
Xu Chen segera keluar dari ruangan, sementara Kuo Huo menatap punggung Xu Chen yang sudah menghilang di balik pintu.
Kuo Huo sebenarnya sudah menawarkan dirinya untuk mengantarkan Xu Chen hingga ke depan pintu, namun Xu Chen melarangnya dengan alasan merepotkan.
"Hah, Xian Chen," Kuo Huo menyebut nama Xu Chen sambil berpikir keras, "Xian? aku belum pernah mendengar marga Xian sebelumnya?" Kuo Huo menghela nafas berat.
"Apapun itu aku harus berhati-hati dengannya!"
***
Sementara Xu Chen yang berjalan di luar, kembali mendapatkan tatapan heran dari para karyawan Pelelangan Sinar Jingga yang sedang bekerja mempersiapkan pelelangan akbar yang tinggal tiga hari lagi.
Xu Chen mendapat tatapan dari banyak orang sangat tidak peduli dan cuek, ia hanya terus berjalan seperti biasa dseolah tidak terjadi apa-apa dan dengan penuh percaya diri.
Saat Xu Chen tinggal beberapa langkah dari pintu keluar, tiba-tiba suara seorang gadis kira-kira berusia dua puluh tahun memanggil namanya.
"Tuan Chen tunggu!" panggil Ying Yue.
Mendengar seseorang memanggil namanya Xu Chen berbalik ke arah datangnya suara, "Huh, mengapa wanita memanggilku?" gumam Xu Chen pelan.
Saat Ying Yue telah berada di depan Xu Chen, ia segera memberi hormat "Tuan Chen maaf mengganggu," ucap Ying Yue basa-basi.
Xu Chen hanya mengagumkan kepalanya ringan, namun dengan ekspresi datar seperti biasa. Hal itu membuat Ying Yue semakin tertantang.
"Lihat sampai mana kau bisa bertahan!?" batin Ying Yue.
"Emm, tuan Chen...?"
Belum usai Ying Yue meyelesaikan kata-katanya, Xu Chen tiba-tiba memotong "Nona Yue apa yang kau ingin katakan?" Xu Chen menghembuskan nafas kasar.
"Huh, mengapa tuan Chen begitu terburu-buru tidak bisakah tuan bersabar sedikit untuk menemani gadis cantik sepertiku?!" Ying Yue memegang dagunya menggoda.
Xu Chen hampir mengumpat kasar mendengar Ying Yue berkata dan bergaya dengan penuh percaya diri, namun ia segera menahan emosinya.
"Nona Yue cepatlah aku tidak punya banyak waktu!?" Xu Chen menghela nafas panjang.
Ying Yue memanyunkan bibirnya "Huh, tuan Chen," Ying Yue mendengus manja, "aku hanya ingin berkenalan kembali dengan tuan Chen!?"
Xu Chen mengerutkan dahinya "Bukankah kita sudah berkenalan sebelumnya?"
__ADS_1
"Biar aku beri tahu ya, tuan Chen. Saat kita berkenalan kau begitu terburu-buru, jadiii... kita tidak berkenalan dengan baik," Ying Yue mengedipkan matanya genit ke arah Xu Chen.
Xu Chen melihat itu ingin sekali mengumpat, "Jika hanya itu yang ingin nona Yue tanyakan maka aku akan pergi," Xu Chen tidak menunggu jawaban Ying Yue segera berjalan ke arah pintu keluar.
Ying Yue melihat Xu Chen tidak memperdulikannya dan berlalu pergi segera berlari kecil menghalangi langkah Xu Chen, "Tuan Chen mengapa terburu-buru?" Ying Yue memasang pose menggoda.
"Nona apa yang kau inginkan mengapa kau menghalangiku?" Xu Chen karena emosi sedikit meneriaki Ying Yue.
"Bukankah aku sudah mengatakannya," Ying Yue memandang Xu Chen sambil mengerutkan dahinya, "Aku hanya ingin berkenalan!" Ying Yue kembali mengedipkan sebelah matanya pada Xu Chen.
Xu Chen sudah tidak bisa menelan emosinya, "Nona Yue," Xu Chen sedikit menaikan intonasi suaranya, membuat Ying Yue diam.
"Nona, aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku, tetapi aku melihat nona begitu cerdas dan berpendidikan, mengapa mengganguku seperti ini?" Xu Chen sedikit meninggikan suaranya sehingga dapat di dengar beberapa orang yang dekat dengan keduanya.
Ying Yue diam seribu bahasa, gadis itu sedikit menundukkan kepalanya malu karena ia tahu beberapa orang di dekatnya bisa mendengar perkataan Xu Chen.
Xu Chen melihat Ying Yue diam segera pergi tanpa berkata apa-apa. Xu Chen tidak peduli dengan mata yang tertuju padanya dan Ying Yue yang tertunduk malu.
