
Xu Chen sudah meninggalkan desa dalam kabut. Kepergian pemuda itu meninggalkan banyak kenangan kepada warga desa, terutama para pemuda-pemudi yang Xu Chen asuh menjadi muridnya.
Bagi mereka Xu Chen bukan sekedar pahlawan yang membebaskan desa mereka, tetapi juga pahlawan yang membebaskan belenggu diri mereka.
Meski tak terucap, namun jauh di dalam lubuk hati para murid Xu Chen, mereka sudah menyerahkan seluruh hidup mati mereka kepada Xu Chen.
Tak hanya itu Xu Chen memerintahkan kepada Wu Ming dan Li Cong untuk menjadi pemimpin para murid yang lain dan juga keduanya diberi amanah untuk melatih semua anak-anak di desa yang ingin berlatih kultivasi.
Semua murid Xu Chen menyetujui itu, tentu tak ada yang berani membantah perkataan Xu Chen. Selain itu Xu Chen memberi tahukan akan datang setidaknya sekali setahun untuk mengecek perkembangan murid-muridnya.
Xu Chen mengancam jika kultivasi mereka tidak berkembang saat Xu Chen kembali, maka mereka akan tahu sendiri akibatnya.
"Apa yang kau pikirkankan!" Yan Yu mensejajarkan laju kudanya dengan Mutiara Hitam yang Xu Chen tunggangi.
"Tidak ada!" Xu Chen seperti biasa, memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Xu Chen memacu kudanya lebih cepat. Perjalan dari desa ke ibukota setidaknya memakan waktu lima sampai seminggu dengan berjalan, namun jika menggunakan kuda bisa mempersingkat waktu menjadi tiga hari sampai tiga hari.
Tiga hari telah berlalu Xu Chen dan Yan Yu tanpa henti terus memacu kuda mereka menuju ibukota. Namun, perjalan keduanya terhambat karena Yan Yu yang terus mengeluh, memaksa Xu Chen untuk berhenti hanya untuk sekedar beristirahat atau Yan Yu yang ingin mandi ketika menemui sungai.
Hal itu membuat yang tadinya Xu Chen menargetkan tiba di ibukota dalam tiga hari harus menambah sehari perjalan lagi.
Selain itu tak ada masalah besar yang Xu Chen dan Yan Yu temui, hanya beberapa perampok kecil yang langsung Xu Chen basmi.
Hari ini adalah hari ketiga malam ketiga Xu Chen dan Yan Yu lalui bersama dalam perjalan menuju ibukota.
Karena hari telah menunjukan bahwa Kegelapan telah tiba, maka Xu Chen dan Yan Yu memutuskan untuk beristirahat sekaligus bermalam. Keduanya akan melanjutkan perjalanan esok hari sampai tiba ke ibukota.
Xu Chen membangun tenda untuk beristirahat, sementara Yan Yu menyipkan makanan untuk santapan mereka makan ini.
Xu Chen dan Yan Yu makan malam di bawah langit malam yang gelap, namun tak terlalu gelap karena ada bulan purnama yang terlihat bersinar indah.
"Hei Chen, apa kau tahu..? Yan Yu berkata lembut, gadis itu memandangi bulan yang seolah membalas tatapannya.
Xu Chen masih sibuk dengan makanannya, ia hanya mendengus sebagai jawaban.
"Aku tak ingin malam ini berakhir! malam ini sangat indah! kau tahu?" Yan Yu menolehkan pandangannya ke arah Xu Chen.
__ADS_1
Namun, pemuda yang diajak bicara tidak bergeming sama sekali, tidak ingin terlibat dalam perbincangan.
"Huh, dasar tidak peka!?" Yan Yu hanya mengutarakan itu dalam hati, tidak berani berkata pada Xu Chen secara langsung.
Setelah usai makan malam kedua memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah dengan perjalan hari ini dan bersiap untuk terlelap di alam mimpi, yang mereka harap menjadi mimpi indah.
***
"Ahh, mengapa sangat susah untuk tidur!?" gerutu Xu Chen.
Xu Chen sudah mencoba berbagai cara untuk tidur. Namun, tidak ada satupun yang berhasil. Xu Chen kemudian memutus untuk keluar mencari angin segar sebentar.
Xu Chen berjalan beberapa saat, sebelum menemukan sebuah batu besar yang cukup tinggi, namun terlihat sangat bagus digunakan untuk berbaring.
