurus andalan mereka menggoda Qin Wei-Quo hingga terjadilah pertempuran lima lawan satu.
"Tolong, ada bandit yang mengejarku," teriak seorang wanita dari dalam hutan dan berlari menuju perkemahan rombongan Qin Wei-Quo.
"Tolong, tolong. Ada bandit yang mengejarku," ucap wanita tersebut dengan nafas yang memburu setelah sampai di rombongan Qin Wei-Quo.
Salah satu prajurit mengerti alisnya hendak mengusir wanita tersebut. Namun saat melihat wajah cantik wanita tersebut dia mengurungkan niatnya.
"Dimana bandit yang mengejarmu? aku akan menghabisinya," prajurit tersebut membusungkan dadanya bangga.
Wanita tersebut menunjuk ke arah hutan gelap sambil berteriak histeris, membuat prajurit lain menghampirinya.
Para prajurit memandang wanita tersebut dengan tatapan mesum ingin sekali menikmati tubuh wanita tersebut.
Namun saat mereka ingin bertindak lebih jauh, tiba-tiba dari hutan yang gelap keluar seorang pria dengan pakaian serba hitam dan wajah yang ditutupi kain hitam juga hanya menyisakan mata untuk melihat.
__ADS_1
"Lepaskan dia atau kalian semai akan mati," ucap pria tersebut dingin.
Namaun para prajurit tidak mengindahkan ucapan pria tersebut, para prajurit hanya menghinanya.
"Hei, dari suaramu kau sepertinya masih muda, sebaiknya kau pergi atau tombak ku ini akan melukaimu," ucap seorang prajurit sambil tertawa lantang lalu diikuti rekan-rekannya yang lain.
Pria tersebut tidak menjawab dia mengeluarkan aura ranah Ekspertnya membuat tawa para prajurit terhenti seketika.
"Tolong aku!" wanita tersebut kembali berkata setelah melihat para prajurit ragu.
"Kau tenang saja kami akan menolong mu," dia menatap tajam ke arah pria bandit. Dia kemudian berbisik pada salah satu rekannya untuk melaporkan hal ini kepada rekannya yang telah mencapai ranah Ekspert, karena dia tahu meski jumlah mereka banyak tidak akan mampu mengalahkan seorang ranah Ekspert.
Setelah rekannya pergi prajurit tersebut kembali menetap pria bandit, dia kemudian memerintahkan kepada sembilan rekanya yang tersisa untuk menahan pria bandit sampai prajurit ranah Ekspert tiba. Dia percaya meski tidak bisa mengalahkan, tetapi bisa menahan sejenak.
Seorang prajurit maju dan mengkomandoi sembilan rekannya yang lain untuk mengepung pria bandit secara melingkar. Sementara wanita yang dikejar tadi menatap mereka dengan senyum yang merekah lebar.
"Kau memang ranah Ekspert, tetapi aku yakin menghadapi kami semua bukanlah hal yang mudah," prajurit tersebut kemudian mengkomandoi rekannya untuk maju menyerang.
Dengan serentak sepuluh prajurit maju dengan tombak terhunus ke depan, siap menusuk apapun yang dilaluinya.
Pria bandit tersenyum kecil dibalik kain yang menutupi wajahnya, dia kemudian menarik pedangnya lalu mengayunkannya memutar.
Sepersekian detik kemudian tombak kesepuluh prajurit kehilangan mata tombaknya menyisakan gagangnya.
Para prajurit menganga melihat itu, mereka pikir bisa menahan pria bandit sebentar namun malah kenyataan pahit yang mereka terima.
Seorang prajurit mengkomandoi rekannya untuk mundur, dia sadar pria yang sedang mereka hadapi bukan orang biasa. Namun nahas baginya saat mengkomandoi rekannya yang lain dia malah jadi sasaran pria bandit. Alhasil prajurit tersebut kehilangan kepalanya tanpa tahu apa yang membuatnya kehilangan nyawa.
Melihat rekan mereka dihabisi dengan mudah sembilan prajurit ranah Practitioner yang tersisa memilih mempercepat langkahnya menjauh dari pria bandit.
Namun tanpa mereka sadari pria bandit bergerak dengan cepat menghabisi mereka satu persatu hingga hanya tersisa tiga prajurit lagi. Mereka tidak menyadari itu karena pria bandit bergerak cepat dan suasana malam yang gelap.
Pria bandit bergerak cepat ingin menghabisi tiga prajurit yang tersisa, namun saat pedangnya beberapa senti dari leher salah satu prajurit pedang lain menghentikannya membuat dentingan besi yang cukup keras.
__ADS_1
"Kau sudah membuat kekacauan dan menghabisi bawahanku, aku pastikan kau tidak akan melihat lagi matahari esok," Nian Zhen berkata dingin.
...*****...