"Siapa pemuda itu? berani sekali dia berkata seperti itu pada nona Yue?" ucap seorang karyawan.
"Diamlah itu bukan urusan kita!" balas karyawan yang lain.
Sementara itu Ying Yue berlari ke dalam dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
***
Selepas dari Pelelangan Sinar Jingga, Xu Chen segera mencari penginapan terdekat agar bisa mengawasi pergerakan di sekitar pelelangan.
Xu Chen memutuskan masuk di sebuah penginapan empat lantai yang megah dan mewah. Salah satu penginapan elit di Kekaisaran Qin tempat di mana bara keluarga kaya menginap.
Penjaga pintu melihat Xu Chen mengerutkan dahi, namun tidak menghentikan langkah Xu Chen.
"Aku pesan kamar biasa untuk tiga malam," Xu Chen berkata pada seorang resepsionis penginapan.
"Semalam sepuluh koin emas tuan!" ucap resepsionis wanita sopan.
Xu Chen mengerutkan dahinya karena harga yang sangat mahal untuk ukuran kamar biasa, namun Xu Chen tidak protes ia segera mengeluarkan tiga puluh koin emas kepada resepsionis wanita.
Resepsionis wanita itu menganggukkan kepalanya lalu memberikan sebuah kunci pada Xu Chen, "Kamar tuan nomor dua puluh, silahkan tuan berjalan lurus dan belok kiri di depan," ucap resepsionis sopan.
__ADS_1
Xu Chen mengangguk ringan lalu segera berlalu meninggalkan meja resepsionis.
**
Xu Chen telah berada di dalam kamar pesanannya ia masih memikirkan tiga puluh koin emas yang dikeluarkan, "Huh, jika aku tahu harga permalamnya sangat mahal lebih baik aku tidur saja di hutan seperti biasa!" ujar Xu Chen dengan wajah lemas.
Xu Chen memikirkan itu bukan tanpa alasan. Tiga puluh koin emas setidaknya bisa untuk ia hidup beberapa tahun namun dengan gaya hidup serba sederhana.
Kaisar Kegelapan yang melihat muridnya lemas hanya karena tiga puluh koin emas mengerutkan dahinya bingung, "Hei, murid bodoh! mengapa kau begitu sedih hanya karena tiga puluh koin emas? sementara kau akan mendapatkan jutaan koin emas besok," Kaisar Kegelapan berkata ketus.
Namun Xu Chen masih tidak menjawab. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu.
"Ahh, Sudalah lupakan itu," Kaisar Kegelapan menggelengkan kepalanya ringan, "Lebih baik kau berlatih, aku akan mengajarkan tehnik baru!"
Xu Chen terlonjak kaget mendengar itu, "Jurus baru? apa itu Guru?" Xu Chen berkata dengan semangat. Xu Chen tahu apapun yang Kaisar Kegelapan ajarkan atau berikan tidaklah sederhana, hal itulah yang membuat Xu Chen begitu semangat.
Kaisar Kegelapan tersenyum penuh makan "Aura Kematian," Kaisar Kegelapan berkata singkat dengan senyum misterius berhasil membuat Xu Chen penasaran.
"Aura Kematian? apa itu semacam aura membunuh?" Xu Chen mengerutkan dahinya, setahunya aura membunuh sangat tidak bagus, karena bisa membuat musuh menyadari keberadaannya dengan merasakan aura membunuh.
"Hmm, semacam itu namun sangat berbeda!" Kaisar Kegelapan memegang dagunya dan terlihat sedang berpikir.
Xu Chen semakin dalam mengerutkan dahinya, "Berbeda? maksud Guru apa, mengapa begitu bertele-tel..?" Xu Chen segera menutup mulut dengan tangannya sendiri, menyadari telah mengatakan sesuatu yang salah.
"Kau mengatai Guru bertele-tele, huh? kau ingin menjadi murid durhaka?" Kaisar Kegelapan berkata dengan penuh penekanan.
"T-tidak Guru," Xu Chen mulai panik, "M-masksud Murid, mengapa Murid bertele-tele, hehe," Xu Chen berkata asal diakhiri dengan tertawa canggung.
Kaisar Kegelapan merasa sangat lucu dengan tingkah Xu Chen namun ia menahan agar tidak tertawa, "Sudalah, Guru akan mentransfer pengetahuan mengenai aura Kematian, kau bersiaplah anak bodoh!" Kaisar Kegelapan tersenyum misterius.
Xu Chen mendengar gurunya tidak mempermasalahkan lebih jauh mengenai perkataannya segera menghela nafas lega. Namun Xu Chen kembali tegang saat melihat Gurunya tersenyum misterius.
"Matilah aku!" batin Xu Chen seraya tersenyum kecut.
...*****...
Support author dengan Like Komen dan Vote.
See You.
__ADS_1