
"Apa kau ingin berlatih?" Yan Yu bertanya setelah mereka berdua sampai di depan bangunan yang terlihat tua.
"Hei, Chen..."
Xu Chen tak menjawab pertanyaan Yan Yu, ia hanya terus berjalan tanpa memperdulikan rentetan pertanyaan yang mengarah padanya.
Hinggah pada akhirnya Yan Yu menyerah dan kembali mengikuti Xu Chen memasuki bangunan tua tersebut.
"Lihatlah, pahlawan sudah sampai!"
"Apa? Guru sudah sampai segera bersiap untuk memberi hormat."
Tanggapan para pemuda memang berbeda-beda, ada yang memanggil Xu Chen dengan sebutan pahlawan dan pemuda-pemuda kemarin memanggil Xu Chen guru.
Hal ini tentu membuat kebingungan para pemuda. "Sejak kapan pahlawan menjadi guru?" batin para pemuda.
Tetapi mereka tak memikirkan lebih jauh hal itu, mereka segera membentuk barisan yang rapi untuk menyambut Xu Chen.
Yan Yu kaget saat melihat banyak pemuda-pemudi berbaris rapi sedang menunggu kedatangan mereka di tempa latihan kultivasi.
"Apa yang mereka lakukan di sini? apa mereka menunggu kami? tapi mengapa?" batin Yan Yu.
Saat Yan Yu ingin bertanya pada Xu Chen, tiba-tiba para murid Xu Chen yang berjumlah dua puluh orang membungkuk memberi hormat. "Hormat pada Guru!"
Yan Yu menjatuhkan rahangnya mendengar itu. Gadis itu tak pernah menyangka teryata di umur yang begitu muda Xu Chen sudah memiliki murid. Gadis itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi mulut dan otaknya terjadi sedikit kesalahan.
Bukan hanya Yan Yu, tetapi para pemuda-pemudi lain semakin bertanya-tanya mendengar hal itu, mereka bahkan menyaksikan sebagian rekan mereka menunduk memberi hormat. Mereka memang mengetahui tentang apa yang terjadi kemarin, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa rekan-rekan merak sudah menjadi murid dari pahlawan mereka.
Xu Chen memberikan kode kepada para muridnya untuk segera mengangkat kembali kepala mereka.
__ADS_1
Dengan patuh para murid segera mengangkat kembali kepala mereka, namun tetap sedikit menunduk.
Xu Chen mulai menyampaikan tujuannya, pemuda itu berkata ingin melatih semua pemuda yang berada di situ. Xu Chen belum menyampaikan tujuan sebenarnya untuk mengajak mereka semua berperang nanti, tetapi ia hanya mengatakan bahwa ilmu kultivasi dan pertemuan yang dimiliki para pemuda-pemudi sangat rendah dan ia ingin melatih mereka semua menjadi orang yang kuat dan berguna.
Ajakan Xu Chen itu tentu disambut antusias oleh pemuda-pemudi, mereka memang merasa yang dikatakan Xu Chen sangat benar, terkurung dari lahir memang membuat mereka minim akan ilmu.
Mereka semua segar berlutut dan mengucapkan sumpah bersama, prosesnya berjalan begitu cepat dan akhirnya mereka semua telah resmi menjadi murid Xu Chen.
Yan Yu tak bisa berkata-kata menyaksikan kejadian itu. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia memutuskan satu hal.
Yan Yu berlutut di depan Xu Chen lalu memberikan hormat tangan "Terima aku juga menjadi Muridmu?!" Yan Yu berkata dengan suara yang lantang, hingga semua orang yang berada di ruangan itu mendengarnya.
"Wah, jadi dia bukan kekasih Guru!?"
Para gadis mulai riuh mendengar itu.
"Kita memiliki kesempatan!?"
"Ya, dia benar!" para gadis berkata bersamaan, mereka mulai memikirkan kembali hal itu.
Xu Chen diam sesaat memikirkan apa mau menerima Yan Yu atau tidak. Pemuda itu kemudian menyuruh Yan Yu berdiri.
"Aku sangat membutuhkan kekuatan untuk berperang dengan Kekaisaran Qin nanti dan gadis ini terlihat memiliki bakat yang di atas rata-rata, jika aku melatihnya dengan benar maka dia bisa menjadi tangan kananku!" batin Xu Chen.
