Legend Of Darknes

Legend Of Darknes
Chapter 64. Qin Meng-Yu


__ADS_3

"Aku hanya ingin menyerahkan dia dan pedang berkat yang mau beli," Ying Yue berkata judes dan segera berdiri meninggalkan Xu Chen dan gadis budak berdua di ruangan.


Xu Chen melihat itu hanya terkekeh pelan lalu segera beralih menatap tajam gadis budak, mencoba membuatnya ketakutan, namun usaha Xu Chen tidak menuai hasil sebab gadis budak yang ia tatap hanya memasang wajah datar tidak peduli.


"Siapa namamu?" Xu Chen masih menatap tajam gadis budak, karena dia membuat Xu Chen harus mengeluarkan satu juta keping emas.


"Hui Yin," Hui Yin berkata datar dan tanpa rasa takut membalas tatapan Xu Chen.


Xu Chen mengerutkan dahinya, ia mulai tertarik dengan Hui Yin karena dia adalah satu-satunya orang yang berani membalas tatapannya selama kehidupan keduanya.


"Hei, apa kau tidak aku akan melakukan apa-apa padamu?"


"Tentu, aku merasa takut tuan!" Hui Yin masih tanpa ekspresi, membuat Xu Chen semakin kebingungan.


"Jika kau ketakutan mengapa kau masih memasang wajah seperti itu?" Xu Chen bertanya penuh selidik.


"Aku yakin itu tidak penting untuk tuan."


"Sudalah, kau tidak perlu khawatir denganku, aku tidak akan melakukan apapun padamu..." Xu Chen sengaja menghentikan kata-katanya ingin membuat Hui Yin penasaran, namun hasilnya tetap nihil.


"Aku memang tidak akan melakukan apapun padamu, tetapi tidak dengan Guruku, Karena dialah yang menyuruhku untuk mendapatkan mu," Xu Chen tersenyum menggoda, entah mengapa sekarang mengerjai orang adalah hobinya, namun tidak mempan pada Hui Yin karena gadis itu terus memasang wajah datar.


Sementara Xu Chen sedang menerima omelan dari Kaisar Kegelapan karena mengatakan hal yang tidak-tidak lagi tentangnya.


"Baiklah sekarang kita pulang. Berikan pedang itu," Xu Chen mulai frustasi dengan ekspresi datar Hui Yin.


Hui Yin dengan tanpa ekspresi menyerahkan pedang berkarat itu pada Xu Chen. Pemuda itu lalu menaruh pedang berkarat itu kedalam cincin penyimpanannya.


"Hei, jangan pasang ekspresimu itu padaku aku tidak menyukainya, tersenyumlah."


Dengan terpaksa Hui Yin memasang senyumnya, namun Xu Chen tidak mempermasalahkan itu dan segera berjalan keluar. Hui Yin mengikutinya dari belakang.


Baru berjalan beberapa langkah, Xu Chen langsung tiba-tiba terhenti membuat Hui Yin menabraknya dari belakang.


"Berhati-hatilah saat berjalan!" Xu Chen sedikit berteriak karena ditabrak dari belakang.

__ADS_1


"Ya, tuan," Hui Yin berkata datar tanpa ekspresi membuat Xu Chen semakin frustasi.


"Ahh, teryata mengahadapi orang berwajah datar sangat mengesalkan, aku akan belajar tersenyum ramah mulai sekarang," batin Xu Chen.


"Dia semakin dekat!" ujar Xu Chen tiba-tiba.


"Siapa tuan?" Hui Yin bertanya namun tetap memasang wajah datar.


"Teman lama," Xu Chen tersenyum penuh makna.


Qin Meng-Yu terlihat sedang linglung didepan sebuah pintu ruangan, ia terlihat ingin mengetuknya namun disaat yang bersamaan dia ragu. "Persetan, aku harus memberitahukannya!"


Qin Meng-Yu menggedor pintu ruangan itu dengan keras dan terburu-buru.


Xu Chen mendengar pintu ruangannya di gedor dengan keras menggelengkan kepalanya pelan.


"Cih, dia memang tidak sabaran," Xu Chen bergumam pelan.


Hui Yin mendengar pintu digedor dengan keras segera berjalan kearah pintu ingin membukanya, namun langsung dihentikan oleh Xu Chen. Hui Yin mengangguk pelan lalu kembali ke posisinya.


Qin Meng-Yu melebarkan matanya saat melihat pemuda yang berdiri tegak di depannya sesuai dengan dugaannya.


