
Fajar telah menyingsing diikuti ayam yang berkokok panjang, membangunkan orang-orang yang sedang terbuai di alam mimpi.
"Kakek, kakek!" teriak seorang gadis kecil memecah kesunyian kediaman Huang Ho.
"Ada apa Miao'er? mengapa teriak-teriak sepagi ini? kau akan membangunkan Tuan Chen dan Nona Yu!" seorang pria tua keluar dari ruangan sambil mengucek-ngucek matanya.
"Kakek! kakek! lihatlah keluar ada yang ingin aku tunjukan," memegang tangan kakeknya dan segera menariknya keluar.
Huang Ho yang ditarik hanya pasrah dan mengikuti langkah mungil cucunya kemanapun ia pergi. Hingga sampailah mereka di halaman rumah
"Apa yang ingin Miao'er tunjukan pada kakek?" Huang Ho bertanya lemas, karena masih mengantuk.
"Lihatlah itu kakek!" gadis kecil itu menunjuk ke arah atap
Huang Ho memandang ke arah yang ditunjukan cucunya, seketika pria tua itu melebarkan kedua matanya "B-bagaimana bisa?" berkata gugup sangking kagetnya.
"Miao'er! cepat panggillah kakak Yu kemari."
"Ya!" jawab gadis kecil itu singkat dan segera berlari memasuki rumah melaksanakan perintah kakeknya.
Tak berapa lama gadis kecil itu telah kembali dengan Yan Yu berjalan di sampingnya sambil memegang tanga mungilnya.
Saat Yan Yu beremu mata dengan Huang Ho, gadis itu tak memperdulikannya karena masih marah mengingat kejadian kemarin
"Apa yang ingin Miao'er tunjukan pada kakak Yu?" Yan Yu menatap heran di sekitarnya, gadis itu merasa tidak ada yang berubah atau yang menarik untuk dilihat, kecuali Huang Ho yang sedang diam mematung.
"Itu! kakak Yu, lihatlah!"
Ekspedisi Yan Yu tak bedah jauh dengan Huang Ho, melebarkan mata tak percaya "Chen! mengapa dia bisa ada di situ?"
"Maaf Nona Yu! aku telah membangunkan mu pagi-pagi seperti ini. Itu karena aku tidak berani membangunkan Tuan Chen dalam keadaan seperti itu. Harap Nona mengerti!"
"Ya! tak apa-apa Pak Tua Ho! aku akan segera membangunkan Chen." gadis itu tanpa menunggu persetujuan dari Huang Ho, langsung melompat ke atas atap tepat di sebelah Xu Chen. Gadis itu mendarat dengan hati-hati takut membangunkan Xu Chen.
"Baiklah Nona! aku dan Miao'er akan segera menyiapkan sarapan."
Yan Yu tak menjawab hanya menggunakan kepalanya setuju
Setelah kedua orang itu pergi, Yan Yu segera memasang senyum licik bagai penjahat jalanan "Hehehe! kau selalu mengerjaiku ini saatnya kau untuk membalas."
Namun, saat gadis itu ingin menjalankan aksinya. Tiba-tiba suara yang begitu akrab mengngagetkannya "Aku sarankan, sebaiknya kau lupakan apapun yang kau pikirkan. Karena itu tidak akan berakhir baik," Xu Chen berkata tanpa membuka mata.
Yan Yu mendengus kesal "Huh, sejak kapan kau menyadarinya?"
__ADS_1
"Meskipun aku tertidur, tetapi aku tetapi bisa memperhatikan sekelilingku," Xu Chen berkata santai.
Yan Yu kembali mendengus kesal "Aku tak peduli itu! semalam kau bilang hanya mencari angin segar, tetapi kau tidak kembali dan malah tertidur di sini! kenapa?"
"Kau sangat aneh! bertanya tetapi kau tidak peduli."
Yan Yu mendekati Xu Chen lalu duduk di sebelah pemuda itu "Jawab saja aku!"
"Huh! aku keluar lalu kesini lalu aku tertidur."
"Aku menunggumu," Yan Yu tertunduk memeluk kedua kakinya.
Xu Chen yang tak tahu ingin bereaksi seperti apa akhirnya hanya diam.
"Kau menyebalkan!" Yan Yu segera berdiri dan pergi meninggalkan Xu Chen.
"Mengapa dia tiba-tiba menjadi aneh seperti itu?" Xu Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Seperti biasa wanita sangat sulit dimengerti ya, anak bodoh!"
Xu Chen tak menjawab, tetapi pemuda itu mengangguk, setuju dengan kata-kata Gurunya.
***
Namun, reaksi yang ditunjukan Xu Chen hanya biasa-biasa saja. Ekspedisi pemuda itu bahkan tidak berubah sama sekali. Pemuda itu hanya mengatakan tidak apa-apa dan jangan memikirkan yang sudah lalu.