Xu Chen tanpa basa-basi segera melompat menaiki batu besar tersebut. Pemuda itu kemudian berbaring dengan kedua tangan digunakan sebagai bantal memandangi bulan purnama yang bersinar terang.
Xu Chen mengangkat satu tangannya lalu menghalangi sinar bulan dari wajahnya.
"Guru...!" Xu Chen tahu disaat seperti ini gurunya selalu bisa ajak bicara dan hal itu selalu berhasil membuatnya tenang.
"Hem..." Kaisar Kegelapan membalas dengan malas.
Kaisar Kegelapan mendengus kesal "Huh, kau sudah dewasa, tetapi mengapa kau selalu manja," Kaisar Kegelapan mulai mengomel lagi. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan!"
Xu Chen mengerutkan dahinya "Maksud Guru?"
"Cih, mengapa aku harus selalu menjelaskannya dengan detail," Kaisar Kegelapan mengusap-usap bagian belakang kepalanya. "Lakukan apa yang hatimu katakan!" Kaisar Kegelapan menunjuk ke arah hati Xu Chen.
Xu Chen spontan memegangi dadanya "Hati Yaa...!" Xu Chen bergumam pelan.
Kaisar Kegelapan menganggukkan kepalanya ringan "Kau harus selalu mendengarkan hatimu, bukan nafsumu, aku harap sekarang kau mengerti!?"
"Baiklah," Xu Chen segera berdiri tegap. "Murid mengerti, Guru!" Xu Chen segera kembali ke tenda.
***
Xu Chen terlihat melirik Yan Yu yang tertidur pulas, lalu menghampirinya "Aku yakin, dipertemuan selanjutnya kita tidak akan seperti ini lagi!"
__ADS_1
Xu Chen segera berjalan keluar tenda lalu pemuda itu terlihat melakukan segel tangan.
Bersamaan dengan Xu Chen selesai merapal segel tangannya, seketika sebuah energi transparan berbetuk setengah lingkaran melindungi tenda Yan Yu.
"Array ini setidaknya bisa menahan Kultivator ranah Practitioner, dia akan aman!"
"Maaf mengganggu mu malam-malam seperti ini Mutiara Hitam, tetapi kita harus melanjutkan perjalanan!?" seperti mengerti ucapan Xu Chen, kuda hitam atau Mutiara Hitam segara berdiri lalu menundukkan badannya mempersilahkan Xu Chen untuk menaiki punggungnya.
Xu Chen tertawa kecil melihat tingkah Mutiara Hitam. Xu Chen kemudian langsung menaiki punggung Mutiara Hitam.
"Apa kau siap? anak baik," Xu Chen mengusap-usap kepala Mutiara Hitam.
Mutiara Hitam berteriak kecil dan segera berlari sekencang yang ia bisa, membawa Xu Chen dipunggungnya.
***
"Hoam" Yan Yu menguap lebar sambil meregangkan kedua tangannya. Yan Yu terbangun karena sinar matahari menyala wajahnya.
"Sudah siang? mengapa si Chen itu tidak membangunkan ku? tidak seperti biasanya?" Yan Yu bingung biasanya pagi-pagi buta Xu Chen sudah membangunkannya untuk sarapan dan melanjutkan perjalanan, setidaknya itu yang terjadi selama tiga hari perjalanan yang kedua tempuh.
Raut wajah Yan Yu tiba-tiba berubah "Apa dia sakit?" Yan Yu segera berlari ke tenda milik Xu Chen.
Yan Yu memanggil-manggil Xu Chen sejenak. Namun, karena tidak ada jawaban Yan Yu memutusakan untuk masuk.
Yan Yu mengerutkan dahinya, ia tidak menemukan Xu Chen dalam tenda. Yan Yu seketika menjadi panik.
Yan Yu berlari ke luar, gadis itu memanggil-manggil nama Xu Chen berulang kali. Namun masih tak ada jawaban.
"Mutiara Hitam?" Yan Yu tiba-tiba terpikir akan kuda hitam milik Xu Chen.
Yan Yu segera berlari, namun ia tidak menemukan juga Mutiara Hitam di tempatnya.
Yan Yu terduduk lemas, gadis itu mulai menangis dengan suara keras memanggil-manggil Xu Chen.
"Mengapa kau meninggalkanku?" Yan Yu mengusap air matanya, "Aku membencimu, Chen!"
...****...
__ADS_1
Support author dengan Like Komen dan Vote.