"Chen..." suara Qin Meng-Yu bergetar. Ia kemudian segera memeluk pemuda di hadapannya yang tidak lain Xu Chen.


Xu Chen mundur dua langkah menghindari pelukan Qin Meng-Yu "Tuan Putri, tidak pantas bagiku mendapatkan pelukanmu."


Qin Meng-Yu mengerutkan dahinya "Apa yang kau maksud? aku Yan Yu bukan putri," Qin Meng-Yu kembali maju dua langka mendekati Xu Chen. Qin Meng-Yu kemudian meraih tangan Xu Chen, namun lagi-lagi Xu Chen menghindarinya.


"Apa aku perlu memperjelasnya? kau adalah Qin Meng-Yu putri satu-satunya Kaisar Qin. Bukankah aku benar tuan putri?" Xu Chen tersenyum sinis.


"Kapan? sejak kapan kau mengetahuinya?" Qin Meng-Yu mulai mengeluarkan air matanya.


Xu Chen sebenarnya tidak tega membuat Qin Meng-Yu menangis, bagaimanapun mereka berdua telah berpetualang bersama selama sebulan lebih. Namun dendam menghentikannya untuk mengasihani Qin Meng-Yu.


"Sudalah, jika kau hanya ingin mengatakan ini sebaiknya kau pergi, lupakanlah segalanya anggap kita tidak pernah bertemu," Xu Chen membalikkan badannya, tetapi tiba-tiba Qin Meng-Yu menghentikannya.

__ADS_1


"Mengapa aku harus melupakanmu?" air mata Qin Meng-Yu semakin mengalir deras.


Xu Chen tertawa pelan "Kau adalah tuan putri terhormat yang hidup dalam kemewahan, sedangkan aku hanyalah gelandang yang tidak memiliki tempat untuk pulang," terdengar kesedihan mendalam dalam kata-kata Xu Chen.


Qin Meng-Yu menarik tangan Xu Chen "Tetapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersamamu, kita bisa terus mengembara berdua seperti dulu, aku akan melepaskan gelar tuan putriku."


Xu Chen melepaskan tangan Qin Meng-Yu dari tangannya lalu berjalan membelakangi gadis itu.


"Pertemuan kita adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi," Xu Chen kemudian meninggalkan Qin Meng-Yu yang terduduk dilantai sambil menangis terisak.


"Dasar Chen sialan, kau dulu pergi tanpa pamit membuat hatiku sangat sakit dan sekarang kau mencampakkan aku begitu saja, mengatakan pertemuan kita adalah kesalahan, kaulah yang kesalahan sialan. hiks hiks hiks," Qin Meng-Yu berteriak marah.


Tanpa Qin Meng-Yu sadari seseorang mendengarkannya dari kejauhan "Wah tuan Chen begitu hebat bisa membuat tuan putri sampai seperti itu," Kuo Huo menggelengkan kepalanya pelan.


Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan kemunculan Xu Chen dari belakang.


"Hei, apapun yang kau lihat dan dengar sebaiknya kau lupakan," Xu Chen berkata dingin.


Kuo Huo menelan ludahnya dengan sudah, ia sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran Xu Chen.


Kuo Huo segera berbalik dan mendapati Xu Chen dengan wajah yang dingin, "Maaf aku tidak sengaja mendengar, tetapi tuan Chen tenang saja aku hanya mendengar sedikit bagian terakhir dan tidak akan menceritakan ini pada siapapun," Kuo Huo tersenyum canggung.


"Ya, aku mempercayaimu. Maaf juga sudah mengagetkan mu."


"Tidka apa-apa tuan. Kedatanganku kesini hanyalah ingin menyerahkan uang hasil penjualan Pil-pil tuan," Kuo Huo menyerahkan sebuah cincin penyimpanan pada Xu Chen. Xu Chen menerimanya lalu memakannya.


"Total penjualan Pil-pil tuan Chen bernilai lima juta keping emas, namun karena dipotong pihak pelelangan lima persen dan dikurangi dengan yang tuan beli maka totalnya tiga juta empat ratus lima puluh ribu keping emas."


Xu Chen mengangguk pelan lalu izin ingin segera pergi karena ia merasakan aura Qin Wei-Quo mengarah kepadanya.


Xu Chen bisa merasakan aura orang-orang di sekitarnya serta menyamarkan aura kehadirannya, seperti Kuo Huo yang tidak merasakan kehadiran Xu Chen. karena aura Kematian yang Xu Chen pelajari.


***


Qin Meng-Yu

__ADS_1



__ADS_2