Dan tentu sikap Xu Chen yang tidak ngeh ini membuat bingung Yan Yu dan Huang Ho. Yan Yu sebenarnya ingin sekali protes, setidaknya ia berpikir untuk sedikit memberikan hukuman pada Huang Ho, namun apa daya semua kembali pada Xu Chen.
"Tuan Chen! apakah Tuan sudah tahu cara menghancurkan kutukan?" Huang Ho melihat suasana telah baik dan memutuskan bertanya mengenai kutukan.
Mendengar itu Xu Chen tersenyum kecil dan mengatakan bahwa sudah mengetahui cara menghancurkan kutukan, yang perlu mereka lakukan sekarang adalah pergi ke Utara dan mencari sebuah tugu. Xu Chen mengatakan hanya perlu meneteskan darahnya di tugu itu dan semua selesai, desa ini bisa terbebas dari kutukan dan dia bisa keluar dari desa itu.
Huang Ho tersenyum puasa mendengar hal itu, pria tua itu tak pernah berpikir bisa melihat dunia luar disisa umur tuanya.
"Kalau begitu Tuan Chen sebaiknya kita bergegas!" Huang Ho berkata semangat.
"Ya!" ujar Xu Chen dan Yan Yu kompak.
Mereka bertiga kini telah berjalan ke Utara hinggah akhirnya terhenti akibat dinding kabut tebal menghalangi langkah mereka.
"Tuan Chen! apa yang harus kita lakukan sekarang? apa kita perlu memasuki kabut itu?" Huang Ho menunjuk dinding kabut tebal di depannya.
"Ya! aku akan mencarinya, kalian berdua tunggulah di sini," Xu Chen melirik kedua orang di belakangnya.
__ADS_1
Perkataan Xu Chen itu berhasil mendapat penolakan keras dari keduanya, Yan Yu dan Huang Ho bersih keras ingin mengikuti Xu Chen dan membantunya. Namun Karena Xu Chen mengatakan mereka berdua hanya akan menjadi beban baginya, akhirnya Huang Ho dengan berat hati mengizinkan Xu Chen untuk masuk ke dalam kabut seorang diri.
Namun tidak dengan Yan Yu, gadis itu masih bersikeras ingin mengikuti Xu Chen kemanapun ia pergi, baginya kemanapun Xu Chen melangkah harus ada dia di belakangnya. Xu Chen sempat menolaknya beberapa kali, namun gadis itu selalu berdalih pernak melakukan ini sebelumnya, saat pertama kali memasuki desa ini.
Dengan berat hati Xu Chen akhirnya mengizinkan gadis itu untuk mengikutinya, tetapi harus terus mendengarkan perkataannya dan terus memegang ujung bajunya agar tidak ketinggalan.
Keduanya mulai memasuki hamparan kabut tebal meninggalkan Huang Ho yang hanya diam memandangi mereka dari kejauhan.
Selama berjalan beberapa saat Xu Chen tak mengatakan apapun, pemuda itu hanya terus fokus pada jalan.
"Bolehkah aku memegang tanganmu?" Yan Yu tiba-tiba berkata memecah keheningan.
"Tidak!" balas Xu Chen singkat.
Yan Yu mendengus kesal "Tcih! kau masih dingin seperti biasa!"
Xu Chen tak merespon ucapan gadis itu, ia hanya terus berjalan menyusuri kabut tebal.
"Baiklah! kita sudah sampai!"
"Huh! mana tugunya aku tidak melihatnya di manapun?" Yan Yu memperhatikan sekelilingnya namun tak menemukan tugu yang dimaksud oleh Xu Chen.
"Apa kau buta? lihat itu!" Xu Chen menunjuk ke satu arah.
"Ah, iya! tugu ini begitu kecil, jadi aku tidak melihatnya."
Xu Chen menggigit jarinya dan segera meneteskan darahnya ke tugu, lalu pemuda itu menutup mata perlahan dan mulai membaca mantra yang diajarkan oleh si Penyihir.
Bersamaan dengan Xu Chen menyelesaikan mantranya tugu menunjukan reaksi aneh. Tugu tersebut menyala terang dan menciptakan tornado kecil yang menarik semau kabut dan menyedotnya perlahan.
Diikuti itu langit mulai mendung, petir menyambar, dan angin yang bertiup kencang. Perlahan namun pasti tugu itu menarik semau kabut yang ada di desa tersebut. Namun bukan hanya itu warga yang menyaksikan kejadian aneh itu keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan fenomena alam tersebut.
"Apa yang terjadi?"
"Entahlah? tetapi lihat, kabut mulai menghilang!"
"Apa?" orang tersebut melihat ke arah kabut dan benar saja kabut perlahan menghilang.
"Ya benar! tetapi lihatlah kabut tersedot ke arah itu," menunjuk arah di mana kabut tersedot.
"Ya kau benar! segera beri tahu yang lain dan segera berkumpul di mana kabut itu tersedot."
****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote dan berikan ranting lima untuk novel ini. Itu saja See you