
Mereka kini memandang Xu Chen jauh lebih hormat dan takjub dari sebelumnya. Mereka semua memikirkan hal yang sama, siapa sebenarnya pahlawan mereka ini mengapa sangat kuat di usia yang bisa dibilang masih tergolong belia. Dan akhirnya mereka menyetujui satu hal.
"Pahlawan, jadikan kami Murid pahlawan?" para pemuda berkata serentak seraya membungkuk penuh hormat. "Kami mohon terima kami menjadi murid pahlawan!"
Xu Chen tersenyum mendengar hal itu "Baiklah, kalian semua tegakkan kembali badan kalian."
"Tidak, sebelum pahlawan mau menjadi guru kami."
"Baiklah, baiklah," Xu Chen menggeleng pelan, "hari ini kita semua diikat oleh sebuah ikatan yaitu ikatan guru dan murid." Xu Chen berkata lantang.
"Hari ini kami diikat oleh sebuah ikatan, yakni ikatan murid dan guru," tanpa aba-aba para pemuda mengucapkan apa yang Xu Chen ucapkan.
"Dan kami akan mengabdi pada guru sehidup semati."
Tanpa para pemuda sadari dengan tiba-tiba Xu Chen telah tertanam dalam di hati mereka, sebagai panutan mereka.
"Beri hormat pada Guru," pemuda yang berdiri paling depan dan paling tua memberi aba-aba.
Sontak semua pemuda segera berlutut memberi hormat "Hormat pada Guru," memegang dada dan menundukkan kepala dalam.
Xu Chen tersenyum puas melihat hal itu, "Haha, berhasil," berkata dalam hati.
"Kalian semua berdirilah," Xu Chen berkata dengan penuh wibawa.
Tanpa membantah para pemuda segera berdiri, namun tetap menundukkan kepala dalam tak berani untuk sejajar dengan Xu Chen. Hal ini menandakan Xu Chen telah berhasil menanamkan rasa hormat sekaligus takut kepada para pemuda.
"Beri tahu rekan-rekan kalian yang lain. Besok berkumpul di tempat ini. Apa kalian mengerti?"
"Baik, Guru," para pemuda berkata serentak.
Setelah itu Xu Chen menyuruh mereka untuk melanjutkan latihan mereka masing-masing dan ia pamit dari situ.
"Wah, guru sangat kerena dan bergaya."
__ADS_1
"Apakah ini mimpi? aku masih tak menyangka pahlawan akan jadi guru kita."
"Guru sangatlah hebat dan berwawasan. Aku tidak sabar berlatih di bawah bimbingan guru."
***
Tak terasa waktu kini sudah malam, matahari bersembunyi malu, sedangkan bulan menampakan sinar indahnya. Malam ini adakah bulan purnama, suatu malam yang indah untuk mengadakan pesta.
"Hei, Chen, apa kau tidak ingin pergi ke pesta?" membangunkan Xu Chen yang ketiduran.
Yan Yu telah berpakaian rapi, dengan balutan baju khas yang diberikan Huang Ho melingkar indah di tubuhnya dan riasan wajah sederhana membuat ia terlihat sangat cantik seperti putri kerajaan.
Xu Chen diam sesaat memandang Yan Yu dari atas hingga bawah "Huh, siapa yang menginginkan hal itu," Xu Chen mendengus kesal.
"Hei, bukankah kau tinggal karena ingin pesta? dan mereka juga merayakan pesta ini untukmu, apa jadinya kalau kau tidak datang?" Yan Yu mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan jalan pikiran Xu Chen.
"Aku tak pernah bilang menginginkan hal itu" Xu Chen berkata malas khas orang mengantuk. "Pergilah aku ingin tidur, hari ini sangat melelahkan," Xu Chen mengusir Yan Yu dengan tangannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan tuan Chen yang terhormat?" Yan Yu berkata dalam hati.
Xu Chen tak menganggap masih diam mematung, entah karena takjub dengan kecantikan Yan Yu atau memang karena masih mengantuk.