Xu Chen berpikir begitu bukan tanpa alasan, Yan Yu sebaya dengannya mungkin hanya berbeda beberapa bulan, tetapi gadis itu telah memiliki Kultivasi yang tinggi dibandingkan dengan orang sebayanya.
"Baiklah, sekarang kau adalah muridku!" Xu Chen berkata tanpa menoleh ke arah Yan Yu.
"Wah, benarkah?!" Yan Yu begitu girang ia bahkan hampir memeluk Xu Chen, jika tidak hentikan oleh tatapan dingin pemuda itu.
__ADS_1
"Hehe, hore!" Yan Yu tertawa dengan canggung.
Xu Chen kemudian menyuruh Yan Yu untuk bergabung dengan barisan para gadis. Tetapi meskipun sudah menjadi murid Xu Chen, sifat gadis itu tak berubah sama sekali. Ia protes tak ingin berdiri di barisan para gadis, ia mengatakan hanya ingin berdiri di samping Xu Chen saja.
Xu Chen dibuat sangat frustasi dengan sikap Yan Yu yang tidak berubah, semua wibawa dan kehormatan yang ia bangun di depan para pemuda seketika runtuh akibat sikap Yan Yu.
Xu Chen memasang wajah datar tanpa ekspresi, membuat Yan Yu segera lari kocar kacir memasuki barisan para gadis. Yan Yu tahu jika Xu Chen memasang wajah datar tanpa ekspresi itu artinya ia marah dan Yan Yu juga tahu marahnya pemuda itu tidak biasa.
Semua yang melihat tingkah Yan Yu dan Xu Chen ingin sekali tertawa, bagi mereka itu sangat lucu, tetapi dengan sekuat tenaga mereka menahannya. Karena orang yang melakukan tingkat lucu itu adakah sosok yang begitu mereka hormati. Apalagi yang telah melihat kemampuan Xu Chen kemarin mereka tak tahu apa yang akan terjadi jika mereka tertawa, tetapi satu hal yang pasti itu tidak akan berakhir baik.
"Baiklah, semua sudah pada posisinya. Sebelum melatih kalian aku ingin bertanya...!" Xu Chen tak melanjutkan kata-katanya.
"Ah, tetapi sebelum bertanya aku ingin kalian menatap mataku dan jangan banyak bertanya!?"
Xu Chen menatap tajam pemuda-pemudi yang berbaris rapi di depannya.
Para pemuda-pemudi menelan ludah mendapat tatapan tajam Xu Chen. Mereka sebenarnya tak ingin menatap mata Xu Chen, karena takut akan tatapan Xu Chen yang begitu tajam dan bola mata hitamnya seolah-olah akan membuat siapapun merasa jatuh dalam lubang yang tak berujung.
Tetapi mau tidak mau mereka harus menatapnya, kerena itu adakah perintah dari guru mereka.
Tak selang beberapa lama banyak yang jatuh pingsan dari mereka, tak sanggup menahan tatapan yang Xu Chen berikan. Tapi tak sedikit juga yang bisa bertahan, tetapi meskipun bisa bertahan terlihat mental mereka sangat lemah dan tidak ada yang bisa berdiri tegak dari mereka semua.
Yan Yu bahkan sudah terduduk lemas, wajahnya terlihat penuh dengan garis-garis kecemasan, gadis itu tak pernah menyangka mata yang biasa ia tatap teryata sangat berbahaya. "Apa tadi itu? apa itu ilusi?!" Yan Yu berkata dengan nafas yang terengah-engah.
Xu Chen memang memasukan ilusi lewat tatapannya kepada para pemuda-pemudi, hal itu ia lakukan untuk mengetes mental mereka, sejauh mana mereka bisa bertahan dihadapkan dengan ketakutan terbesar mereka.
Yang bisa bertahan tidak akan pingsan mungkin paling ringan mental mereka akan sedikit terluka, sedangkan yang pingsan sudah jelas tak bisa bertahan dari ketakutan mereka.
Sejauh ini Xu Chen sudah mengetahui mana yang memiliki mental sekuat baja dan mana yang memiliki mental kerupuk.
__ADS_1
...****...
Support author dengan Like/Komen, vote, rate.