"Apa kau tahu...?" Yan Yu mulai menceritakan baju khas yang dipakainya, gadis itu mengatakan bahwa baju khas yang ia pakai adalah pemberian Huang Ho dan baju khas itu adalah milik mendiang anaknya.
Saat Yan Yu masih sibuk bercerita. Tiba-tiba suara gadis kecil mengagetkan keduanya, "Kakak Yu, kakak Chen ayo pergi bersama!" gadis kecil itu berkata dengan semangat.
"Wahh, kakak Yu sangat cantik! seperti ibu," gadis kecil itu takjub melihat Yan Yu yang sedang memakai baju milik ibunya.
Namun, saat melihat Xu Chen yang masih mengenakan jubah hitam yang biasa digunakannya. Wajah gadis kecil menjadi kecewa "Apa kakak Chen tidak akan ikut?" ujar gadis kecil dengan mata berkaca-kaca.
Xu Chen diam. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Sementara itu Yan Yu tertawa puas dalam hati "Hehehe, apa kau akan menolak gadis kecil ini. aku jadi sangat berterimakasih padamu Miao'er." berkata dalam hati.
Dengan senyum yang dipaksakan, Xu Chen berkata, "Bukan seperti itu adik Miao'er, tetapi kakak Chen tak memiliki pakaian pesta," Xu Chen masih mencoba mencari alasan.
__ADS_1
"Kalau itu masalah kakak aku bisa mengatasinya," gadis itu tersenyum lebar dan tanpa menhelaskan lebih jauh segar berlari keluar kamar.
Tak berapa lama gadis kecil itu telah kembali dengan memegang sebuah jubah di tangannya. Gadis itu lalu menyodorkan jubah itu kepada Xu Chen. "Kakak Chen ini, pakailah."
Xu Chen menghela nafas pelan lalu mengambil jubah tersebut lalu mengganti jubah hitamnya dengan jubah yang diberikan gadis kecil.
"Wahh, kakak Chen juga sangat tampan," gadis kecil berkata takjub yang dibalas anggukan oleh Yan Yu.
Xu Chen tak menjawab hanya menatap Yan Yu kesal, sedangkan Yan Yu mendapati tatapan itu memasang wajah tidak tahu apa-apa.
"Ummm, bolehkah aku memanggil kakak Chen dan kakak Yu dengan sebutan ayah dan ibu?" gadis kecil berkata ragu-ragu.
Sontak Xu Chen dan Yan Yu mendengar itu menjatuhkan rahangnya kaget, kedua saling memandang.
Karena keduanya tak ingin mematahkan keinginan seorang gadis kecil yang polos, akhirnya keduanya hanya bisa menyetujui hal itu.
Gadis kecil melompat-lompat kegirangan "Ayo pergi ayah ibu," menarik tangan Xu Chen dan Yan Yu dengan tangan mungilnya.
***
Pesta malam itu berlangsung lancar dan tanpa masalah atau hambatan, semua orang dari kalangan muda hingga tua bersenang-senang bersama tanpa memandang umur. Semua merayakan satu hal yaitu desa mereka yang telah terbebas dari kutukan.
Tak lupa juga mereka mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Xu Chen dan Yan Yu yang telah bersedia membantu mereka.
Pesta itu juga sekaligus memberikan gelar pahlawan desa dalam kabut kepada Xu Chen dan Yan Yu, mereka mengatakan akan menceritakan kisah kepahlawanan Xu Chen dari generasi ke generasi, mereka juga akan membuat patung Xu Chen dan Yan Yu di tengah desa agar anak cucu mereka bisa mengetahui karena siapa mereka terbebas.
Xu Chen sebenarnya ingin menolak hak itu. Namun, kerena warga desa memaksakan hal itu, akhirnya mau tidak mau Xu Chen menerimanya.
Pesta berlangsung hingga tengah malam. Hingga pesta itu di tutup oleh Xu Chen yang menyampaikan sepatah dua patah kata yang menginspirasi.
*****
**Alhamdulillah hari ini bisa update dua chapter, semoga selalu bisa seperti ini ya.
__ADS_1
Support author dengan like/komen dan Vote**.